Rabu, 17 Agustus 2022

25 Pepatah Jawa dengan Arti dan Aksara Jawa IV

Pepatah atau peribahasa Jawa mencerminkan kearifan lokal budaya Jawa yang kaya. Pepatah-pepatah ini mencakup nilai-nilai kesusilaan, kebijaksanaan, dan nasihat yang berhubungan dengan kehidupan sehari-hari. Pepatah Jawa sering kali mengajak pendengar atau pembaca untuk merenungkan tindakan, sikap, atau keputusan mereka. Mari kenali 25 pepatah atau peribahasa Jawa berikut ini.


꧋ꦲꦭ​ꦧꦼꦭꦺꦴ​ꦧꦼꦕꦶꦏ꧀ꦗꦫꦤ꧀꧉​

Ala belo becik jaran.
Jelek anak kuda bagus kuda dewasanya.
— Seseorang yang masih anak-anak terlihat jelek ketika dewasa mungkin saja akan terlihat rupawan. Banyak orang yang mulai terlihat cantik/tampan ketika sudah melewati masa puber.


꧋ꦲꦭꦶꦁ​​ꦲꦭꦶꦁ​​ꦒꦺꦴꦝꦺꦴꦁ​​ꦮꦫꦶꦔꦶꦤ꧀꧉​

Aling-aling godhong waringin.
Bersembunyi di balik daun beringin.
— Seseorang yang berdalih atau menutupi sesuatu tetapi menggunakan alasan-alasan yang tidak meyakinkan atau tidak masuk akal.


꧋ꦲꦤ​ꦱꦺꦛꦶꦛꦶꦏ꧀ꦢꦶꦢꦸꦩ꧀ꦱꦼꦛꦶꦛꦶꦏ꧀​ꦲꦤ​ꦲꦏꦺꦃ​ꦢꦶꦢꦸꦩ꧀ꦲꦏꦺꦃ꧉​

Ana sethithik didum sethithik, ana akèh didum akèh.
Ada sedikit dibagikan sedikit, ada banyak dibagikan banyak.
— Penggambaran kepemimpinan yang adil dan jujur dengan membagikan hasil sesuai dengan banyaknya hal yang didapatkan (tidak melakukan korupsi atau semacamnya).


꧋ꦕꦼꦧ꧀ꦭꦺꦴꦏ꧀ꦲꦭꦸ꧉​

Ceblok alu.
Jatuh alu.
— Bekerja sama untuk suatu tujuan dengan cara berganti-gantian dalam bekerja.


꧋ꦢꦒꦁ​​ꦠꦸꦤ​ꦲꦤ꧀ꦢꦸꦩ꧀ꦧꦛꦶ꧉​

Dagang tuna andum bathi.
Berdagang rugi, membagikan laba.
— Seseorang yang tidak mementingkan keuntungan, melainkan mementingkan beramal dan berderma kepada orang banyak.


꧋ꦢꦺꦴꦚ​ꦲꦺꦴꦫ​ꦩꦸꦁ​​ꦱꦒꦺꦴꦝꦺꦴꦁ​​ꦏꦺꦭꦺꦴꦂ꧉​

Donya ora mung sagodhong kélor.
Dunia tidak hanya seluas daun kelor.
— Dunia itu tidaklah sempit. Jangan berputus asa karena dunia memiliki banyak pilihan, banyak kesempatan, dan banyak harapan.


꧋ꦢꦸꦒꦁ​​ꦢꦼꦩꦁ​꧈​​ꦲꦺꦱꦼꦩ꧀ꦩꦤ꧀ꦠꦿꦶ꧈​​ꦱꦼꦩꦸ​ꦧꦸꦥꦠꦶ꧉​

Dugang demang, èsem mantri, semu bupati.
Tendangan demang, senyuman mantri, raut wajah bupati.
— Semakin tinggi pangkat atau kedudukan seseorang, maka cara berkomunikasinya semakin terhormat dan semakin halus.


꧋ꦒꦒꦃꦏꦗꦶꦧꦃ​ꦩꦶꦁ​ꦏꦸꦃ​ꦏꦠꦼꦩ꧀ꦥꦸꦃ꧉​

꧋ꦱꦒꦃꦏꦗꦶꦧꦃ​ꦩꦶꦁ​ꦏꦸꦃ​ꦏꦠꦼꦩ꧀ꦥꦸꦃ꧉​

Gagah/sagah kajibah mingkuh katempuh.
Karena kuat/menyanggupi terkena kewajiban, karena menghindar terkena tanggung jawab.
— Seseorang yang awalnya sudah menyanggupi mampu mengerjakan suatu pekerjaan harus menyelesaikan pekerjaan tersebut sampai tuntas.


꧋ꦒꦗꦃ​ꦥꦼꦫꦁ​​ꦏꦫꦺꦴ​ꦒꦗꦃ꧈​​ꦏꦚ꧀ꦕꦶꦭ꧀ꦩꦠꦶ​ꦲꦶꦁ​​ꦠꦼꦔꦃ꧉​

Gajah perang karo gajah, kancil mati ing tengah.
Gajah berperang dengan gajah, kancil mati di tengah.
— Ketika orang besar berseteru dengan orang besar lainnya untuk memperebutkan kekuasaan, pengaruh, atau wilayah, maka yang akan tertimpa musibah adalah rakyat kecil yang sebenarnya tidak punya urusan dengan perseteruan tersebut.


꧋ꦒꦶꦫꦶ​ꦭꦸꦱꦶ​ꦗꦤ꧀ꦩ​ꦠꦤ꧀ꦏꦼꦤ​ꦲꦶꦔꦶꦤ꧀ꦤ꧉​

Giri lusi janma tan kena ingina.
Gunung, cacing, dan manusia tidak boleh dihina.
— Jangan menghina siapapun, baik yang terlihat seperti orang besar maupun yang terlihat seperti orang kecil.


꧋ꦒꦸꦪꦺꦴꦤ꧀ꦥꦫꦶꦏꦼꦤ꧉​

Guyon parikena.
Candaan tetapi mengena.
— Candaan yang sebenarnya mengisyaratkan sindiran atau petuah yang bermanfaat.


꧋ꦏꦭꦃ​ꦕꦕꦏ꧀ꦩꦼꦤꦁ​​ꦕꦕꦏ꧀꧉​

Kalah cacak menang cacak.
Kalah dicoba menang dicoba.
— Setiap pekerjaan sebaiknya dicoba sebaik mungkin terlebih dahulu, tidak perlu terlalu khawatir hasil akhirnya akan menang atau kalah, untung atau rugi.


꧋ꦏꦪ​ꦱꦸꦫꦸꦃ꧈​​ꦭꦸꦩꦃ​ꦏꦸꦫꦼꦧ꧀ꦧꦺ​ꦧꦺꦢ꧈​​ꦪꦺꦤ꧀ꦒꦶꦤꦼꦒꦼꦠ꧀ꦥꦝ​ꦫꦱꦤꦺ꧉​

Kaya suruh, lumah kurebé béda, yèn gineget padha rasané.
Seperti sirih, meski sisi bawah dan atasnya berbeda (warna), jika digigit rasanya sama saja.
— Walaupun satu dan lain hal tampak berbeda, namun pada hakikatnya adalah sama. Hal ini dapat diumpamakan juga dengan suami dan istri yang memiliki pola pikir berbeda, tetapi apapun yang terjadi di rumah tangga akan sama-sama dirasakan oleh kedua belah pihak.


꧋ꦭꦸꦮꦶꦃ​ꦧꦼꦕꦶꦏ꧀ꦥꦒꦼꦂ​ꦩꦁ​ꦏꦺꦴꦏ꧀ꦠꦶꦤꦶꦩ꧀ꦧꦁ​​ꦥꦒꦼꦂ​ꦠꦺꦩ꧀ꦧꦺꦴꦏ꧀꧉​

Luwih becik pager mangkok tinimbang pager témbok.
Lebih baik pagar mangkuk daripada pagar tembok.
— Keamanan masyarakat akan terwujud dengan baik jika satu sama lain saling membantu dan bertetangga dengan rukun, bukan dengan meninggikan dan memperkokoh pagar rumah.


꧋ꦭꦸꦁ​​ꦭꦸꦔꦤ꧀ꦥꦸꦁ​ꦒꦼꦭ꧀ꦏꦶꦢꦁ​​ꦥꦲꦸꦭ꧀꧉​

Lung-lungan punggel kidang paul.
Tanaman merampat sudah putus kijangnya kembali.
— Sesuatu yang sudah berkurang biasanya akan berkurang lagi.


꧋ꦩꦠꦶ​ꦱꦗꦿꦺꦴꦤꦶꦁ​​ꦲꦸꦫꦶꦥ꧀​​ꦲꦸꦫꦶꦥ꧀ꦱꦗꦿꦺꦴꦤꦶꦁ​​ꦥꦠꦶ꧉​

Mati sajroning urip, urip sajroning pati.
Mati di dalam hidup, hidup di dalam mati.
— Ajaran untuk mengesampingkan keduniawian dan mengutamakan kepentingan yang bersifat rohani atau jiwa.


꧋ꦩꦺꦴꦩꦺꦴꦁ​꧈​​ꦩꦺꦴꦩꦺꦴꦂ꧈​​ꦩꦺꦴꦩꦺꦴꦠ꧀꧉​

Momong, momor, momot.
Mengasuh, bergaul, menampung.
— Tiga mutu kepemimpinan, yakni mampu mengasuh dan membimbing, mampu bergaul dengan masyarakat, dan mampu menampung segala masukan, keluh kesah, dan permasalahan yang dihadapi masyarakat.


꧋ꦔꦁ​ꦱꦸ​ꦧꦚꦸ​ꦲꦶꦁ​​ꦏꦿꦚ꧀ꦗꦁ​꧉​

Ngangsu banyu ing kranjang.
Mengambil air menggunakan keranjang.
— Seseorang yang belajar tetapi ilmunya tidak dipraktikkan.


꧋ꦤꦿꦶꦩꦲꦶꦁꦥꦤ꧀ꦢꦸꦩ꧀꧉​

Nrima ing pandum.
Menerima yang dibagikan.
— Menerima dengan lapang dada segala hal yang baik atau buruk, dalam ukuran yang banyak maupun sedikit, karena semua telah digariskan oleh Tuhan YME.


꧋ꦥꦸꦚ꧀ꦗꦸꦭ꧀ꦲꦶꦁ​​ꦲꦥꦥꦏ꧀​ꦩꦿꦺꦴꦗꦺꦴꦭ꧀ꦲꦶꦁ​​ꦲꦏꦼꦉꦥ꧀꧉​

Punjul ing apapak, mrojol ing akerep.
Menonjol di antara yang umum, keluar di antara yang sering.
— Seseorang yang luar biasa di antara kawanannya yang biasa saja.


꧋ꦠꦸꦤ​ꦱꦠꦏ꧀ꦧꦛꦶ​ꦱꦤꦏ꧀꧉​

Tuna satak bathi sanak.
Kehilangan uang mendapatkan saudara.
— Walaupun keuntungan berkurang, tetapi mendapatkan saudara, kenalan, atau relasi. Misalnya mengeluarkan uang untuk menjamu seseorang kemudian orang tersebut menjadi relasi bisnis.


꧋ꦏꦼꦩꦿꦶꦱꦶꦏ꧀ꦠꦤ꧀ꦥꦏꦔꦶꦤ꧀ꦤꦤ꧀꧉

Kemrisik tanpa kanginan.
Gemerisik padahal tidak terkena angin.
— Seseorang yang selalu menonjolkan kebaikan diri, karena khawatir orang akan membicarakan keburukannya.


꧋ꦱꦼꦥꦶ​ꦲꦶꦁ​​ꦥꦩꦿꦶꦃ​ꦫꦩꦺ​ꦲꦶꦁ​​ꦒꦮꦺ꧉​

Sepi ing pamrih ramé ing gawé.
Sepi di pamrih ramai di kerja.
— Bekerja memberikan yang terbaik tanpa memikirkan imbalannya.


꧋ꦠꦺꦒ​ꦭꦫꦤꦺ꧈​​ꦲꦺꦴꦫ​ꦠꦺꦒ​ꦥꦠꦶꦤꦺ꧉​

Téga larané, ora téga patiné.
Tega sakitnya, tetapi tidak tega matinya.
— Dalam sebuah perseteruan, seseorang mungkin menginginkan lawannya merasakan keburukan atau kekalahan, tetapi sebenarnya tidak ingin lawannya tumpas atau benar-benar menderita karena masih memiliki rasa belas kasih dan persaudaraan.


꧋ꦮꦶꦠ꧀ꦠꦺ​ꦲꦝꦏꦃ​ꦮꦺꦴꦃꦲꦺ​ꦲꦝꦶꦏꦶꦃ꧈​​ꦮꦶꦠ꧀ꦠꦺ​ꦲꦝꦶꦏꦶꦃ​ꦮꦺꦴꦃꦲꦺ​ꦲꦝꦏꦃ꧉​

Wité adhakah wohé adhikih, wité adhikih wohé adhakah.
Pohonnya besar buahnya kecil, pohonnya kecil buahnya besar.
— Seseorang tidak dapat dinilai dari apa yang terlihat saja. Mungkin saja seseorang yang terlihat dari luar memiliki sesuatu yang sedikit sebenarnya memiliki sesuatu yang banyak.