Senin, 28 April 2025

Daftar Batu Mulia dan Semi-Mulia dalam Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris

Batu mulia dan batu semi-mulia merupakan istilah yang umum digunakan untuk menyebut mineral, batuan, atau bahan organik yang memiliki nilai keindahan untuk dimanfaatkan sebagai perhiasan atau pernak-pernik lainnya. Keindahannya dapat berasal baik dari warna, kejernihan, kemilau, pola, maupun karakter optik lainnya. Beberapa di antaranya telah dikenal dan diperdagangkan sejak ribuan tahun lalu dan memiliki tempat khusus dalam berbagai kebudayaan di dunia.

Istilah "batu mulia" dan "batu semi-mulia" tidak memiliki batas klasifikasi yang sepenuhnya baku. Dalam penggunaan tradisional, batu mulia sering dikaitkan dengan jenis yang dianggap paling berharga, seperti intan, rubi, safir, dan zamrud, sedangkan istilah batu semi-mulia digunakan untuk berbagai jenis batu permata lainnya yang lebih terjangkau. Namun, nilai sebuah batu tidak semata-mata ditentukan oleh kategorinya, melainkan juga oleh kelangkaan, kualitas, warna, ukuran, kejernihan, dan banyaknya permintaan. Artikel ini menyajikan daftar batu yang umum dikenal sebagai batu mulia dan semi-mulia, khususnya yang cukup akrab di telinga orang Indonesia, beserta padanannya dalam bahasa Inggris dan alih aksaranya dalam aksara Sunda sebagai tambahan.


BACAN
ᮘᮎᮔ᮪
Chrysocolla


KALIMAYA
ᮊᮜᮤᮙᮚ
Opal


MERAH DELIMA
ᮙᮦᮛᮂ ᮓᮨᮜᮤᮙ
Ruby


KECUBUNG
ᮊᮨᮎᮥᮘᮥᮀ
Amethyst


INTAN
ᮄᮔ᮪ᮒᮔ᮪
Diamond


BADAR BESI
ᮘᮓᮁ ᮘᮨᮞᮤ
Hematite


AKIK
ᮃᮊᮤᮊ᮪
Agate


ZAMRUD
ᮐᮙᮢᮥᮓ᮪
Emerald


HIJAU GARUT
ᮠᮤᮏᮅ ᮌᮛᮥᮒ᮪
Chrysoprase


ATI AYAM
ᮃᮒᮤ ᮃᮚᮙ᮪
Red Jasper


SAFIR
ᮞᮖᮤᮁ
Sapphire


BADAR EMAS
ᮘᮓᮁ ᮈᮙᮞ᮪
Pyrite


PIRUS
ᮕᮤᮛᮥᮞ᮪
Turquoise


BIDURI SURYA
ᮘᮤᮓᮥᮛᮤ ᮞᮥᮛᮡ
Sunstone


GIOK
ᮌᮤᮇᮊ᮪
Jade


KUARSA MAWAR
ᮊᮥᮃᮁᮞ ᮙᮝᮁ
Rose Quartz


LABRADOR
ᮜᮘᮢᮓᮧᮁ
Labradorite


AMBAR
ᮃᮙ᮪ᮘᮁ
Amber/Barnsten


NAGA SUI
ᮔᮌ ᮞᮥᮄ
Bloodstone


BIDURI BULAN
ᮘᮤᮓᮥᮛᮤ ᮘᮥᮜᮔ᮪
Moonstone


RATNA CEMPAKA
ᮛᮒ᮪ᮔ ᮎᮨᮙ᮪ᮕᮊ
Topaz


MATA KUCING
ᮙᮒ ᮊᮥᮎᮤᮀ
Cat's Eye


BIRU LAUT
ᮘᮤᮛᮥ ᮜᮅᮒ᮪
Aquamarine


LAZUARDI
ᮜᮐᮥᮃᮁᮓᮤ
Lapis lazuli


KINYANG AIR
ᮊᮤᮑᮀ ᮃᮄᮁ
Ice quartz


Minggu, 06 April 2025

Berbagai Jenis Umbi Pangan dalam Bahasa Jawa

Tidak hanya nasi, masyarakat Jawa mengenal banyak sumber karbohidrat yang ditanam atau disediakan alam di sekitar mereka. Salah satunya yang sedang naik daun dan diperbincangkan orang-orang adalah umbi-umbian. Karbohidrat yang tersimpan dalam bentuk umbi ini telah lama menjadi salah satu sumber pangan penting bagi masyarakat Jawa. Beragam jenis umbi dimanfaatkan dan diolah sebagai bahan makanan sehari-hari, mulai dari dikukus, direbus, digoreng, hingga menjadi aneka hidangan khas yang berselera.

Keanekaragaman pangan tersebut juga tercermin dalam bahasa Jawa melalui berbagai kosakata untuk menyebut jenis-jenis umbi. Yuk, kenali berbagai nama umbi pangan dalam bahasa Jawa dan aksara Jawa, serta nama Latin dari masing-masingnya; dibagi ke dalam dua kategori besar, yakni tanaman asli Indonesia dan tanaman yang diintroduksi dari luar Indonesia.

TANAMAN ASLI INDONESIA


Bentul
ꦧꦼꦤ꧀ꦠꦸꦭ꧀
Colocasia esculenta

Dalam bahasa Jawa juga dikenal sebagai tales dan dalam bahasa Indonesia dikenal dengan sebutan talas. Salah satu umbi yang paling umum dijumpai di pasaran.


Suweg
ꦱꦸꦮꦼꦒ꧀
Amorphophallus paeoniifolius


Porang
ꦥꦺꦴꦫꦁ
Amorphophallus muelleri


Gembili
ꦒꦼꦩ꧀ꦧꦶꦭꦶ
Dioscorea esculenta


Gembolo
ꦒꦼꦩ꧀ꦧꦺꦴꦭꦺꦴ
Dioscorea bulbifera


Uwi
ꦲꦸꦮꦶ
Dioscorea alata


Gadhung
ꦒꦝꦸꦁ
Dioscorea hispida


Kleci
ꦏ꧀ꦭꦼꦕꦶ
Coleus rotundifolius

Dalam bahasa Jawa juga dikenal sebagai kenthang ireng.


Sénthé
ꦱꦺꦟ꧀ꦛꦺ
Alocasia macrorrhizos

Tergolong susah untuk mengolahnya menjadi bahan pangan yang aman dikonsumsi.



TANAMAN INTRODUKSI


Kimpul
ꦏꦶꦩ꧀ꦥꦸꦭ꧀
Xanthosom sagittifolium


Kenthang
ꦏꦼꦟ꧀ꦛꦁ
Solanum tuberosum


Ganyong
ꦒꦚꦺꦴꦁ
Canna indica


Pohung
ꦥꦺꦴꦲꦸꦁ
Manihot esculenta

Dalam bahasa Jawa juga dikenal sebagai kaspé dan beberapa nama lain.


Garut
ꦒꦫꦸꦠ꧀
Maranta arundinacea


Besusu
ꦧꦼꦱꦸꦱꦸ
Pachyrhizus erosus

Dalam bahasa Jawa juga dikenal sebagai bengkowang.


téla rambat
ꦠꦺꦭ​ꦫꦩ꧀ꦧꦠ꧀
Ipomoea batatas


Ada beberapa nama lain yang berkenaan dengan umbi pangan di Jawa, namun berbagai sumber memiliki pendapat yang beraneka ragam tentang tumbuhan apa sebenarnya dari sebutan-sebutan berikut, atau mungkin lebih merupakan sinonim atau variasi dialek saja: iles-iles, walur, compleng, coklok, katak, dan masih banyak lagi.

Senin, 31 Maret 2025

Melihat Poster Muktamar Muhammadiyah dari Masa ke Masa

Muhammadiyah (secara harfiah bermakna "pengikut Muhammad") adalah sebuah lembaga Islam di Indonesia yang didirikan oleh K.H. Ahmad Dahlan pada 1912 di Yogyakarta, Hindia Belanda. Lembaga ini bergerak di bidang pendidikan, kesehatan, dan sosial dengan tujuan memajukan masyarakat melalui ajaran Islam yang bersifat lebih modern dan murni. Hingga kini, Muhammadiyah telah mendirikan ribuan sekolah, perguruan tinggi, rumah sakit, dan panti asuhan di seluruh Indonesia.

Setiap lima tahun sekali (sebelumnya setiap tahun dan tiga tahun sekali), Muhammadiyah mengadakan muktamar atau kongres tertinggi untuk membahas kebijakan strategis, arah gerakan, serta memilih ketua umum yang baru. Sejak 1912 hingga 2024, terhitung Muhammadiyah telah melaksanakan sebanyak 48 kali. Setiap kongresnya, Muhammadiyah mengeluarkan poster sebagai keperluan penyiaran dan publikasi kepada masyarakat. Yuk intip beberapa poster Muktamar Muhammadiyah dari masa ke masa!

14-21 Maart 1930, Boekittinggi
Congres Moehammadijah ke-19


Muktamar Muhammadiyah ke-19 yang diselenggarakan di Bukittinggi pada 14-21 Maret 1930 menggambarkan dua orang di tepi pantai melihat ke arah kapal dan surya bersinar bertuliskan Muhammadiyah dalam aksara Arab. Ada gambaran rumah gadang di sisi kanan poster. Uniknya, pada judul poster ditambahkan kata "Minangkabau" yang barangkali untuk menegaskan bahwa muktamar kali ini diselenggarakan di Tanah Minangkabau.

8-16 Mei 1931, Djogja
Congres Moehammadijah ke-20


Muktamar Muhammadiyah ke-20 yang diselenggarakan di Yogyakarta pada 8-16 Mei 1931 menggambarkan sosok Pangeran Diponegoro menunjuk ke arah Masjid Gedhé Kauman dengan latar belakang Gunung Merapi yang mengeluarkan asap. Penggambaran Diponegoro digunakan untuk memperingati seabad Perang Jawa yang berlangsung pada 1825 hingga 1830. Terdapat pula tulisan Arab berbunyi "Hayya 'alal falah" yang bermakna "Marilah kita menuju kemenangan".

Sebuah keunikan lainnya, jika diamati, rangkaian huruf i-j pada kata Moehammadijah terlihat istimewa, huruf i tampak sedikit menumpang pada badan huruf j. Hal ini bukanlah kesalahan, melainkan merupakan praktik tipografi khas Belanda yang disebut diagraf atau ligatur IJ. Adakalanya kedua huruf tersebut malah disambung menjadi satu sehingga tampak seperti huruf y pada penulisan huruf miring.

1-7 Mei 1932, Makasser
Congres Moehammadijah ke-21

Muktamar Muhammadiyah ke-21 yang diselenggarakan di Makassar pada 1-7 Mei 1932 memiliki sesuatu yang istimewa. Poster ini mungkin merupakan poster muktamar satu-satunya yang menampilkan salah satu aksara Nusantara, yakni aksara Lontara, pada posternya. Tulisan tersebut tercetak ᨀᨚᨃᨛᨑᨙᨔᨛ ᨆᨘᨖᨆᨉᨗᨐ ko-ngkê-ré-sê mu-ha-ma-di-ya. Hal ini kemungkinan menimbang tingkat melek aksara Bugis-Makassar yang cukup tinggi di masa tersebut di daerah Sulawesi Selatan.

21-28 Juli 1936, Betawi
Congres Moehammadijah ke-25 (Seperempat Abad)



Muktamar Muhammadiyah seperempat abad yang diselenggarakan di Betawi (Jakarta) pada 21-28 Juli 1936 menggambarkan kereta api dan masjid kecil di belakangnya. Tak terlupa juga ada surya Muhammadiyah di langit sedang memancarkan sinarnya. Penggambaran kereta api di sini bisa dimaknai bahwa perjalanan menuju Batavia oleh peserta kongres kebanyakan menggunakan kereta api. Kereta api di Pulau Jawa sangat bisa diandalkan sebagai moda angkutan darat dan menghubungkan banyak kota besar dan kecil di seluruh Jawa.


7-12 Januari 1941, Djogja
Congres Moehammadijah ke-29

Masih segaya dengan beberapa poster sebelumnya, poster Muktamar Muhammadiyah ke-29 yang diselenggarakan di Yogyakarta pada 7-12 Januari 1941 menggambarkan petani yang sedang membajak sawah dengan dua ekor kerbau. Di sisi lain ada penggambaran industrialisasi berupa roda gigi di belakang bapak petani dan gedung besar beserta masjid di latarnya.


24-29 Dec. 1941, Poerwokerto
Congres Moehammadijah ke-30
Mirip dengan poster keluaran sebelumnya, sosok petani masih menjadi "tokoh utama" yang disorot dalam poster Muktamar Muhammadiyah ke-30 yang diselenggarakan di Purwokerto, Banyumas, pada 24-29 Desember 1941 ini. Uniknya, caping yang dikenakan oleh petani pada poster tidak seperti topi caping pada umumnya di Jawa, melainkan lebih mirip seperti caping khas Kalimantan Selatan yang disebut tanggui.


8-11 Juli 2000, Jakarta
Muktamar Muhammadiyah ke-44

Muktamar Muhammadiyah Jakarta 2000 adalah kongres pertama yang dilaksanakan pada milenium kedua tahun Masehi. Posternya memiliki kesan yang jauh lebih modern dan minimalis daripada poster-poster awal muktamar Muhammadiyah yang kaya akan unsur ilustrasi. Terlihat angka 44 berpadu dengan ikon Monumen Nasional dalam warna merah, putih, dan emas, dengan latar surya Muhammadiyah di belakangnya.