Saturday, October 22, 2016

Menikmati Kedwiaksaraan di Korea Selatan

Penduduk Korea Raya, Utara maupun Selatan, sudah sepantasnya berbangga dengan aksara Hangul. Setiap tahunnya, kedua negera Korea itu merayakan hari aksara Hangul. Korea Utara memperingatinya pada tanggal 15 Januari dan Korea Selatan merayakannya pada tanggal 9 Oktober. Aksara yang digadang-gadang sebagai yang paling baik dan paling canggih di seluruh dunia ini memiliki rekam sejarah yang jelas, dalam arti bukan kisah legenda seperti awal mula Hanacaraka atau alfabet Yunani. Sekitar abad ke-15, Raja Sejong dari dinasti Joseon merancang aksara sendiri yang jauh lebih sangkil dan mangkus daripada aksara Cina yang dianggap sulit dipelajari rakyat luas. Ia bersama satuan tugas yang ia bentuk kemudian mengerahkan daya cipta dan ilmu pengetahuan untuk menciptakan aksara Hangul dengan sangat cermat.

Hangul terdiri dari sejumlah huruf mati dan huruf hidup yang dapat membentuk balok-balok suku kata. Dari pola huruf yang beberapa saja sudah dapat membentuk ribuan suku kata yang memungkinkan dan dibutuhkan dalam bahasa Korea. Hal ini sangat berhasil meningkatkan taraf melek aksara rakyat Korea kala itu, yang umumnya terkendala permasalahan begitu banyaknya huruf aksara Cina yang harus dihafal.

Keberhasilan itu membawa kemajuan bagi beradaban negeri Korea. Dari yang mulanya huruf buatan kerajaan, kemudian berhasil diterima masyarakat luas, kemudian lahir mesin cetak kayu dan logam, hingga saat ini aksara Korea berhasil mengikat masyarakatnya dalam satu kesatuan budaya. Tipografi Korea adalah salah satu tipografi non-Latin terpenting di dunia, bersama Arab, Sirilik, Yunani, Ibrani, Cina, sistem tulisan Jepang, aksara-aksara di India, dan Thai.

Di zaman yang saling terhubung secara cepat ini, atau yang Marshall McLuhan sebut sebagai Desa Global [Global Village], bangsa Barat sedikit demi sedikit berhasil membawa aksara Latin ke negeri Hangul melalui pertukaran perekonomian dan budaya. Hal ini terjadi utamanya di Korea Setalan, sebab Korea yang satunya sangatlah tertutup dan tidak memungkinkan perdagangan terjadi dengan saudagar-saudagar Barat. Dengan mudah sekali kita dapat menjumpai produk Sprite, Fanta, Pocari Sweat dan lain-lain. Istimewanya, mereka umumnya mempunyai dua logo, yakni logo asli dalam aksara Latin dan logo dalam aksara Hangul. Perusahaan-perusahaan luar negeri pun menaruh tabik kepada bangsa Korea ini dengan bersedia 'dikoreakan'. Kedua lambang tersebut, secara terampil, dirancang dengan kesan rupa yang sama. Hal ini menandakan bahwa perancang grafis berhasil mengalihrupakan lambang asli dari aksara Latin ke dalam aksara Hangul tanpa kehilangan kepribadian merek yang diinginkan.

Perlu diperhatikan bahwa kedwiaksaraan agak sedikit berbeda dengan kedwibahasaan. Hal-hal yang dwiaksara tidak selalu dwibahasa, begitu pula sebaliknya. Contoh-contoh dalam tulisan ini umumnya dwiaksara sebab yang diubah ke dalam Hangul hanyalah nama merek saja, tanpa menerjemahkan misalnya merek Minute Maid ke dalam makna bahasa Korea.

Selain produk dari luar negeri, beberapa produk dalam negeri Korea pun dirancang dwiaksara, yang barangkali untuk memudahkan kaum pendatang untuk membaca dan mengenali suatu produk; atau juga untuk memberikan kesan kebarat-baratan pada suatu citra merek. Apapun itu, inilah beberapa contoh kedwiaksaraan di Korea Selatan yang patut dikagumi karena keindahan dan keterampilan pengalihrupaannya.


Minuman soda Sprite ini yang mengilhami saya untuk menulis artikel ini. Lihat betapa terampilnya sang desainer mengolah logo Sprite dalam aksara Hangul. Jika diperhatikan tiap sisi ternyata sudah memiliki sandingan ragam dwiaksara di bawah logo utama, tetapi berukuran lebih kecil.

Minute Maid buah Maesil tidak akan dijumpai di Indonesia. Buah ini memang membingungkan pertama kalinya bagi saya, apakah ceri? apakah apel? Kemudian kawan Korea saya bilang, "Bukan. Ini Maesil. Maesil ya Maesil." Rasanya terbilang cukup unik. Awalnya saya dan teman Indonesia saya pun tidak suka. Akan tetapi karena melihat teman sekelas membawa minuman ini setiap paginya, saya coba sekali lagi dan ternyata boleh juga.

Oreo di Korea! Perhatikan fitur-fitur tipografi yang dipertahankan, utamanya pada huruf O Latin ke dalam huruf pada aksara Korea yang menandakan ketiadaan huruf mati. Juga pada potongan huruf yang dibikin sedikit membulat.



Minuman ini adalah minuman soda asli Korea yang menandingi Sprite dan 7UP. Kawan asal Singapura dan Brunai Darussalam tergila-gila dengan yang satu ini.

Produk buatan Otsuka ini terbilang cukup unik karena menggunakan nama Java alias Jawa. Java yang biasanya disangkut-pautkan dengan dunia kopi, di minuman TeJava ini malah disangkut-pautkan dengan minuman teh susu. Dengan warna tunggal coklat dan kata-kata pemanis "royal milk tea", seakan-akan ketika meminumnya kita bisa merasakan ketenteraman dari keraton Yogyakarta.


Orang Korea tidak punya huruf F atau V dalam bahasanya, sehingga kebanyakan dari mereka pun tidak mahir mengucapkan huruf tersebut. Bravo jika ditulis ke aksara Hangul menjadi BU-RA-BO. Begitu pula festival akan menjadi BES-TI-BAL dan vanila akan menjadi BA-NI-LA. Nah, orang Sunda dan suku-suku lain di Indonesia seharusnya tidak perlu malu jika tidak bisa bicara F atau V, karena orang Korea pun melakukannya di depan umum berulang kali. Bukan karena mereka tidak bisa, akan tetapi karena semata-mata bunyi huruf tersebut tidak tersedia dalam bahasa mereka.



Beberapa contoh kedwiaksaraan dalam desain kemasan memiliki format desain yang berbeda. Seperti yang bisa dilihat pada contoh di atas, desain dengan aksara Latin dibuat tegak, sedangkan desain dengan aksara Hangul dibikin mendatar.







Tipografi pada muka kemasan Seagram ini terlihat sangat elok. Kita bisa mengamati kata Seagram dirancang dalam gaya huruf Jerman dan ciri khasnya tetap dipertahankan pada ragam logo yang beraksara Hangul.



Begitulah beberapa contoh yang saya lihat sejauh ini di Gwangju, Korea Selatan, secara berurutan berdasarkan waktu. Andai kata, Indonesia membikin aturan ketat agar aksara-aksara daerah bisa dan harus digunakan pada produk-produk yang beredar di suatu provinsi tertentu; alangkah luhur dan bermartabatnya kebudayaan kita semua.

2 comments:

  1. Hal ini yang menarik dari korea, mereka masih menggunakan hangeul di semua produk mereka. Hari aksara mereka juga diperkenalkan melalui beragam acara di tv yang melibatkan banyak artis sebagai duta mereka apalagi kesempatan k-wave di Indonesia.

    Andai di Indonesia demikian, akan sangat menyenangkan. :)

    Nice info dan sukses selalu

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wah terima kasih dukungannya!
      Sukses selalu!

      Delete