Selasa, 17 Agustus 2021

Lettergieterij Amsterdam di Batavia: Berkunjung ke Grafische Tentoonstelling

Pada 1941, Lettergieterij „Amsterdam” voorheen N. Tetterode (klik untuk membaca tulisan sebelumnya) cabang Batavia/Jakarta mengadakan pameran grafis, produk periklanan, dan alat-alat percetakan. Kita beruntung dokumentasi mengenai acara ini dapat kita akses secara bebas melalui situs Digital Collections, Perpustakaan Universitas Leiden. Mari kita berkunjung ke masa lalu dan melihat-lihat apa saja yang dipamerkan dalam acara ini.

Para pengunjung menyimak pidato (mungkin pidato pembukaan pameran).

Suasana pameran, terlihat banyak poster ditempelkan di dinding. Naraäksara berhasil mengenali beberapa poster yang dipamerkan dan akan menampilkan beberapa di bawah ini.

Kiri: Poster promosi KPM (Koninklijke Paketvaart Maatschappij), perusahaan pelayaran Belanda yang pernah berpusat di Batavia [sumber Mad on Collections]. Kanan: Poster iklan Planta Margarine (tidak ditemukan versi berwarnanya) [sumber Desain Grafis Indonesia].

Iklan promosi pariwisata Hindia Belanda untuk Pulau Jawa dan Pulau Sumatra. Poster See Java menggunakan gambar candi (mungkin Candi Prambanan) dan siluet patung Buddha [sumber gambar Pinterest], sedangkan poster See Sumatra menggunakan gambar tarian perang Nias, Fataele [sumber gambar Pinterest].

Kiri: Poster iklan untuk Kris Bier menampilkan gambaran keris dan segelas bir [sumber gambar Pinterest]. Kanan: Iklan obat kina dengan bahasa dan aksara Jawa berbunyi, "Umur kula panjang, sabab salaminipun nedha tablèt Kinine. Jampi sakit malaria(h) lan inpluènsa(h)." Perusahaan tertera N.V. Bandoengsche Kininefabriek [sumber gambar Eka Angkasawan].

Kiri: Poster pariwisata Bali dengan gambaran Sasolahan Calonarang yang menampilkan sesosok Rangda dan seorang penari. Kanan: Beberapa poster lainnya yang belum teridentifikasi.

Sejumlah produk cetak yang juga dipamerkan: terlihat kartu ucapan, kalender, brosur, dan label.
Foto bersama di depan gedung pameran.

Jumat, 13 Agustus 2021

Lettergieterij Amsterdam di Batavia: Sepintas Lalu

Indonesia, meski memiliki banyak aksara asli, setia menggunakan aksara Latin dalam segala urusan literasinya, mulai dari label informasi nilai gizi hingga baliho raksasa di jalan raya. Di pentas Asia, Afrika, dan Eropa, hal ini telah menjadikan Indonesia sebagai negara pengguna aksara Latin terbesar. Sementara itu, jika diukur dari seluruh negara di dunia, Indonesia menduduki peringkat kedua setelah Amerika Serikat. Aksara daerah, seperti aksara Jawa, Sunda, dan Bugis, memegang peran yang sangat terbatas, tetapi tidak bisa dikatakan hilang sama sekali.

Sebagai pasar aksara yang besar dan, sampai pada titik tertentu, beragam, Indonesia memiliki sejarah yang panjang dan menarik. Salah satu titik yang layak untuk disorot adalah ketika sejumlah perusahaan percetakan didirikan di Hindia Belanda. Pada paruh kedua abad ke-19, puluhan surat kabar terkemuka lahir di berbagai kota besar di Hindia Belanda dengan mutu cetakan yang semakin baik dan bahasa yang bermacam-macam. Pada tahun 1870 saja, terdapat setidaknya 107 percetakan di seluruh Hindia Belanda (Departemen Penerangan Republik Indonesia, 1995:207-208). Besarnya industri penerbitan dan percetakan di tanah air ini membuka kesempatan bagi pemasok mesin cetak dan desain huruf Eropa untuk memasarkan dagangannya di Hindia Belanda.

Peti-peti kiriman bertuliskan Lettergieterij „Amsterdam” v/h Tetterode tiba di pelabuhan Batavia/Jakarta [gambar via Librariana].

Peluang ini telah dilihat sendiri oleh Tetterode, pendiri Lettergieterij Amsterdam, ketika melawat ke negeri jajahan, Hindia Belanda, dan negeri-negeri lainnya di Asia. Lettergieterij Amsterdam atau lengkapnya Lettergieterij „Amsterdam” voorheen N. Tetterode adalah perusahaan huruf (type foundry) kenamaan Belanda yang menjadi salah satu dari dua pemain besar dalam industri desain huruf Belanda dengan Koninklijke Joh. Enschedé sebagai pesaingnya. Kemudian Lettergieterij Amsterdam di samping memproduksi beragam desain huruf aksara Latin, juga merancang berbagai desain huruf untuk menuliskan bahasa-bahasa di Timur: Tionghoa, Jepang, Jawa, Bugis-Makassar, Arab-Melayu, hingga Batak. Hal ini lantas menjadi suatu keahlian yang dikenal baik dari perusahan tersebut. Permintaan dari Landsdrukkerij di Batavia pun berhasil mereka dapatkan. Banyak percetakan-percetakan di Nusantara mendapat pasokan mesin cetak dari Lettergieterij Amsterdam. Salah satunya yang tercatat adalah Bali Simbunsya yang kini menjadi PT. Percetakan Bali dan Sekolah Tehnik Percetakan (Grafische School) Malang yang kini menjadi SMK Negeri 4 Malang.

Buku Proeven van Oostersche Schriften yang berisikan cetak pruf aksara-aksara Timur, di antaranya Tionghoa, Koptik, Ibrani, Makassar, dan Mandailing [gambar via British Library].
 

Ketampakan halaman 109 dari spesimen huruf oleh Lettergieterij „Amsterdam” voorheen N. Tetterode, 1910 [foto via Alphabettes].

 

Contoh cetakan untuk aksara Arab-Melayu [gambar via British Library] dan Batak Toba [gambar via European Collections] bikinan Lettergieterij Amsterdam.

Contoh cetakan aksara Jawa dan Tionghoa bikinan Lettergieterij Amsterdam [gambar via Wikimedia Commons].

Pada 1919, Lettergieterij Amsterdam membuka anak perusahaan di Batavia (kini Jakarta), Hindia Belanda. Jakarta merupakan satu-satunya cabang dari perusahaan ini di luar negara-negara Barat: Brussel (Belgia), New York (Amerika Serikat), dan Paris (Perancis). Meskipun demikian, hanya cabang Brusselnyalah yang memiliki alat produksi huruf sendiri, cabang lainnya berperan dalam lingkup perdagangan saja. Berselang beberapa tahun, cabang Surabaya juga dibuka sebagai perpanjangan anak perusahaan di Batavia. (Middendorp, 2004:86; Lane dan Lommen, 1998:33).

Buku tentang alat dan bahan penjilidan, di sampul menyebut beberapa cabang Lettergieterij Amsterdam: Amsterdam, Rotterdam, Den Haag, Batavia (Jakarta) dan Surabaya [gambar dari Koleksi Barang Djadoel].

Beberapa huruf keluaran Lettergieterij Amsterdam yang mungkin pernah populer di Indonesia, dicuplik dari artikel Grafika (Tjetak-mentjetak) oleh J. K. Nelwan, Mimbar Penerangan edisi Februari 1952.

Keadaan mulai berubah ketika Indonesia meraih kemerdekaan. NV Lettergieterij „Amsterdam” v/h Tetterode pada 1957 dinasionalisasi oleh Pemerintah Indonesia dan berubah nama menjadi PT Lettergieterij Amsterdam v/h Tetterode (Djojohadikusumo, 1972:228). Kemudian, berdasarkan Peraturan Pemerintah Republik Indonesia No. 71 Tahun 1961 tentang Pendirian Perusahaan Negara Sinar Bhakti, perusahaan Lettergieterij Amsterdam dilebur ke dalam PN Sinar Bhakti bersama empat perusahaan lainnya. Pada 1964, perusahaan ini dibubarkan dan dialihkan menjadi PN Dharma Niaga. Memasuki era Orde Baru, pada 1970, perusahaan ini berubah bentuk menjadi Perusahaan Perseroan (Persero) Dharma Niaga. Penggabungan perusahaan kembali terjadi pada tahun 2003, PT Dharma Niaga, PT Tjipta Niaga, dan PT Pantja Niaga dilebur di bawah satu nama PT Perusahaan Perdagangan Indonesia yang eksis hingga saat ini.

Kiri: Gedung Lettergieterij „Amsterdam” v/h Tetterode di Batavia pada 1941 ketika menyelenggarakan pameran grafis [foto oleh KITLV]. Kanan: PT PPI, Jl. Abdul Muis, Jakarta, 2017 [foto oleh Bintoro Hoepoedio].
DAFTAR PUSTAKA
  • Djojohadikusumo, Sumitro. 1972. Kebidjaksanaan di bidang ekonomi perdagangan. Jakarta: Jajasan Penjuluh Penerangan Perdagangan.
  • Departemen Penerangan Republik Indonesia. 1995. Almanak Grafika Indonesia 1995.
  • Middendorp, Jan. 2004. Dutch Type. Rotterdam: 101 Publishers
  • Lane, John A., dan Mathieu Lommen. 1998. Dutch typefounders’ specimens. Amsterdam: De Buitenkant

Sabtu, 10 April 2021

50 Pangram Bahasa Indonesia

Pangram berasal dari dua kata bahasa Yunani, παν γράμμα, pan gramma, yang berarti semua huruf. Pangram juga dapat disebut sebagai kalimat holoalfabetis, atau kalimat yang mengandung keseluruhan alfabet. Pangram adalah salah satu hal paling penting dalam pembuatan desain huruf. Pangram bermanfaat untuk menampilkan keseluruhan huruf pokok dalam alfabet, dalam hal ini aksara Latin, yaitu A sampai Z. Pengujian tampilan huruf atau pembuatan spesimen desain huruf dapat memanfaatkan pangram.

The quick brown fox jumps over the lazy dog adalah pangram berbahasa Inggris yang paling kondang di antara pangram-pangram lainnya seantero dunia. Akan tetapi, bagaimana jika hendak menyajikan sebuah pangram berbahasa Indonesia untuk para pengguna Indonesia? Dari sini lah, Naraäksara tergerak untuk mengarang sejumlah pangram dalam bahasa Indonesia, dengan catatan bebunyian yang cukup asing bagi bahasa Indonesia, seperti huruf X, V, Z dan Q, umumnya dimunculkan dalam bentuk nama orang atau tempat. Berikut ini senarai pangram bikinan Naraäksara:

  1. Wiharja mencari xilofon dan Qari yang manis pergi avontur ke Buitenzorg (61)
  2. Fauzy menjiwai xilofon dan Qari pergi avontur ke Bosscha (48)
  3. Rizal belajar xilografi ke Victoria jika Wino dan Pramudya fasih baca qudsi (64)
  4. Felix bawa vodka dan zat halogen dari Aljunied sampai Clarke Quay (55)
  5. Iqbal avontur ke Bosscha mencari zat xantofil yang Widya pinjam. (54)
  6. Zainal bahagia mencuri VW dari parkiran Roxy Square fajar tadi. (53)
  7. Xilograf yang majenun tebang pohon cemara pakai bazoka dekat kawasan bivak qari. (63; tanpa nama) 
  8. Fransiskus Xaverius membaca wahyu tentang Zabur di pojok Al-Quds. (55)
  9. Majelis qariah dan gerilyawan Batavia fokus cari zaitun sampai ke Xanadu. (62)
  10. Olahragawan fahombe yang loncat sampai zakarnya jatuh ke Queensland diliput Vox. (69)
  11. Musabaqah tajwid di paviliun Xianyang bertrofi arzak dan cindai. (55)
  12. Jika metafora syair Zubaidah apik, cegah rival Wali naik Qantas ke Xian. (59)
  13. Zacky bersama Faqih pivot jadi lokawigna di Bordeaux. (45)
  14. Pegawai favorit Ahok yang beli yuzu mencampur Extra Joss dan Aqua. (55)
  15. Axolotl punya Azwar karnivora, namun gajah bercak kesukaan Furqan tidak. (61)
  16. Vina beli wisma megah di Pekayon jika surat Flexi Razaq cair. (50)
  17. Warung pakde Qolil jual varian cutbrai XL bahan fiber ke markas Yakuza. (59)
  18. Luqman nonton wayang sampai fajar kizib pecah di bulevar Luxembourg. (58)
  19. Cahyo dan FX Karolus menggarap Avesta, Quran, Zabur, Weda, dan Injil. (54)
  20. Qomariah menjual sabun Lux dan Shinzui favorit warga supaya cantik. (57)
  21. Balqis cegah menjawab pisuhan vulgar Zayn dekat sarkofagus Xinjiang. (59)
  22. Ci Ivonne jalan di Bordeaux, tapi muzawirnya agak lebih hafal Basque. (57)
  23. Raden Syafiq cegat howitzer baja Pakualam XV. (38)
  24. Raden Syafiq juga coba howitzer Pakualam XV. (37; terpendek di daftar ini)
  25. Yazid dan Rafiqah kopdar di XXI Tanjung Pinang sambil cerita waktu vakansi. (63)
  26. Hillun jadi sowan ke festival Qatar naik Xiamen bareng Pak Fachrezy. (57)
  27. Bu Azwir ingatkan qariah Nurleni pasal ancaman di konvoi fajar Roxy. (57)
  28. Wajar Amy beli cokelat Silver Queen favorit Pak Zahir dengan naik Xenia. (60)
  29. Fachrezy vonis Bu Thirza mengidap xerosis waktu jalan di Qatar. (53)
  30. Stevador yang jahil coba fuksina dan xilol waktu qiamulail di plaza. (57; tanpa nama)
  31. Mace Fauziyah goreng jalabria di Viqueque pakai xilosa sawit. (52)
  32. Zacky coba mendengar xilofon versi pianola waktu qiraah ketujuh. (55)
  33. Wafiqah cari sejuta buku Xenoglosofilia punya Ivan di Mizan. (51)
  34. Juru xilofon tadi bonceng qariah naik vespa punya muzawir. (49; tanpa nama)
  35. Cawali taja musabaqah ziter dan xilofon di kaveling senyap. (50; tanpa nama)
  36. Rizqiyah baca pedoman zat xilena jika favorit Agus mawar. (48)
  37. Wafda Rizqiyah kaji xilem bacang satu provinsi. (40)
  38. Felix berceloteh di bivak selagi muzawir senyum pada tujuh qari. (54)
  39. Zacky pamit sorangan walau biduan Xavier hafal jalan Qatar. (50)
  40. Wak Haji menyuplai kitab naqal cetakan xerograf ke vasal negeri zirbad. (60)
  41. Zafron coba menyewa joki untuk penyaringan qariah di reservat Luxor. (54)
  42. Muzawir kaji novel Don Quixote sampai baca historiografinya. (52)
  43. Faqih dan Yazid meragukan objektivitas wacana profesor xilologi. (56)
  44. Pak Felix ganti lokakarya Universitas Cenderawasih demi ijazah Balqis. (61)
  45. Satu kawan foya Iqbal cari parkir di pojok kaveling xilolog Hamzah. (56)
  46. Marxisme Haji Misbach favoritnya Pak Luqman disunting oleh Rizwan. (57)
  47. Fawzy rakit sembilan VGA Compaq jauh di Xi'an. (37; terpendek di daftar ini)
  48. Wajar Mas Faqih observasi cadangan xenolit punya Zaki. (46)
  49. Gatotkaca beri Pergiwa zamrud hijau xifoid, asli punya Van Queen. (54)
  50. Bocah wangsa Saxon dan Franka menyusuri jalan pusat Qazvin. (50)

Lima puluh pangram oleh Naraäksara ini bebas Anda gunakan untuk keperluan apa saja, mulai dari pembuatan spesimen fontasi hingga karya seni leter. Jika Anda memiliki versi pangram sendiri, baik dalam bahasa Indonesia maupun bahasa daerah di Indonesia, silakan tuliskan di kolom komentar. Semoga bermanfaat!