Selasa, 25 Oktober 2016

Yang Istimewa dari Lambang Kementerian Pekerjaan Umum

Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat Republik Indonesia barangkali tidak memiliki lambang yang cukup necis, yang membuat para perancang grafis masakini bersorak wah! Padahal, kalau diamat-amati kementerian yang satu ini sesungguhnya mempunyai lambang yang istimewa, tetapi kita terlalu sering melewatkannyasecara harfiah. Lambang Kementerian Pekerjaan Umum atau yang sering disingkat PU ini dapat dengan mudah kita jumpai entah tercetak pada jembatan atau tapal kilometer di kanan-kiri jalan di sekujur Indonesia.


Departemenatau Kementerian PU [nama-nama lembaga Indonesia sering berganti dan memuskilkan; mari kita sebut Kementerian untuk selanjutnya walaupun pada waktu itu disebut departemen] tergolong sebagai pioner pada masanya. Kementerian yang sudah disemai sejak zaman penjajahan Belanda ini adalah kementerian pertama di Republik Indonesia yang memiliki lambang khusus untuk mewakili nama dan citra lembaganya. Pada bulan Agustus 1966, Kementerian Pekerjaan Umum mengadakan sayembara perancangan lambang PU yang pertama. Akan tetapi, panitia tidak mengambil dan menetapkan lambang dari para pemenang sayembara yang pertama. Panitia tersebut lantas mengadakan sayembara untuk kali kedua pada bulan September di tahun yang sama. Pada sayambara yang kedua itu, panitia akhirnya mendapatkan pemenang yang diharapkan. Karya Achmad Dzulfikar terpilih menjadi lambang Kementerian Pekerjaan Umum setelah penyesuaian-penyesuaian yang diminta. Hal ini dimantapkan dalam Kepmen PU No 150/A/KPTS/10 November 1966.



Gagasan utama dari rancangan lambang kementerian ini adalah sebentuk baling-baling. Baling-baling yang berwarna biru tua ini menandakan keadilan sosial, keteguhan hati, kesetiaan pada tugas dan ketegasan dalam bertindak. Sedangkan latar belakang kuning kunyit menandakan keagungan yang juga mengandung arti ke-Tuhanan yang Maha Esa, kedewasaan dan kemakmuran. Namun tunggu dulu, mengapa baling-baling memiliki daun-daun yang berlain-lainan ukuran? Bukankah hal tersebut bertentangan dengan pokok-pokok aerodinamika? Inilah keistimewaannya.

Lambang yang diciptakan Achmad Dzulfikar hampir tepat lima dasawarsa silam ini menerapkan teori Gestalt pada rancangannya. Dibalik keberhasilannya menciptakan lambang yang sederhana tetapi mengena ini, menyelinap rangkaian huruf P.U [huruf P besar, tanda titik, dan huruf U besar] yang terbentuk dari perbedaan terang-gelap antara bidang baling-baling dan latarnya. Hal ini membuat lambang Kementerian Pekerjaan Umum sangat patut dibahas. Ini semacam cangkokan nan elok dari dua jenis lambang sekaligus: lambang-tulisan [logotipe] dan lambang-gambar [logomark] yang dirangkai menggunakan penerapan teori Gestalt. Dan rasa-rasanya hanya perancang ulung yang mampu menguasainya, terlebih pada masa-masa itu keilmuan dan pencaharian di bidang desain grafis baru dalam tahap ancang-ancang.

Meskipun bukan sarjana desain grafis, Achmad Dzulfikar yang seorang insinyur ini telah membuktikan sesuatu dalam sejarah pembikinan lambang di Indonesia. Daya ciptanya tidak dipertanyakan. Maka benar saja pada 2014 lalu, mantan Menteri Pekerjaan Umum Djoko Kirmanto menganugrahkan penghargaan kepada Achmad Dzulfikar yang dianggap telah berjasa menciptakan lambang Kementerian PU. Lambang ini mungkin bukan lambang yang mentereng, tetapi dijamin bisa terus berlagak sepanjang masa tanpa bergaya kedaluwarsa.

Achmad Dzulfikar menerima penghargaan dari Menteri Pekerjaan Umum Djoko Kirmanto

foto diambil dari http://pu.go.id

0 komentar:

Posting Komentar