Tuesday, July 5, 2016

Dari Kriya Menjadi Karya

Sebelumnya dalam tulisan Dua Arah Inspirasi, diketahui bahwa inspirasi dalam mendesain bentuk huruf datang dari dua arah, yakni dengan melihat huruf dan melihat yang bukan huruf. Dalam perancangan fontasi dengan ilham dari sesuatu yang bukan huruf, perancang-perancang Indonesia tidak pernah kehabisan sumber inspirasi.

Kekayaan rupa Indonesia tersebar dari Sabang sampai Merauke, dari Miangas sampai pulau Rote. Jumlah suku di Indonesia yang mencapai ratusan menandakan pula banyaknya khazanah budaya rupa yang dimiliki oleh orang-orang Indonesia. Masing-masing suku tersebut tentu memiliki jati diri dan ciri khas dalam mewujudkan gagasan-gagasan melalui seni rupa, entah itu seni bangunan, ukir, pahat, lukis, patung, atau pun kriya. 

Salah satu pembeda yang mewarnai bentang dunia tipografi dan rancang huruf di Indonesia adalah penerjemahan hasil kerajinan atau kriya menjadi sesuatu yang agak jauh dari hal tadi, yaitu desain huruf. Sejumlah perancang huruf mengambil kriya hasil kebudayaan suku tertentu di Indonesia˗˗ pada umumnya suku dimana si desainer berasal˗˗untuk diejawantahkan menjadi bentuk-bentuk huruf yang tetap jelas dan terbaca.

Penerjemahan di antara benda-benda seni rupa dan desain ini menjadi mungkin karena seni rupa dan desain dipandang selayaknya manusia menggunakan bahasa. Bahasa dari seni rupa dan desain umumnya disebut dengan bahasa rupa. Bahasa rupa, selayaknya bahasa yang dipakai untuk bercakap-cakap sehari-harinya, memiliki sejumlah mutu; seperti manasuka, memiliki susunan dan beraturan.

Bahasa rupa adalah sekumpulan aturan-aturan dalam memperlakukan unsur-unsur manasuka dari seni rupa dan desain, yakni titik, garis, bidang, warna dan tekstur. Dalam hal penerjemahan kriya menjadi desain huruf ini, agaknya unsur warna tidak menjadi pertimbangan, dan cenderung mengedepankan unsur bentuk atau bidang di antara unsur-unsur yang lain.

Kecakapan inilah yang digunakan oleh para perancang huruf untuk mengalihrupakan kriya menjadi, yang tak diduga-duga, sebuah fontasi. Hal ini tentu meminta kecermatan seorang desainer dalam mengamati kedua belah rupa. Berikut ini dihadirkan sejumlah contoh alih rupa kriya [dan/atau wujud seni rupa lainnya] menjadi sebentuk fontasi; beruntun dari pengejawantahan yang paling kasap hingga yang paling halus, dalam arti derajat kekentaraan inspirasi kriya awal dalam ketampakan fontasi.

Batik Dayak Font oleh Sutrisno Budiharto, tampaknya menggunakan dasar Arial Black yang diisi dengan pola khas suku Dayak. Rancangan ini terbilang kasap karena bentuk kriya tidak memengaruhi bentuk hurufnya, melainkan sekadar isian saja. Sutrisno Budiharto juga menggunakan cara perancangan serupa untuk fontasi Batik Font dan Asmat Font.

Selembayung oleh Rafni Dewi Lestari, terinspirasi dari hiasan atap khas Melayu Riau yang sarat makna. Bentuk huruf menjadi agak sukar terbaca pada beberapa hurufnya sebab lengkung ukiran Salembayung yang cenderung dipertahankan meskipun pada huruf-huruf bersiku seperti K, L dan W.


Parangrusak terilhami oleh pola batik dengan nama yang sama. Imam Zakaria, desainernya, mengambil bentuk-bentuk dalam motif batik Parangrusak untuk kemudian diterapkan pada fontasinya ini. Pada rancangan ini, tampak kriya sudah memengaruhi bentuk huruf-hurufnya, sehingga mendapatkan kesan tengah-tengah di antara kriya batik dan fontasi pampangan (display).

 Lapiah Tigo karya Mulya Hari Vano terinspirasi dari ukiran khas Minangkabau. Lapiah Tigo berarti jalin tiga, dimana sulur-sulur tumbuhan berkelindan menjadi satu kesatuan. Mulya berhasil mendapatkan kesan Lapiah Tigonya dengan tetap mempertimbangkan kejelasan huruf.

Tapis rancangan Monica Cathlin terinspirasi dari kain khas Bandar Lampung yang memiliki pola-pola yang khas pula. Tapis terlihat sangat indah dengan aturan-aturan yang ajek; tiap tarikan utama horizontal menggunakan liku-liku, dan lalu menggunakan tarikan tipis melengkung untuk membentuk huruf.

FTF Indonesiana Bramanangkoe didesain oleh Abdul Hafiz Hilman [Fizzetica TypeFoundry Indonesia]. Penerapan inspirasi wayang dilakukan dengan cukup detail dan halus di sekujur bentuk huruf [tanpa melihat desain lowercase dengan tongkat]. Hal itu bisa dilihat pada kontras huruf, lengkungan-lengkungannya, potongan-potongan dan ujung-ujung hurufnya.

Lambang Visit Indonesia yang diprakarsai oleh Kementerian Pariwisata bekerjasama dengan tim desainer rekanan kementerian menghasilkan tipografi yang sangat patut dipuji, sebab bagaimana pun tampak ke-Indonesia-an pada bentuk huruf yang diciptakan, meskipun tidak diketahui secara langsung kriya dan hasil kesenian apa yang menginspirasi bentuk-bentuknya.

Sunday, June 26, 2016

Dua Arah Inspirasi

Dari mana datangnya inspirasi? Tidak peduli berasal dari kalangan pekerja apa, kita semua membutuhkan inspirasi untuk pikiran, kejiwaan dan daya cipta kita setiap harinya. Gagasan yang timbul dalam benak sesungguhnya tidak serta-merta lahir, melainkan ia adalah proses pengalaman dan pemahaman kita tentang dunia sekitar. Terlebih mereka yang bekerja di dunia kreatif, inspirasi adalah makanan pokok yang menenagai keberlangsungan proses berkarya.
 
Pada umumnya inspirasi dalam mendesain huruf datang dari dua arah: melihat huruf atau melihat yang bukan huruf. Banyak desainer huruf kekinian yang terilhami dari desain huruf yang sudah lampau. Biasanya mereka melakukan revitalisasi fontasi lama [biasanya masih dalam bentuk tulisan tangan atau huruf logam], kemudian menjadikannya fontasi yang berformat digital.

Hal itu banyak sekali dilakukan oleh perancang-perancang Barat; semisal revitalisasi desain huruf Caslon menjadi Libre Caslon oleh Pablo Impallari dan Rodrigo Fuenzalida atau desain huruf Garamond menjadi Adobe Garamond oleh Robert Slimbach. Hal ini membuat desain huruf lama, terlebih yang termasyhur, memiliki banyak versi digital sehingga warisan desainnya terus berkesinambungan. 

Perbandingan fisiologis pelbagai versi Garamond.
Ilustrasi dinukil dari http://barneycarroll.com/garamond.htm


Berbeda dengan revitalisasi yang bertujuan untuk mengabadikan bentuk huruf semirip mungkin dengan aslinya, desainer-desainer yang lain memilih mengambil contoh desain yang sudah ada untuk kemudian dijadikan bahan utama membuat fontasi baru dengan tambahan ciri khas yang berbeda. Bodoni mengambil banyak inspirasi dari desain huruf Didot, sebelum pada akhirnya menemukan ciri khasnya sendiri dalam desain-desainnya.

Di Indonesia, revitalisasi pernah dilakukan oleh Gumpita Rahayu melalui perancangan sebuah fontasi lama pada papan petunjuk di gedung lawas Warenhuis de Vries. Ia lantas mendigitalisasi dan melengkapi karakter-karakternya menjadi fontasi baru bernama Oud Warenhuis. Selain itu, kegiatan merevitalisasi desain huruf jalanan, atau kerap disebut tipografi vernakular, sedang mendapat perhatian di kalangan sarjana desain Indonesia. Beberapa tahun silam, sejumlah karya mahasiswa-mahasiswi DKV ITB, yang mengangkat khazanah tipografi vernakular, dipamerkan di Konferensi Tipografi Internasional di Yunani.

Sementara itu, inspirasi yang bersumber dari unsur bukan huruf bisa datang dari banyak hal: benda-benda sekitar rumah, tetumbuhan di taman, hingga barangkali hewan piaraan. Hal ini membikin desain menjadi lebih ekspresif. Pada zaman Art Nouveau, alam sangat dipuja. Desain huruf biasanya dirancang berdasarkan lekuk-lekuk yang dijumpai di alam, seperti kembang atau sulur-sulur. Hal ini menghasilkan bentuk huruf yang begitu berbeda dari masa-masa sebelumnya.

Fruitygreen, salah satu fontasi gubahan Andy AW. Masry, secara halus terinspirasi dari bentuk buah-buahan. Beberapa fontasi lain, didesain mendekati bentuk inspirasi aslinya. Contohnya adalah fontasi Rambut Kusut oleh Rio Suzandy yang terinspirasi dari rambut yang awut-awutan dan fontasi Circuit Board oleh Budi Purwito yang terilhami dari desain papan sirkuit cetak.

Huruf "K" dalam fontasi Rambut Kusut oleh Rio Suzandy
Beberapa desainer Indonesia bahkan berhasil mengubah khazanah budaya setempat menjadi bentuk-bentuk huruf yang elok dan istimewa. Rumah tradisional Gadang telah menginspirasi Suryo Wahono dalam merancang fontasi Minangkabau dan Ananda A. Ramadhani dalam merancang fontasi Rugamika. Begitu pula dengan fontasi Parangrusak oleh Imam Zakaria dan Tapis oleh Monica Cathlin; masing-masing fontasi terinspirasi dari kriya dengan nama yang sama.