Jumat, 07 Januari 2022

Kesalahan Umum dalam Merancang Desain Dwibahasa

Umumnya masyarakat Indonesia mampu berbicara dalam dua atau tiga bahasa, yakni bahasa daerah tempat mereka tumbuh, bahasa Indonesia yang dipelajari lewat sekolah dan media massa, serta tambahannya ialah bahasa asing, entah itu bahasa Inggris ataupun bahasa asing lainnya. Kenyataan ini sedikit banyak juga tercermin dalam bahasa tulis, sehingga contoh-contoh kedwibahasaan—atau ketribahasaan—dalam dunia desain grafis Indonesia juga tak jarang dijumpai.

Sebuah persoalan kemudian muncul ketika seorang desainer grafis dihadapkan dengan permintaan desain yang harus tersedia dalam dua atau tiga bahasa. Tentu permintaan ini bukanlah permintaan biasa yang umumnya hanya terdiri dari satu bahasa saja, mungkin hanya bahasa Indonesia atau hanya bahasa Inggris. Banyak desainer grafis kemudian memperlakukan tulisan yang berbeda bahasa ini selayaknya suatu bahasa yang sama. Hal ini bisa jadi memunculkan rancangan-rancangan yang wagu dan kurang sedap dibaca. Sejumlah kesalahan umum yang dilakukan dalam merancang desain dwibahasa dan bagaimana kiat menghindarinya akan diuraikan dalam paparan-paparan kilat berikut.

Menggunakan Tanda Kurung
Sebagian desain grafis menggunakan tanda kurung atau tanda baca lainnya (biasanya tanda miring / atau tanda pisah -) untuk menyekat bahasa kedua, sehingga terlihat terpisah dari bahasa utama. Hal ini merupakan kesalahan lumrah yang barangkali terbawa dari kebiasaan-kebiasaan penulisan dokumen. Atau, desainer grafis melihat permintaan desain dengan tulisan isi yang masih mentah menggunakan tanda kurung tersebut. Lantas ia meneruskan penggunaannya pada media desain yang lain untuk keperluan pampangan (display) yang sesungguhnya mempunyai kebiasaan tata letak agak berbeda. 

Kiri: Gerbang keberangkatan Bandara Halim Perdana Kusuma via BeritaTrans. Kiri: Gerbang Keberangkatan Bandara Lombok via Detik.
Untuk menunjukkan bahwa kedua tulisan adalah bahasa yang berbeda, cara yang bisa ditempuh cukup sebatas pemberian ruang kosong di antaranya keduanya, pembedaan letak, pembedaan gelap-terang yang halus, pembedaan warna, atau pembedaan format tipografi tulisan. Garis tipis kadang juga bisa dimanfaatkan untuk memberi jarak yang jelas antarbahasa. Hal ini utamanya penting untuk pembuatan papan tanda yang bersifat kedaruratan yang butuh dibaca dengan cepat; juga ketika kedua bahasa yang ditampilkan menggunakan aksara yang sama, misalkan bahasa Indonesia dan bahasa Belanda sama-sama menggunakan aksara Latin.

Tidak Menampilkan Hubungan Antarbahasa yang Sesuai
Menampilkan bahasa-bahasa yang berbeda pada sebuah bidang desain biasanya terkikat oleh peraturan tertentu, baik dalam tingkat nasional maupun regional. Desainer grafis umumnya harus memproduksi rancangan yang sesuai dengan aturan-aturan itu.

Kiri: Plang Bank BRI di Bali. Kanan: Papan nama toko KFC di Brunei.
Menampilkan Jenjang
Banyak negara yang memiliki bahasa-bahasa yang beraneka ragam memiliki aturan bahasa yang ketat. Sebagai contoh di Indonesia, Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 63 Tahun 2019 tentang Penggunaan Bahasa Indonesia mewajibkan penggunaan bahasa Indonesia untuk keperluan iklan, papan tanda dll. yang dapat didampingi dengan kehadiran bahasa daerah atau bahasa asing, sehingga kehadiran materi desain dalam bahasa daerah atau bahasa asing saja menjadi tidak sesuai dengan peraturan tersebut. Di Brunei Darussalam, aksara Jawi wajib dicantumkan di papan tanda, plang toko, dll. dalam ukuran yang lebih besar daripada aksara Latin, dengan warna yang lebih jelas daripada aksara Latin dan diletakkan di atas aksara Latin. Hal ini seakan hendak mengukuhkan kedudukan bahasa Melayu-Jawi di atas bahasa asing Inggris-Latin. Hal itu memiliki kemiripan dengan peraturan daerah di Bali yang mewajibkan penggunaan serta peletakan aksara Bali di atas aksara Latin pada papan nama kantor dan fasilitas umum, sekalipun ukuran tulisan masih bisa dikompromikan selama masih tampak berimbang satu sama lain.

Menampilkan Kesetaraan
Ada kalanya, bahasa-bahasa dalam suatu wilayah diatur agar memiliki kedudukan yang kurang lebih setara, seperti bagaimana kebijakan bahasa Singapura (bahasa Inggris, bahasa Melayu, bahasa Tamil, dan bahasa Tionghoa) atau kebijakan bahasa Selandia Baru (bahasa Inggris dan bahasa Maori). Kesetaraan ini juga harus diwujudkan dalam desain grafis. Pengaturan format teks yang berbeda akan menimbulkan kesan bahwa salah satu bahasa dianggap lebih unggul daripada bahasa yang lain. Misalnya, orang akan menganggap suatu desain tidak adil jika pilihan bahasa Inggris dicetak tebal (sehingga lebih menonjol), sedangkan pilihan bahasa Maori dicetak tipis (sehingga kurang menonjol). Hal itu bisa dianggap mengisyaratkan adanya upaya mengesamping hak ekspresi kebudayaan suatu komunitas di atas komunitas lainnya. Oleh sebab itu, kedua tampilan bahasa harus diformat secara sama baik dari segi ukuran, gelap-terang, pemilihan fontasi, dll. bahkan penataan teks yang direkomendasikan ialah secara sejajar menyamping, bukan menurun. 

Masalah Keterbatasan Area Rancangan
Salah satu momok dalam mendesain sesuatu adalah keterbatasan area rancangan. Desainer grafis perlu mencoba-coba berbagai cara untuk memberikan titik temu paling masuk akal antara permintaan desain, luas area rancangan, dan konsistensi dari keseluruhan gaya dan gagasan desain. Banyak contoh desain yang dapat kita temui di kehidupan sehari-hari telah mengorbankan salah satu unsurnya sehingga tampak kurang memanjakan mata. Satu yang paling umum adalah ‘menggeprek’ teks demi mengepaskan tulisan dengan area rancangan yang tersedia sehingga proporsi bawaannya menjadi penyok tidak keruan.



Setidaknya terdapat tiga unsur yang patut Anda seimbangkan ketika merancang desain multibahasa: (1) tulisan isi dari permintaan desain, (2) luas area rancangan yang tersedia, dan (3) konsistensi terhadap gaya desain. Upaya-upaya yang mungkin bisa ditempuh ketika menjumpai permasalahan keterbatasan ini berangkat pada tiga unsur tersebut dan pemilihan unsur apa yang paling masuk akal untuk ‘dikorbankan’ alias dikompromikan.

Perbedaan Gaya Fontasi Antaraksara
Ketika bekerja dengan desain dwibahasa, tak jarang kita berhadapan dengan desain dwiaksara pula. Desainer-desainer grafis di Yogyakarta dan Bali mungkin lebih berpengalaman berhadapan dengan rancangan dwiaksara ketimbang daerah-daerah lain di Indonesia, sebab penggunaan kembali aksara Jawa dan aksara Bali sedang digencarkan.

Salah satu contoh papan peringatan yang baik dengan masing-masing aksaranya (Latin-Tionghoa-Tamil) memiliki gaya yang setipe, yaitu berkesan modern, tanpa kontras atau ciri-ciri kaligrafis. Walaupun mungkin beberapa tulisan tampak sedikit penyet.
Satu hal yang mungkin menjadi sandungan ketika melakukan rancangan-rancangan dwiaksara adalah tidak adanya banyak gaya yang tersedia untuk aksara-aksara daerah. Satu contoh saja, di Bali terdapat banyak materi dwiaksara. Tulisan bahasa Indonesia beraksara Latin banyak dicetak dalam fontasi bergaya nirkait, sebut saja Helvetica, yang mampu memberikan kesan modern, tetapi fontasi aksara Bali kebanyakan hanya tersedia dalam gaya kaligrafisnya saja sehingga ketika keduanya dipadukan visualnya terasa sedikit timpang. Seakan-akan bahasa yang beraksara Latin pembawa kemodernan dan aksara Bali tetap tinggal di dunia tradisi. Hal itu sah-sah saja jika memang ingin memberi kesan etnik dengan menyorot identitas adat dan kesenian turun-temurun. Akan tetapi, jika digunakan untuk reklame rumah makan cepat saji kekinian atau papan nama perkantoran, tentu ada keputusan desain yang lebih baik daripada itu. Untung saja dalam satu dasawarsa ini, semakin banyak fontasi bergaya modern yang lahir, misalnya Noto Sans Balinese generasi kedua, dan boleh digunakan oleh sesiapa saja.

Komputer Tidak Mendukung Aksara Tertentu
Tentu tofu—alias tahu—lambang 􏿮 adalah mimpi buruk bagi mereka yang mendesain dwiaksara, atau sekedar sama-sama aksara Latin tetapi menggunakan diakritik khusus seperti â (a caping) dalam bahasa Madura atau ŵ (w caping) dalam bahasa Nias. Lambang tersebut berarti fontasi yang digunakan tidak memiliki karakter atau aksara tersebut. Oleh karena itu, seorang desainer juga harus memberikan perhatian dalam proses cetak atau pembuatan materi dwibahasa, apakah tulisan-tulisan khususnya akan dikerjakan dengan tepat di tempat percetakan.