Rabu, 22 Januari 2020

Lewat Ukiran Kayu, Turut Melestarikan Aksara Terancam Sedunia

Peradaban manusia telah berhasil melahirkan seratusan aksara ke dunia: salah satunya aksara Latin yang sedang Anda baca saat ini. Sebagian aksara-aksara itu berhasil melenggang langgeng hingga hari ini, sebagian yang lain telah punah ditelan kala. Di antara keduanya, terdapat berjibun aksara-aksara yang masih menimbang-nimbang nasib sendiri. Mereka ada, tetapi keberlangsungannya terancam akibat penggunaan aksara dari kebudayaan lain yang lebih kuat. Contoh yang paling nyata, aksara Latin di Indonesia menyapu keberadaan aksara-aksara daerah, seperti aksara Jawa dan Lontara, dari tempat umum dan dari buku-buku di perpustakaan. Berbagai macam upaya telah digencarkan untuk menanggulangi persoalan ini. Salah satu inisiasi yang cukup penting dipelopori oleh Tim Brookes, seorang warga Vermont, Amerika Serikat, dengan mencanangkan proyek Endangered Alphabets.
Proyek Endangered Alphabets (www.endangeredalphabets.com) berusaha untuk memberikan harapan bagi aksara-aksara terancam di seluruh dunia; mulanya melalui ukiran-ukiran indah dalam berbagai aksara pada sebongkah kayu atau perabot, kemudian sedikit-sedikit membangun kesadaran khalayak tentang betapa pentingnya melestarikan budaya-budaya yang kurang-terwakili di dunia ini.

Tim Brookes tidak memiliki latar belakang ilmu bahasa ataupun kepengrajinan, tidak pula antropologi atau kesenian. Tim adalah seorang pengarang. Suatu masa, satu hal penting terjadi pada kisaran Natal 2009: keingintahuan dan kecintaannya tentang kerajinan kayu muncul, ia lantas mencoba memberi hadiah satu papan tanda kayu mapel kepada masing-masing anggota keluarganya untuk digantung di depan rumah, kantor atau kamar. Semua orang tampak gembira dengan pemberian luar biasa itu.

Tim Brookes memperlihatkan salah satu karyanya dalam pameran LocWorld 41 di San Jose, Amerika Serikat.
Tim lantas tergerak untuk membuatnya lagi, kali ini dengan ukiran beraksara Tionghoa. Ia keranjingan membuat banyak ukiran beraksara Tionghoa kala itu sampai-sampai ia kehabisan ide untuk proyek-proyek selanjutnya. Pikirnya, Ia mungkin akan mulai dengan bahasa baru, yakni Malayalam dari India Selatan. Pencarian kilat di Google tentang aksara ini mengantarkannya pada Omniglot.com. Tim lalu terpana, betapa melimpahnya aksara-aksara di dunia yang belum pernah ia lihat. Hal tersebut membuatnya sadar bahwa sesungguhnya ada puluhan aksara-aksara lain di dunia ini yang ia belum ketahui kemolekannya.

Sebagai seorang penulis kisah perjalanan, Tim merasa telah melihat cukup banyak aksara dunia. Akan tetapi, Omniglot berhasil membukakan matanya terhadap banglasnya panorama baru, ia menyaksikan serentetan daya cipta aksara yang belum pernah ia jumpai sebelumnya. Sepengamatannya, pancarona aksara yang ia temukan di sana tampak lebih seperti hiasan rumit daripada sebuah tulisan. Beberapa terlihat bak barisan semak berduri, beberapa lainnya tampak begitu asing, beberapa lagi tampak seperti bukan hastakarya manusia. Dari sana ia sadar bahwa sebagian besar aksara-aksara itu sedang terancam keberadaannya.

Tim memutuskan untuk mengukir sepuluh karya kayu bertuliskan isi "Pasal 1 Pernyataan Umum tentang Hak-Hak Asasi Manusia", sebuah teks contoh paling umum di Omniglot, dalam sepuluh aksara yang dianggapnya paling rentan musnah. Tahun 2010, Ia berhasil menyelenggarakan pameran pertamanya di beberapa perguruan tinggi, perpustakaan dan galeri. Masyarakat mulai penasaran dengan apa yang dilakukan Tim dengan kayu dan ukiran aksaranya. Mereka mulai membicarakannya, memberitakannya dan memfilmkannya. Hal ini mulai menyadarkan awam tentang pentingnya pelestarian bahasa dan aksara minoritas.

Ukiran berbahasa Ojibwe oleh Tim Brookes
Aksara Inuktitut, aksara silabis orang-orang pribumi di sekitaran Kanada Timur, ialah aksara terancam pertama yang Tim ukirkan pada kriya kayunya. Tim tidak menyangka bentuk-bentuk aksaranya yang geometris menjadi kesulitan tersendiri ketika diukirkan pada media kayu. Aksara tersebut harus memiliki ketepatan dan keseragaman bentuk, yang mana tangan manusia tidak dirancang untuk menggarap hal semacam itu secara alamiah.

Pameran yang diselenggarakan proyek Endangered Alphabet di Montgomery Center for the Arts.
Pada tahun 2012, proyek Endangered Alphabets menemukan arah barunya: dari yang sebelumnya sekadar berusaha menarik perhatian khalayak ramai supaya sadar akan isu kepunahan aksara, proyek Endangered Alphabets lantas melakukan hal-hal lebih nyata, yaitu untuk turut menanggulanginya. Hal ini dilakukan sejak bekerja sama dengan Maung Nyeu, seorang warga negara Bangladesh yang peduli dengan keberadaan bahasa-bahasa minoritas di daerahnya. Kerja sama ini berupa penciptaan materi pendidikan, seperti buku cerita dan permainan papan, dalam bahasa dan aksara yang terancam hilang.

Ukiran beraksara Jawa karya Tim Brookes, terbaca "pakaryan kang becik", yang artinya "pekerjaan yang baik".


Ukiran beraksara Jawa pada kayu mapel oleh Tim Brookes, rancangan tipografi oleh Aditya Bayu Perdana.
Tulisan berasal dari sebagian Pupuh 11 Seloka 82 Kakawin Ramayana, "Mĕtu ta bhaṭāra Śaśāngka sateja ring udayaparwata bhāswara rāmya kadi anumoda tumon sira mopĕk suluh ikanang daśadeśa ya māwā." yang berarti "Bulan terbit di bukit timur; terang dan anggun, seakan mengasihani Rama; melihatnya begitu terpuruk; laksana obor yang menerangi tiap sudut semesta."
Proyek Endangered Alphabets kini juga menerbitkan atlas daring untuk mendokumentasikan dan menyajikan informasi tentang aksara-aksara yang terancam punah di seluruh dunia lewat media yang lebih interaktif. Atlas ini dapat dikujungi di www.endangeredalphabets.net. Tim juga menerbitkan buku Endangered Alphabets: An Essay on Writing yang tidak hanya berkisahkan pengalaman kriyanya, melainkan juga perenungan dan pemikirannya tentang tulisan serta keterkaitannya dengan ilmu-ilmu lain. Singkatnya, Tim Brookes melalui berbagai upayanya yang telah ia tempuh selama ini punya satu tujuan pasti: mendukung masyarakat minoritas di mana pun itu untuk mendapatkan kembali jati dirinya yang terancam hilang.
Kartu permainan aksara terancam yang dikembangkan Endangered Alphabet.
Cuplikan Atlas of Endangered Alphabet, memperlihatkan persebaran aksara terancam punah di dunia.
Sebagai lembaga nirlaba, Endangered Alphabet sepenuhnya bergantung pada mereka yang peduli dan percaya akan pentingnya melestarikan budaya minoritas di seluruh penjuru dunia. Anda dapat pula mendukung gerakan ini menyumbang melalui PayPal, membeli buku atau cendera mata, memesan ukiran, atau mendukung kampanye urundana di Kickstarter. Selengkapnya dapat dipelajari di sini.

Kumpulan aksara-aksara daerah di Indonesia oleh Tim Brookes.
Kepada Naraäksara, Tim berpesan kepada seluruh masyarakat Indonesia yang peduli akan kelestarian aksara daerah untuk sadar bahwasanya masa depan kebudayaan bisa dipengaruhi dan bisa diarahkan. Tidak ada lagi yang berkata "bahasa sekarat" atau "aksara gagal" seperti hal tersebut tidak memiliki pilihan atau merupakan suatu keadaan yang tak terhindarkan. Indonesia khususnya memiliki keadaan yang menarik sebagaimana banyak orang yang terjun meneroka aksara tradisional melalui kesenian. Orang-orang ini telah berhasil memamerkan aksara-aksara tersebut ke dalam wujud yang kentara. Mempertunjukkan kecantikannya dan kemungkinan penggunaanya membuat aksara-aksara tampak jauh lebih hidup.
_________________________________________________

Seluruh foto dalam artikel ini diambil dari akun Instagram Endangered Alphabet @endangeredalphas, akun Twitter @EndangeredAlpha dan situs webnya. Hak cipta gambar-gambar tersebut dalam kepemilikan Endangered Alphabet/Tim Brookes.

0 komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.