Rabu, 07 Oktober 2020

Membayangkan Aksara Kutukan

Perilaku keberaksaraan di jagat Twitter kembali membuktikan bahwa bahasa tulis tidak selamanya membatasi kehendak berekspresi manusia. Orang tetap bisa menyampaikan kesan-kesan jengkel, sedih, atau senang dengan perangkat-perangkat di luar bahasa.

Belakangan ini, ratusan pengguna Twitter ramai-ramai membanjiri cuitan Donald Trump dengan kata-kata buruk dan kutukan. Cuitan bertanggal 2 Oktober 2020 itu memberitakan tentang keadaan Trump dan Melania yang terkena COVID-19. Yang tak biasa, orang-orang ini mengirimkan kutukan beserta gambar-gambar angker dengan aksara yang tampak asing, yaitu aksara Ge'ez. Aksara ini adalah aksara nyata yang dipakai masyarakat di Ethiopia, utamanya untuk menuliskan bahasa Amhar, bahasa ibu bagi lebih dari 22 juta orang di sana.

Kolom balasan dari cuitan Trump dijejali dengan tulisan-tulisan Amhar yang berisikan kutukan dan sumpah-sumpah mengerikan.

Setelah diterjemahkan, rangkaian kutukan ini berisi sumpah-sumpah buruk seperti jiwa yang tidak terselamatkan, jiwa berdosa, pertumpahan darah, pesan-pesan kematian, dan sejenisnya. Gambar-gambar yang mengerikan, seperti iblis dan setan, menambah kengerian dari kiriman-kiriman ini. Tak jarang pula, pendukung Trump yang panik segera membalasnya dengan doa-doa Kristen dengan maksud menghalau kekuatan jahatnya.

Fenomena ini mengundang banyak tanggapan dari masyarakat sampai-sampai Mashable dan Vice masing-masingnya menurunkan artikel untuk membahasnya. Tren ini ternyata tidak berhenti pada Trump saja, beberapa hari kemudian, Joko Widodo juga terkena berondongan pesan-pesan terkutuk yang sama. Hal ini khususnya terjadi setelah publik ramai menentang pengesahan RUU CILAKA atau RUU Cipta Kerja menjadi Undang-undang pada 5 Oktober 2020 kemarin.

Hal serupa juga terjadi di kolom balasan Joko Widodo tertanggal 6 Oktober 2020.

Meskipun mungkin dimaksudkan untuk kelakar dan meme, penggunaan semacam ini adalah hal yang cukup rasis. Beberapa penutur bahasa Amhar bahkan menyuarakan kekesalannya dengan perilaku tercela ini. Ia merasa kebudayaannya telah dicoreng oleh orang-orang yang menggunakan bahasa dan aksaranya untuk menyampaikan kutukan dan kengerian. Terlebih, aksara Ge'ez adalah aksara dan bahasa suci yang digunakan oleh sejumlah gereja ortodoks di Ethiopia. Selain tidak menghormati suku bangsa Amhar, penggunaan sembarangan dari aksara dan bahasa ini juga dapat melukai perasaan orang-orang Kristen di Ethiopia.

Penggunaan kebudayaan tertentu untuk menimbulkan kesan angker sesungguhnya tak asing di Indonesia. Aksara dan bahasa Jawa seringkali mendapatkan stereotip seperti itu. Salah satu contoh besarnya, dalam film Gundala, iblis kuno Ki Wilawuk dipanggil dan dibangkitkan dari kematiannya dengan pembacaan aksara Jawa berbahasa Kawi.

SARAN
Menyampaikan kengerian atau teror dapat dilakukan tanpa mencomot sembarangan kebudayaan masyarakat lain. Hal pertama yang dapat dilakukan adalah dengan menciptakan aksara buatan yang memang dikhususkan untuk citra yang mengerikan. Mungkin hal ini terdengar rumit, tetapi merupakan jalan aman tanpa menyinggung pihak tertentu. Anda juga dapat melihat-lihat aksara buatan di Omniglot yang telah menyenarainya di sini.

Selain itu, Anda dapat memanfaatkan Zalgo/Glitch Generator yang tersedia dengan bebas di internet. Zalgo selama ini juga sering digunakan untuk memberikan kesan mengerikan pada sebuah teks. Sejumlah generator teks lainnya, seperti generator tulisan alay, mungkin juga dapat dijadikan alternatif.

Rabu, 30 September 2020

Daftar Penyimpanan Daring Naskah Bugis dan Makassar

Halaman pembuka naskah puisi berbahasa Bugis. Koleksi Perpustakaan Inggris.

Sejumlah manuskrip berbahasa Bugis dan Makassar berhasil lestari hingga hari ini. Sebagian di antaranya telah dipindai dan diunggah ke internet sehingga lebih banyak orang bisa mengaksesnya dengan bebas. Jika Anda menggeluti dunia filologi atau bahkan tipografi aksara di Nusantara, mungkin naskah-naskah tersebut akan sangat berguna untuk kajian Anda. Berikut ini daftar penyimpanan daring naskah-naskah berbahasa Bugis dan Makassar yang bisa diakses dengan bebas (daftar akan senantiasa dimutakhirkan):

  1. Naskah Bugis dan Makassar di Perpustakaan Inggris
  2. Koleksi Digital Universitas Leiden, Manuskrip Bugis
  3. Koleksi Digital Perpustakaan Berlin, Manuskrip Bugis dan Manuskrip Makassar
  4. Koleksi Digital Naskah Bugis SOAS
  5. Khasanah Pustaka Nusantara, Perpusnas. (gunakan pencarian)
  6. Perpustakaan Digital Asia Tenggara, Manuskrip Bugis dan Manuskrip Makassar

Jika Anda mengetahui sumber naskah-naskah berbahasa Bugis dan Makassar lainnya, silakan beri tahu kami dengan meninggalkan komentar. Terima kasih!

 

Kamis, 24 September 2020

Konferensi TypeWknd Resmi Dibuka!


Dengan mengusung semboyan konferensi huruf untuk semua, TypeWknd berhasil menyita perhatian para pegiat tipografi seluruh dunia, mulai dari pengamat, mahasiswa, perancang, pebisnis, hingga akademikus. Organisasi mungil yang baru dibentuk ini terdorong oleh sejumlah halangan dalam industri tipografi. Sekelompok pelaku industri ini kemudian mencipta TypeWknd, sebuah wadah inklusif bagi pecinta huruf tanpa memandang usia, tingkat kemahiran, biaya atau asal negara.

TypeWknd 2020 diselenggarakan secara daring pada 24-27 September 2020. Karena ditenagai oleh sukarelawan dan beberapa penaja, seluruh sesi TypeWknd tidak dipungut biaya. Hanya saja, kelas lokakarya dibatasi hanya untuk lima belas atau dua puluh peserta, agar pembelajaran dan pementoran tetap efektif.

Aditya Bayu Perdana dan Gumpita Rahayu di antara para pengisi acara TypeWknd.
Foto diambil dari situs TypeWknd.

Terdapat dua orang Indonesia yang mengisi sesi bincang-bincang pada rangkaian konferensi TypeWknd 2020 kali ini, yaitu Aditya Bayu Perdana dan Gumpita Rahayu. Bayu mendapatkan urutan pertama dalam konferensi ini, yakni pada 24 September 2020 pukul 7:30 CDT atau 19.30 WIB. Presentasinya tentang pelestarian tipografi aksara Jawa memukau banyak hadirin, dan sekaligus menjadi pembuka yang segar untuk konferensi ini.

Sementara itu, Gumpita Rahayu juga mendapatkan sesi pada hari yang sama, pukul 9.30 CDT atau 21.30 WIB. Gumpita membahas mengenai industri desain huruf di Indonesia, sebuah ekosistem yang signifikan, tetapi belum banyak hadir dalam perbincangan tipografi internasional, dan bagaimana produsen dan konsumen desain huruf di Indonesia semakin berkembang belakangan ini.

Bincang-bincang dua tokoh skena tipografi Indonesia ini mendapatkan sambutan yang luar biasa. Setelah waktu bincang-bincang usai pun, diskusi masih berlanjut hingga tengah malam di ruang obrolan tersendiri. Babak dua "Obrolan Huruf Indonesia" yang menarik ini akan diselenggarakan kembali, secara khusus, pada Jumat, 25 September 2020, pukul 7.00 CDT atau 19.00 WIB.

Beberapa tautan yang dibutuhkan:

 

Selasa, 26 Mei 2020

Logam Huruf Jawa II: Tren Desain Eropa dalam Langgam Hias

Selain huruf cetak fungsional, tipografer Eropa juga mulai bereksperimen dengan langgam hias untuk penggunaan di luar teks biasa. Salah satu upaya paling awal dari langgam cetak hias aksara Jawa adalah Gefigureerd Javaansch yang dibuat oleh Gotlieb Schlegelmich (1858–?) pada tahun 1883 untuk percetakan Enschedé. Langgam rumit ini dipenuhi oleh stiliran sulur-sulur tanaman gaya Eropa dengan arsiran yang menggambarkan volume. Oleh karenanya, keseluruhan rupa huruf memiliki kesan barok-rokoko yang sangat kental. Meskipun langgam ini mencerminkan tren huruf hias yang lumrah di Eropa, pembaca pribumi maupun Eropa di pulau Jawa masa itu kemungkinan besar tidak akrab dengan penerapan serupa pada aksara Jawa karena Gefigureerd Javaansch tidak pernah ditemukan dalam banyak publikasi selain spesimen huruf Enschedé (Baerdmaker 2012). Sejauh penelusuran penulis, langgam yang menyerupai Gefigureerd hanya digunakan beberapa kali oleh Landsdrukkerij (percetakan) Batavia untuk beberapa buku gubahan Muhammad Musa pada 1800-an akhir.

Sampel Gefigureerd Javaansch dari publikasi tahun 1893 yang merayakan hari jadi percetakan Enschedé.


Beberapa sampel Gefigureerd Javaansch yang didokumentasikan oleh Baerdmaker (2012)
Pengaruh desain huruf Eropa juga dapat terlihat koran Bromartani, koran berbahasa Jawa pertama yang mulai beredar secara berkala pada 29 Maret 1895. Dapat terlihat bahwa masthead atau kop Bromartani dibuat dengan gaya huruf patah (blackletter) Latin. Penggunaan semacam ini selaras dengan praktik koran-koran Eropa sejak abad 18 M yang menggunakan huruf patah untuk bagian judul karena gaya tersebut merupakan gaya paling tebal dan mencolok yang tersedia pada masa itu (Morison 2009). Kemudian menjadi menarik diperhatikan bahwasanya praktik desain Eropa khusus semacam ini ternyata juga diaplikasikan dalam aksara Jawa. Tidak diketahui apakah logo ini dibuat oleh seorang perancang Eropa atau pribumi, walau begitu dapat kita duga bahwa redaksi koran Bromartani–yang salah satu anggotanya adalah pujangga Ranggawarsita (1802-1873)–tampaknya tidak pernah bermasalah dengan desain logo huruf patah Bromartani karena logo tersebut terus digunakan dalam keseluruhan riwayat cetak Bromartani. Hal ini dapat kita intepretasikan juga sebagai keterbukaan pembaca pribumi dalam menerima pengaruh yang sarat keeropaan dalam rancangan huruf Jawa.
Kop koran Bromartani memperlihatkan pengaruh langgam Eropa

Setidaknya terdapat satu buku yang menggunakan langgam hias Eropa dengan lebih merata di dalam isinya: Dongéng-dongéng Pieunteungeun, kumpulan dongeng berbahasa Sunda dalam aksara Jawa yang disusun oleh Radén Haji Muhammad Musa (1822–1886). Muhammad Musa adalah salah satu pelopor kesastraan Sunda abad 19 yang menjabat sebagai penghulu besar Kabupaten Limbangan semasa hidupnya. Ia memiliki persahabatan erat dengan KF Holle (1829–1896), seorang pemilik perkebunan teh di Garut, penasehat pemerintahan Hindia-Belanda, dan peminat sastra Sunda. Berkat persahabatan eratnya dengan Holle, berbagai karya Musa–baik terjemahan, saduran, maupun tulisan yang ia gubah sendiri–dicetak dalam jumlah yang banyak oleh Landsdrukkerij Batavia. Dongéng-dongéng Pingentengen, yang dicetak pada tahun 1867, merupakan buku yang unik secara tipografis karena adanya huruf awal (drop caps) aksara Jawa dengan langgam Eropa seperti huruf patah dan gaya Toskana yang digunakan di awal setiap dongeng


Kiri: Halaman judul dalam Dongéng-dongéng Pieunteungeun. Kanan: sejumlah drop caps dari buku tersebut

Persilangan langgam Jawa-Eropa terutama sangat kentara pada sampel desain yang dibuat pada abad 19 M akhir. Salah satunya yang paling mencolok dapat dilihat pada adalah halaman judul dari sebuah buku yang dicetak di Semarang untuk merayakan kenaikan takhta Ratu Wilhelmina pada tahun 1898, kini disimpan di Koninklijk Huisarchief (Arsip Kerajaan Belanda). Halaman judul tersebut dicetak dengan teknik litografi dan dapat terlihat bahwa tiap baris aksara Jawanya dicetak berselang-seling antara langgam polos dan berhias yang sarat dengan pengaruh desain Eropa. Baris pertama ditulis dengan gaya huruf patah, sementara baris tiga, enam, dan delapan menggunakan gaya Toskana-koboi (western). Buku ini tampaknya dikomisikan oleh seseorang yang bernama Makuṭa dan dicetak oleh percetakan GCT van Dorp & co yang namanya dapat terlihat di pojok kiri bawah halaman.


Halaman judul buku yang merayakan kenaikan takhta Ratu Wilhelmina, 1898.
Meskipun begitu, perlu diperhatikan bahwa langgam Eropa tampaknya hanya digunakan untuk kondisi tertentu saja karena terbitan sehari-hari biasanya menggunakan langgam hias yang lebih polos. Penerbitan milik Tan Khoen Swie (陳坤瑞, 1883-1953) di Kediri misalnya, memproduksi buku berbahasa Jawa dalam berbagai topik yang judulnya umum menggunakan langgam kaku mbata (bahasa Jawa: menyerupai batu bata).


 Halaman judul dalam sejumlah buku yang diproduksi penerbitan Tan Khoe Swie.
Meski antargaya mbata cetak biasanya tidak memiliki perbedaan desain satu sama lain yang terlalu kentara, adakalanya dapat ditemukan pengolahan mbata yang menarik sebagaimana yang bisa dilihat pada halaman judul dua buku berikut:


Atas: Bocah Mangkunagaran (Yasawidagda, 1937). Bawah: Baron Sakénḍér (Yudasara, 1930)

Periklanan Jawa abad 19 akhir hingga 20 awal juga umumnya menggunakan langgam-langgam konservatif dengan perbedaan yang halus antara satu sama lain. Hal ini mungkin dipicu format iklan pada masa itu yang seringkali padat teks–konsep logo wordmark dan pengenalan merek untuk produk sehari-hari belum menjadi praktik yang lumrah. Pada kasus semacam itu, aksara Jawa yang jelas dan mudah dibaca lebih diutamakan untuk teks yang menjelaskan keunggulan produk secara rinci. Praktik yang juga umum pada waktu itu adalah menggunakan huruf Latin untuk nama produk yang menjadi tajuk utama iklan sementara penjelasan dan badan teks menggunakan aksara Jawa


Macam-macam iklan dalam publikasi Jawa abad 19 akhir hingga 20 awal.
_______________________________________

Tulisan di atas ditulis dan disumbangkan oleh Aditya Bayu Perdana.
Pranala: Instagram dan Behance.
Versi jurnal tulisan ini telah dipublikasikan dalam Manuskripta Vol 10 No 1 (2020).