Jumat, 01 Februari 2019

Teh Kotak dan Motter Ombra-nya

Teh Kotak adalah produk minuman dari Ultrajaya. Produk minuman ini diluncurkan pada tahun 1979, dan menjadi salah satu pelopor minuman siap minum di Indonesia.[1] Jika kita menyapu pandang ke rak minuman di minimarket, Teh Kotak adalah salah satu yang mencuri perhatian. Desain tipografinya seakan-akan tidak sezaman dengan produk-produk di kanan-kiri-atas-bawahnya. Ia membawa kita ke beberapa dasawarsa silam, membuatnya menonjol di antara yang lainnya.
 


Fontasi necis yang digunakan dalam kemasan Teh Kotak itu bernama Motter Ombra. Motter Ombra adalah fontasi karya Othmar Motter, seorang perancang huruf kelahiran Austria, 1927-2010. Di tahun 1952, ia bersama Hans Kaiser dan Sylvester Lička mendirikan studio seni grafika Vorarlberger Grafik. Motter Ombra adalah salah satu dari empat fontasi pampangan bikinannya pada tahun 1970-an untuk Berthold dan Letraset. Setelah pekerjaannya mencabang pada desain korporasi, ia baru kembali ke dunia rancang huruf pada tahun 1990-an dengan fontasi-fontasi untuk ITC, Monotype, dan FontFont.[2]

Letraset Motter Ombra. Gambar didapat dari www.limprimante.com

Motter Ombra adalah karya keduanya setelah Motter Tektura, fontasi yang digunakan untuk logo Apple pertama dan Reebok. Motter Ombra diluncurkan pada tahun 1972 dalam format huruf film oleh Berthold Fototypes dan huruf transfer kering oleh Letraset. Karena kala itu adalah zaman pradigital, rancangan fontasi Motter Ombra dikerjakan dengan pensil mekanik dan penggaris kurva. Sementara itu, versi digitalnya dibuat oleh Motter Fonts, sebuah perusahaan huruf mandiri milik keluarganya, dengan bantuan Jan Kammann.[3][4]

Cuplikan Motter Ombra dari luc.devroye.org

Motter Ombra adalah salah satu fontasi pampangan terpenting di abad ke-20. Ia menjadi penanda zaman. Gema sikedelia, disko, hippie dari 1960-an masih terasa di desain huruf-huruf yang melingkar, membulat dan menyimpang dari bentuk huruf pakem. Ia menawarkan kebaruan dan eksplorasi bentuk yang tidak lazim. Motter Ombra telah digunakan pada banyak hal, seperti poster, reklame toko, dan sampul album musik.

Motter Ombra juga telah banyak mengilhami seniman atau desainer lain untuk menginterpretasikan ulang karya ini, di antaranya Zombra EyeFS (2013) oleh Antonio J. Morata, Motter Dombra (2014) oleh Zhalgas Kassymkulov, karya yang tidak selesai dari OhNoType, Ombra Brutal oleh Nick Shea dan mungkin masih banyak karya lainnya.

Akan tetapi, mengapa pula citra merek Teh Kotak, kala pengambilan keputusan desain dahulunya, merasa dapat terwakili oleh fontasi Motter Ombra yang suka mejeng di album-album musik 1970-an dan setelahnya? Jawabannya mungkin karena desain-desain yang lahir di bawah genre sikedelia mengambil banyak ilham dari Art Nouveau; sementara Art Nouveau sendiri mengambil inspirasi dari keindahan bentuk alam, tumbuh-tumbuhan, sulur-sulur, bunga dan semacamnya. Keputusan desain waktu itu mungkin tidak didasari pengetahuan alur sejarah yang dilalui Motter Ombra. Namun itu pun tak perlu, sebab dari desainnya saja kita bisa menerka bahwa ada nuansa organik, alamiah, keluwesan dan alam itu sendiri. Hal-hal itulah yang mungkin dirasa mewakili Teh Kotak.


[1] Presentasi Perusahaan PT Ultrajaya Milk Industry & Trading Company Tbk. Desember 2013. PDF
[4] Matthew Burvill, Attention Seeker.

Sabtu, 26 Januari 2019

Darmawisata Tipografi di Malaysia

Malaysia telah lama masyhur akan keanekaragaman budayanya. Semenangjungnya yang panjang menjulai membuatnya menjadi persilangan dan persinggahan warga dari banyak belahan dunia sejak dahulu kala. Suku Tionghoa, India, Arab, di samping suku-suku Bumiputera, mewarnai seluruh denyut nadi kehidupan negara jiran yang begitu semarak ini. Keberagaman bisa dilihat misal dari kulinernya, mulai dari kari, Bak Kut Teh hingga nasi lemak; atau arsitekturnya, misal seperti arsitektur Melayu di Kampung Baru atau arsitektur Baba Nyonya di Melaka.

Keberagaman ini tak luput juga dalam hal tipografi. Kebudayaan masing-masing kelompok masyarakat yang mengakar kuat mendorong masing-masingnya untuk mempertahankan bahasa dan aksara mereka sendiri. Sebagai bandingannya, di Indonesia, warna-warni kebudayaan lokal cenderung memudar demi menjunjung "kebudayaan nasional" dengan bahasa Indonesianya dan aksara Latinnya. Lain hal dengan Malaysia yang berhasil merayakan keberagaman sebagaimana mestinya.

Satu sudut jalan di Kuala Lumpur saja, para pelancong akan dengan mudah menemui empat aksara hadir di jalanan mereka: aksara Tionghoa, aksara Jawi (modifikasi aksara hijaiah untuk bahasa Melayu), aksara Tamil dan aksara Latin. Masing-masingnya tampil dengan mencolok, mencoba menggait perhatian pelintas. Hal ini kiranya juga membuat kita sadar bahwa masing-masing dari kita setidaknya buta huruf untuk suatu aksara. Meskipun demikian, kita masih bisa menikmati sisi rupawi dari tipografi tersebut tanpa perlu membacanya.

Pada bulan Juli 2018 lalu, saya dan teman saya berkesempatan untuk melawat ke Malaysia dalam rangka mengikuti serangkaian lokakarya di Malaysian Global Innovation & Creativity Centre (MaGIC), Cyberjaya, Selangor. Dari lawatan itu, saya mencuri waktu untuk berkeliling dan mendokumentasikan hal-ihwal huruf di Malaysia (Cyberjaya, Putrajaya, Shah Alam, Kuala Lumpur dan Melaka), mengulik lanskap bahasanya, serta tipografi secara umum, dari yang sangat sepele hingga yang begitu menarik perhatian.


Jumatan pertama di Malaysia, di Masjid Putra, Putrajaya. Panduan arah ini ditulis dalam dua bahasa, bahasa Melayu dan Inggris, dan dua aksara, aksara Jawi dan aksara Latin; sebuah contoh kedwibahasaan (Melayu dan Inggris) dan kedwiaksaraan (digrafia; penggunaan dua aksara atau lebih untuk menuliskan satu bahasa, yakni Melayu, yang ditulis dalam aksara Jawi dan Latin).


Tanda berhenti ini sebenarnya biasa saja, hanya saja rasanya yang semacam ini saya baru pertama lihat karena di Indonesia umumnya menggunakan kata STOP yang bahasa Inggris itu. Kata stop menghemat 50% huruf daripada berhenti, sehingga huruf-hurufnya bisa tampak lebih besar dan mencolok. Malaysia mungkin menitikberatkan pada aspek identitas bahasanya daripada kepraktisannya. Itu yang bisa kita pelajari dari satu rambu lalu lintas di Cyberjaya ini.



Gambar sebelah kiri adalah contoh klasik papan tanda bahaya di Malaysia (dan juga Singapura) yang menampilkan bahasa Melayu bahaya, bahasa Inggris danger, bahasa Tionghoa 险 危, bahasa Tamil அபாயம் dan bahasa Punjabi ਖ਼ਤਰਾ. Kemancabahasaan ini sangatlah memukau. Saya jadi teringat pada salah satu plang serupa di gardu-gardu listrik zaman kolonial Surabaya, dan beberapa bagian Jawa lainnya. Gambar kanan yang diambil dari felkizavinanda.blogspot.com ini salah satu contoh klasik kemancabahasaan di Indonesia yang tampaknya tidak sintas seperti di Malaysia modern. Plang listrik ini bertuliskan bahasa Belanda levensgevaar, bahasa Melayu/Indonesia awas elestrik, dan bahasa Jawa ꦱꦶꦁꦔꦼꦩꦺꦏ꧀ꦩꦠꦶ꧉ / sing ngemék mati / yang memegang mati.


Berfoto bersama penunjuk arah berbahasa Inggris, Melayu dan Tamil di Tamarind Square, Cyberjaya. Saya percaya salah satu petunjuk sebuah penghormatan dan kesetaraan dalam keragaman budaya adalah adanya kata-kata dari bahasa tersebut yang ditampilkan di muka umum dalam ukuran yang sama besarnya dengan bahasa internasional atau bahasa nasional (tentu selama area desainnya memadai).

Tidak hanya haluan motorsikal, melainkan juga penanda konteks bahwa tulisan ini
berada di wilayah negara Malaysia.



Digrafia di Malaysia tergolong kuat dilihat dari cukup mudahnya menemui lambang-lambang perusahaan yang menggunakan dua aksara, Latin dan Jawi. Disimak dari segi fungsinya, sesungguhnya digrafia ini tergolong melewah alias mubazir, menimbang semua orang yang bisa membaca aksara Jawinya sudah pasti bisa membaca Latinnya. Akan tetapi, bukan itu memang tujuan dari digrafia. Tujuan kedwiaksaraan itu bersifat politis dan ideologis. Usaha-usaha untuk menghadirkan dan mempertahankan aksara yang mulai tergantikan oleh Latin di ruang publik adalah cara memberikan identitas pada sesuatu yang polos. Misalkan lambang Bank Rakyat hanya ditulis dalam aksara Latin, maka asosiasi dengan identitas kemelayuan, kemalaysiaan, keislaman atau bahkan kearaban akan berkurang.

Contoh penerapan kebijakan bahasa Brunei Darussalam, KFC yang ditulis
dalam dua aksara, Latin dan Jawi. Gambar diambil dari nfjowner.blogspot.com

Meskipun demikian, Akta Bahasa Kebangsaan 1963/67 seksi 9 menyatakan bahwa aksara nasional Malaysia adalah Rumi/Latin dan penggunaan Jawi sekadar diperbolehkan: menjadikan aksara Jawi sebagai alternatif saja. Hal ini agaknya berbeda dengan Brunei Darussalam yang cenderung mengambil langkah yang lebih konservatif dengan menjadikan aksara Jawi sebagai satu dari dua aksara nasional di samping aksara Latin, ditambah dengan aturan-aturan pendukung yang terperinci dalam kebijakan bahasa mereka. Kebijakan bahasa itu meliputi: memperbolehkan penggunaan dua bahasa, Inggris-Melayu; mewajibkan penggunaan dua aksara, Latin-Jawi untuk bahasa Melayu, kewajiban mencantumkan aksara Jawi di papan tanda dll. dalam ukuran yang lebih besar daripada aksara Latin, warna yang lebih jelas daripada aksara Latin dan diletakkan di atas aksara Latin, serta melarang kehadiran aksara dan bahasa selain Melayu-Jawi dalam ukuran yang lebih besar daripada setengah ukuran huruf Melayu-Jawi (Building Control [Advertisement, Billboard and Signboard] Regulation 2016). Peraturan ini membuat kehadiran aksara Jawi lebih melimpah di Brunei Darussalam daripada di Malaysia.


Penggunaan aksara hijaiah untuk bahasa Arab dan aksara Latin untuk bahasa Inggris
pada sebuah restoran/toko di Cyberjaya.
The Real Shisha Bar, dalam aksara Latin lir-Arab, di Cyberjaya.

Kemasan bumbu masak instan menampilkan bahasa Melayu dalam aksara Latin, bahasa Tamil,
bahasa Inggris dan bahasa Tionghoa.

Toko cendera mata di Museum Negara Malaysia, Kuala Lumpur.
Restoran Khulafa di Shah Alam, dekat Bulatan Megawati. Restoran ini memiliki logo-tulisan yang sangat unik, berbentuk dari gabungan huruf Latin K dan huruf hijaiah خـ kha, melambangkan konsep kedwiaksaraan itu sendiri.



Kemasan camilan Maruku ini sangat unik, berwarna putih polos dengan desain di atasnya berwarna merah. Tata letak tipografi dan gaya ilustrasinya yang tampak jadul, ditambah dengan kehadiran bahasa Melayu Latin/Jawi, Tionghoa dan Inggris yang membikinnya tambah semarak.


Central Market beraksara Latin dengan pilihan tipografi nirkait, mengesankan hal-hal modern;
sementara aksara Tionghoanya disetel dalam gaya kaligrafi klasik yang mengesankan konservatisme budaya.





Perpaduan tipografi pada rancangan papan tanda cukup menarik untuk dibahas. Ada dua jenis contoh perpaduan tipografi di sini. Contoh pertama adalah Central Market, Kuala Lumpur dan penunjuk arah Christ Church, Melaka. Keduanya memadukan huruf nirkait (sans-serif) untuk aksara Latin dan tipografi kaligrafis untuk aksara Tionghoa, mungkin bergaya 行書 (xíngshū) dari abad ke-1 M atau 楷體 (kǎitǐ) dari abad ke-2 M. Hal ini memberikan kesan bahwa meski bahasa Inggris telah mendekap modernitas dengan meninggalkan jejak-jejak tradisi kaligrafi, bahasa Tionghoa hadir dalam konteks tersebut dalam tampilan setua hampir dua alaf yang lalu: sebuah simbol kebanggaan akan tradisi dan budaya leluhur. Kehadiran gaya kaligrafis tersebut sesungguhnya bertolak belakang dengan hakikat papan tandayang seyogianya menggunakan huruf nirkait sebagaimana kejelasan dan kecepatan informasi untuk ditangkap dalam sekejap mata adalah hal yang paling utama.

Contoh kedua adalah No Shoes Allowed dan Dilarang Merokok, yang secara tipografis dianggap kafah karena, baik tipografi Latin maupun Tionghoa, disetel dalam gaya nirkait sezaman yang mendukung fungsi dari papan tanda itu sendiri.

Sentuhan masa lalu yang begitu renyah dan gemilang dalam tipografi vernakular di Kuala Lumpur ini.
Besar, bangga dan mandiri

Desain aksara Tionghoa yang lebih kontemporer, nirkait membulat yang ramah.


If you talk to a man in a language he understands, that goes to his head. If you talk to him in his language, that goes to his heart. Nelson Mandela


Vandalisme di jalanan dekat Petaling, Kuala Lumpur.
Kita Sudah Pindah, Melaka.
Kemultibahasaan hingga ke toilet.
Masjid Kampung Kling, Melaka, dalam aksara Latin dan Jawi yang didekorasi.
Jalan Tukang Emas, Melaka, dengan aksara Jawi di bagian atas.




Utamakan budaya sendiri: aksara Tamil tampil paling atas pada plang kuil Hindu ini.

Praying hours ... PS: No Smoking.
Plang ini mengingatkan saya akan kata-kata seorang teman, "aku percaya pada Tuhan yang multibahasa"
Sedikit cuplikan aksara Thai di Melaka.
Memperingatkan orang-orang dalam bahasa masing-masing. Fakta yang disimpulkan:
bahasa Tionghoa paling hemat tempat, disusul bahasa Inggris, Melayu dan Tamil.
這是在馬六甲下雨的信件
Jembatan Chan Koon Cheng (曾昆清橋), 1908, Melaka; di keempat sudutnya ada prasasti
dalam bahasa Tamil, Melayu, Inggris dan Tionghoa.
Sebuah tiang gedung dengan ukiran beraksara hanzi di Melaka.

Melayani segala bangsa.












Gereja Santo Paulus di Melaka adalah wisata tipografi yang baik untuk mempelajari desain dan bentuk huruf capitalis quadrata yang diukir pada banyak batu nisan Portugis abad ke-16. Di Indonesia, batu nisan serupa sepertinya bisa dilihat di Museum Wayang, Jakarta.



Perbesaran detail ukiran huruf pada batu nisan Portugis di Gereja Santo Paulus, Melaka.
Hatta demikianlah darmawisata tipografi singkat saya selama di Malaysia. Kuala Lumpur yang terik, padat dan modern. Cyberjaya, Putrajaya dan Shah Alam yang apik, tetapi seperti kurang terasa degup budayanya. Lalu Melaka~ Ah Melaka begitu memesona. Semoga akan berjumpa di lain kesempatan.

Membeli air kelapa, dicampur biji selasih.
Jika ada salah di kata, mohon maaf dan terima kasih.


Terima kasih telah memperhatikan! Terima kasih juga pada kawan-kawan yang membuat perjalanan ini menjadi mungkin dan menyenangkan: Ijad, Faisal, Eliza, kawan-kawan di MaGic, dan khususnya Farid dan Widad yang telah menemani berputar-putar di Kuala Lumpur.