Rabu, 10 Juni 2026

Aksara di Tengah Budaya Dominan: Terpinggirkan dalam Hierarki

Moriyama (1995) menyatakan bahwa tidak adanya pusat budaya dan spiritual yang kuat di Jawa Barat membuat pemerintah kolonial Belanda dapat menerapkan kebijakan bahasa hampir tanpa perlawanan. Melalui kebijakan inilah aksara Sunda secara perlahan diposisikan sebagai aksara yang inferior di kalangan para penuturnya sendiri. Ironisnya, budaya Jawa dan Islam yang masuk ke tanah Sunda akibat dominasi Kesultanan Mataram, telah lebih dulu mengerdilkan aksara dan bahasa Sunda. Sehingga, tak butuh waktu lama bagi masyarakat Sunda melupakan sistem tulisannya sendiri yang begitu unik dan kaya akan kebijaksanaan.


Konstruksi Inferioritas terhadap Aksara Sunda

"...tembey datang na prebeda. Bwana alit sumurup ring ganal, metu sanghara...”


Terjemahan: “...perubahan-perubahan datang sebagai hembusan angin yang lembut, dengan postur yang rendah, [membawa] ancaman, dan kehancuran...” (Naskah Carita Parahyangan, dituliskan dalam aksara Sunda Kuno, dibuat di akhir abad ke-16)

Seperti itulah kekalahan Kerajaan Sunda dari Kesultanan Mataram dan Dekrit Bahasa 1848 yang diterbitkan Kerajaan Belanda menyisihkan aksara Sunda di tanahnya sendiri. Perubahan berlangsung pelan, tanpa konflik terbuka, namun menyebabkan kehancuran yang konkret.

Hingga awal abad ke-16, aksara Sunda masih digunakan secara luas. Namun, Kesultanan Mataram yang membawa budaya Jawa dan agama Islam mamaksa masyarakat Sunda untuk mengadopsi aksara Arab (pegon) yang diajarkan secara masif di langgar dan pesantren. Laporan Landsdrukkerij (AVSS 1857:12) mencatat sebanyak 5.128 murid mengisi 224 pesantren di Priangan, menunjukkan imperialisme budaya yang nyata. Sementara itu, kalangan elit (ménak) menyesuaikan diri dengan penguasa baru dan mulai berkomunikasi dalam bahasa serta aksara Jawa.

Keterpinggiran aksara dan bahasa Sunda sudah kukuh ketika Inggris dan Belanda menduduki Nusantara di abad ke-18. Saking langkanya penggunaan aksara Sunda di Priangan, pemerintah kolonial bahkan tidak menyadari kebaradaan aksara tersebut pada awalnya. Bahasa Sunda pun hanya dianggap sebagai salah satu dialek ‘Jawa gunung’ yang dituturkan oleh bergjavanen (orang Jawa gunung) (Moriyama, 1995).

Dekrit Bahasa 1848 yang Menenggelamkan Aksara Sunda

Nasib aksara Sunda kian memburuk ketika Kerajaan Belanda mengeluarkan dekrit kebijakan bahasa pada 1848. Melalui kebijakan ini, pemerintah kolonial memulai program pendirian sekolah pertama bagi masyarakat Jawa dan Sunda: pada 1851 didirikan Sekolah Pelatihan Guru di Surakarta untuk masyarakat Jawa, dan di tahun yang sama sekolah dasar bagi orang Sunda dibuka di Cianjur.

Pada awalnya, bahasa Sunda diakui dan digunakan sebagai bahasa ibu untuk mengajar di sekolah-sekolah Belanda. Buku-buku berbahasa Sunda dan Melayu digunakan sebagai bahan ajar. Seiring waktu, bahasa Melayu dipromosikan sebagai lingua franca dan aksara Latin sebagai medium utama di sekolah, administrasi, dan media cetak. Bahkan, semakin tinggi jenjang pendidikan, semakin sedikit bahasa Sunda digunakan. Moriyama (1995) berargumen, hal ini dilakukan pemerintah kolonial karena alasan praktis: buku beraksara Latin jauh lebih murah dicetak karena lebih hemat ruang dibandingkan aksara Sunda.

Dari situ, buku beraksara Sunda pun semakin jarang dicetak karena semakin sedikit yang mampu membacanya. Pada periode 1860-an hanya ditemukan 11 buku beraksara Sunda, itu pun dicetak dua sisi dengan aksara Latin. Dengan berdirinya Commissie voor de Inlandsche School- en Volkslectuur, Belanda memperketat kebijakan percetakan sehingga buku berbahasa Sunda sulit ditemukan di luar Batavia pada paruh kedua abad ke-19.

Polyglossia dan Hierarki Bahasa

Moriyama (1996) berpendapat, sebenarnya masyarakat Sunda sendiri tidak memiliki kebanggaan atas aksaranya. Itulah kenapa mereka mudah mengadopsi aksara Jawa dan aksara Arab untuk berkomunikasi dalam bahasa Sunda. Maka ketika aksara Latin dipaksakan oleh Belanda, tidak sulit pula bagi mereka untuk menerimanya. Namun, ketidakbanggaan itu bukan muncul di ruang hampa. Ia lahir dari situasi yang disebut polyglossia, yaitu kondisi ketika beberapa bahasa hadir secara hierarkis dalam satu sistem budaya.

Sebelum Belanda datang, masyarakat Sunda menggunakan bahasa berbeda karena alasan praktis: Arab untuk agama, Jawa untuk komunikasi elit dan administrasi, Melayu untuk hubungan luar. Pilihan bahasa bersifat praktis dan situasional.

Memasuki masa kolonial, situasi berubah. Bahasa-bahasa itu tidak lagi sekadar digunakan, tetapi dibanding-bandingkan dan diberi kedudukan yang berbeda. Bahasa Jawa diagungkan sebagai bahasa penguasa. Bahasa Melayu dipandang lebih luas jangkauannya. Bahasa Belanda dikukuhkan sebagai sesuatu yang modern dan berstandar tinggi. Di tengah perbandingan itu, bahasa Sunda terus-menerus terlihat dikecilkan, dilokalkan, dan dikesampingkan. Seperti pemeran figuran yang hadir dan hilangnya tidak begitu penting.

Masyarakat Sunda akhirnya melihat bahasa mereka sendiri dari kaca mata orang lain dan merasa rendah diri. Polyglossia, dengan kata lain, mengubah cara mereka memandang diri sendiri.

Jejak Kejayaan dan Kekayaan Aksara Sunda di Masa Lampau

Dalam The History of Java (1817), Sir Thomas Stamford Raffles menilai bahwa bahasa Sunda bisa jadi merupakan salah satu bahasa vernakular tertua di Indonesia. Menurut Noviana, aksara Sunda berasal dari tradisi aksara Late Southern Brahmi (Griffiths and Lammerts, 2015), berkembang melalui Kawi Kuno, kemudian Kawali, hingga menjadi aksara Sunda kuno. Hanya dalam empat hingga enam abad masyarakat Sunda membentuk aksaranya sendiri, proses yang jauh lebih cepat dibandingkan perkembangan hieratik ke demotik di Mesir yang memakan waktu seribu tahun. Kecepatan ini mencerminkan tingginya intensitas penggunaan aksara tersebut dan tingkat literasi yang mapan di kalangan penuturnya. Sebagai perbandingan, masyarakat Sunda pada periode yang sama juga menggunakan aksara Kawi, tetapi ia tidak mengalami perkembangan berarti karena digunakan terbatas pada teks religius.

Noviana (2020) berpendapat bahwa budaya literasi pada masyarakat Sunda kuno sangat berkembang dan inklusif. Teks Sewaka Darma ditulis oleh seorang perempuan, dan teks Bujangga Manik, Sanhyan Siksa Kandan Karesian, serta Sanhyan Sasana Maha Guru menyebut keberadaan rahib perempuan (“ebon” atau “tiagy”). Kawih Pangeuyeukan juga menggambarkan ritual menenun yang sakral dan khusus dilakukan perempuan secara terperinci. Hal ini, menunjukkan akses perempuan Sunda terhadap literasi dan peran spiritual, kontras dengan mereka di kebudayaan Jawa dan Bali yang lebih banyak diceritakan sebagai objek seksual dan berperan di ranah prokreasi semata dalam naskah-naskah kuno Nusantara.

Memulangkan Aksara Sunda dari Pengasingan

Ironi terbesar dari sejarah ini adalah bahwa aksara yang mati bukan karena tidak pernah digunakan, melainkan karena para penuturnya perlahan dibuat lupa akan nilainya. Kebijakan kolonial, alasan praktis percetakan, dan dominasi budaya asing bersekutu untuk menanamkan apatisme di tanah kelahiran aksara itu sendiri. Ketika sebuah masyarakat kehilangan kebanggaan terhadap warisan tulisannya, aksara itu tidak perlu dihancurkan; ia akan layu dan mati dengan sendirinya. Padahal, seperti yang ditunjukkan oleh naskah-naskah kuno, aksara Sunda bukanlah aksara pinggiran. Ia adalah aksara yang hidup, dinamis, dan digunakan oleh semua lapisan.

Pelestarian aksara Sunda bukanlah pemeliharaan barang antik, melainkan usaha menghidupkan identitas etnis dan menggali worldview yang terkubur oleh tekanan sejarah. Penggunaan aksara Sunda dalam medium modern dan produksi karya sastra akan menjaganya tetap hidup secara kreatif dan kekinian. Relasi kuasa antara bahasa dan aksara Sunda, Jawa, serta Melayu di masa lalu pun harus diajarkan di sekolah-sekolah untuk menumbuhkan kembali kebanggaan yang dulu dipatahkan.


Daftar Pustaka

AVSS. Afgesloten onder ultimo 1855. b. voor Inlanders. 1857. Batavia: Landsdrukkerij.

Moriyama, Mikihiro. (1995). Language Policy in the Dutch Colony: On Sundanese in the Dutch East Indies. Kyoto University: Southeast Asian Studies, VoL 34, No. 1, June1996.

Moriyama, Mikihiro. (1996). Discovering the 'Language' and the 'Literature' of West Java: An Introduction to the Formation of Sundanese Writing in 19th Century West Java. Kyoto University: Southeast Asian Studies, Vol. 34, No. 1, June 1996.

Noviana, Eka. (2020). The Sundanese Script: Visual Analysis of its Development into a Native Austronesian Script. Braunschweig: Institut für Medienforschung Hochschule für Bildende Künste.

Sasmita, Citra. “Timur Merah Project: A Pilgrimage of Narrative, Memory, and Historical Legacy” The Jugaad Project, 3 September 2022, www.thejugaadproject.pub/timur-merah [Diakses pada 23 February 2026]


Karangan ini ditulis oleh Riska Ayu Eka Putri

Jumat, 01 Mei 2026

25 Pepatah Makassar dengan Arti dan Aksara Lontara I

Peribahasa atau pepatah merupakan bagian penting dari budaya dan tradisi masyarakat Makassar di Indonesia. Peribahasa Makassar memuat kekayaan ungkapan, kebijaksanaan, dan nilai-nilai budi pekerti yang diajarkan turun-temurun. Melalui peribahasa, orang Makassar mampu menjaga dan melestarikan gagasan dalam kebudayaan mereka, serta mendapatkan pengetahuan dari pengalaman masa lalu untuk diterapkan di kehidupan sehari-hari. Mari kenali 25 pepatah atau peribahasa Makassar berikut ini.


ᨒᨙᨒᨙᨅᨘᨒᨘᨈ​ᨒᨙᨒᨙᨀ​ᨅᨗᨕ​ᨔ​

Lele bulu tallele kabiasang.
Berubah bulu, tidak akan berubah kebiasaan.
Kebiasaan, khususnya yang buruk, sulit diubah.


ᨅ​ᨍᨗᨅᨗᨑᨗᨈ​ᨊ​ᨈ​ᨔ​ᨅ​ᨍᨗᨑᨘᨄ​ᨊ​ᨁᨕᨘᨀ​

Bajik birittana tasambajik rupanna gauka.
lndah berita, tetapi tidak seindah buktinya.
Ada kalanya berita atau omongan yang kita dengar itu sudah ditambah-tambahi dari hal yang sesungguhnya terjadi.


ᨍᨙᨊᨙᨀ​ᨌᨗᨊᨗᨕᨗᨕ​ᨈᨚᨍ​ᨊ​ᨊᨕᨗᨕᨗᨕ​ᨈᨚᨍ​ᨊ​ᨊᨕᨘ

Jekneka cinik ia tonja nanaik ia tonja nanaung.
Lihatlah air ada saatnya pasang dan ada saatnya pula surut.
Keadaan dalam hidup yang kadang suka dan kadang duka.


ᨍ​ᨑᨘᨊ​ᨅᨚᨐ​ᨄ​ᨀᨘᨒᨘᨈ​ᨄᨙᨒᨒ​

Jarung naboya pangkuluk tappelak.
Jarum dicari, kapak hilang.
Seseorang yang menginginkan sesuatu yang kecil malah kehilangan yang besar.


ᨆ​ᨊ​ᨈᨘ​ᨉᨚᨀᨚᨄ​ᨉ​ᨄᨘᨊ​ᨔᨗᨆ​ᨈ​ᨊᨗᨀᨈᨗᨔᨗᨍ​ᨈ​ᨑ​ᨈ​ᨍᨗ

Mannantu dongkok pakdang punna simata nikantisikja tarang tonji.
Walaupun punggung pedang asalkan diasah terus akhirnya akan tajam juga.
Orang yang bodoh pun jika rajin belajar kelak akan pandai juga.


ᨈᨕᨘᨀ​ᨄ​ᨒ​ᨒᨙᨀᨚᨈᨚᨒᨗᨊ​

Tau kapalak lekok tolinna.
Orang tebal daun telinganya.
Orang tahan terhadap sindiran atau olok-olok orang lain.


ᨈᨙᨊ​ᨄ​ᨀᨊᨘᨀᨘᨊ​ᨊᨕᨙᨑᨚᨆᨚᨕ​ᨂᨑ​ᨆᨘᨔᨘ

Tenapa kanukunna naerokmo anngarakmusuk.
Belum berkuku sudah mau menggaruk.
Orang yang belum memiliki kuasa, tetapi sudah berani menindak orang lain.


ᨀ​ᨈᨗᨂᨒᨚᨆ​ᨈᨙᨑᨗᨈ​ᨄ​ᨑ​ᨂᨊ​ᨊᨕ​ᨑ​ᨈᨙᨉᨚᨆ​ᨈᨙᨑᨗᨕᨙᨅ​ᨊ​ᨊ​ᨈ​ᨊᨕ​ᨑ​

Katingalo mate ri tamparanga na naarak, tedong mate ri embana na tanaarak.
Lalat mati di laut dirasa, kerbau mati di halaman rumahnya tidak dirasa.
Seseorang yang mengawasi dan mengumbar dan kejelekan orang lain, sedangkan kejelekannya sendiri tidak diketahui.


ᨊᨗᨑᨄᨂᨗᨁᨚᨒᨊᨊᨗᨈᨅᨕᨗᨉᨉᨗ

Nirapangi golla na nitambai dadik.
Ibarat gula ditambah pula dengan susu.
Orang yang sudah baik dan masih mempunyai kelebihan sifat-sifat baik lainnya.


ᨕᨈᨆᨕᨗᨈᨒᨘᨕᨔᨘᨒᨘᨀᨗᨕᨄ

Antamai tallu, assuluki appak.
Masuk tiga, keluar empat.
Pengeluaran lebih besar daripada pendapatan.


ᨅᨍᨗᨀᨂᨂᨗᨈᨈᨗᨒᨗᨂᨊᨕᨗᨕᨈᨒᨂ

Bajikangangi tattilinga naia tallanga.
Lebih baik miring daripada tenggelam.
Lebih baik rugi daripada kehilangan seluruhnya.


ᨈᨙᨊᨊᨒᨑᨗᨈᨄᨑᨂ

Tena nalari tamparanga.
Laut tidak akan lari.
Jangan tergesa-gesa dalam mengerjakan sesuatu.


ᨀᨘᨕᨒᨙᨕᨂᨗᨈᨒᨂᨊᨈᨚᨕᨒᨗᨕ

Kualleangi tallanga na toalia.
Lebih baik tenggelam daripada surut kembali.
Pantang menyerah sebelum meraih apa yang dicita-citakan.


ᨀᨆᨈᨚᨂᨗᨈᨕᨘᨕᨂᨘᨀᨗᨑᨗᨀᨑᨗᨍᨙᨊᨙᨀ

Kamma tongi tau anngukirika ri jekneka.
Seperti orang menulis diatas air.
Melakukan perbuatan yang sia-sia.


ᨄᨊᨙᨕᨒᨙᨌᨗᨊᨗᨑᨗᨄᨆᨈᨂᨊᨅᨗᨕᨔᨈᨚᨍᨗᨕᨈᨘᨔᨗᨁᨙᨈᨚᨁᨙᨈᨚ

Panne alle cinik ri pamantanganna biasa tonji antu sigentok-gentok.
Perhatikanlah piring di tempatnya sering pula berbenturan.
Pasangan suami istri yang rukun sekalipun suatu waktu akan merasakan perselisihan.


ᨕᨆᨚᨈᨙᨑᨙᨀᨗ ᨅᨚᨔᨗᨕ ᨊᨕᨗ ᨄᨚᨒᨙ ᨑᨗ ᨒᨂᨗᨀ

Ammotereki bosia naik pole ri langika.
Hujan kembali lagi ke langit.
Keadaan yang terbolak-balik, seperti orang kaya meminta bantuan kepada orang miskin, orang pintar meminta nasehat pada orang bodoh.


ᨀᨚᨈᨘᨕᨗᨍᨙᨊᨙᨔᨗᨆᨈᨆᨔᨚᨒᨚᨊ

Kontui jeknek simata massolonna.
Bagaikan air yang selalu mengalir.
Orang yang senantiasa memberi pertolongan.


ᨈᨀᨘᨒᨙᨕᨕᨗᨊᨗᨈᨁᨒᨈᨕᨘᨈᨕᨘᨊ

Takkulleai nitakgalak taun-taunna.
Tidak dapat ditangkap bayangannya.
Orang yang pandai bicara dan pandai mencari alasan.


ᨕᨒᨒᨑᨗᨕᨉᨔᨗᨕᨁᨑᨗᨔᨑ

Aklaklang ri adak siagang ri sarak.
Bernaung pada adat dan agama.
Sesuai dengan aturan adat dan agama (syariat).


ᨀ​ᨆ​ᨈᨚᨂᨗᨒᨙᨀᨚᨀ​ᨐᨘᨊᨕᨗᨑᨗᨀᨕ​ᨂᨗ

Kamma tongi lekok kayu nairika anging.
Bagaikan daun yang tertiup angin.
Seseorang yang patuh menjalankan perintah.


ᨊᨗᨕᨙᨅ​ᨑ​ᨀᨗ ᨀ​ᨑᨙᨀ​ᨑᨙᨕ ᨌᨘᨌᨘᨑᨘ ᨅ​ᨐᨕᨚᨊ​

Niebaraki kanre-kanreang cucuruk bayaona.
Ibarat makanan, ia adalah kue cucur telur.
Seseorang yang sempurna, seperti rupawan, kaya, dermawan, baik hati, dsb.


ᨕ​ᨒ​ᨒ ᨑᨗ ᨕ​ᨉ ᨔᨗᨕ​ᨁ ᨑᨗ ᨔ​ᨑ​

Aklaklang ri adak siagang ri sarak.
Bernaung pada adat dan agama.
Tidak menyalahi ketentuan adat dan agama.


ᨈᨕᨙᨊ ᨊ​ᨔ​ᨑ ᨕ​ᨒᨚᨕ ᨑᨗ ᨈ​ᨂᨊ ᨒ​ᨂᨗᨀ​

Taena nasakrak alloa ri tanngana langika.
Tidak akan terbenam matahari di tengah langit.
Seseorang tidak akan meninggal jika belum waktunya.


ᨊᨗᨕᨙᨅ​ᨑ​ᨀᨗ ᨍᨙᨊᨙ ᨊ ᨍᨘᨀᨘ ᨒ​ᨒᨚᨊ​

Niebaraki jeknek na jukuk lalona.
Ibarat air dengan ikan.
Pasangan yang sangat serasi.


ᨈᨕᨘ ᨈ​ᨊᨗᨕ​ᨀ ᨊ​ᨊᨗᨑᨘᨅᨘᨕᨗ ᨕᨘᨅᨙ ᨄᨙᨄᨙ

Tau taniakka nanirumbui umbe pepek.
Orang yang tidak pernah terkena asap.
Seseorang yang tidak pernah memasak di dapur karena sudah memiliki banyak pembantu yang bekerja untuknya, maksudnya orang kaya yang hidup nyaman dan mewah.

Kamis, 19 Maret 2026

Lirik Lagu Lamunan: Aksara Jawa dan Terjemahan Bahasa Indonesia

Lamunan merupakan salah satu lagu Jawa yang paling banyak didengarkan baru-baru ini. Lagu ini diciptakan oleh Wahyu F. Giri yang dirilis sebagai singgel pada Januari 2024. Lagu yang mengesankan kerinduan terhadap kekasih ini memiliki lirik yang puitis dan pilihan kata bahasa Jawa yang indah dan sastrawi. Berikut lirik Lamunan berserta aksara Jawa dan terjemahan bahasa Indonesia versi yang dinyanyikan oleh Niken Salindry.


ꦥꦶꦤ꧀ꦝ​ꦱꦩꦸꦢꦿ​ꦥꦱꦁ​​ꦏꦁ​​ꦠꦤ꧀ꦥ​ꦮꦔꦼꦤ꧀ꦤꦤ꧀꧉
Pindhå samudrå pasang kang tanpå wangenan
Bagaikan samudra pasang tiada akhir

ꦠꦽꦱ꧀ꦤꦏꦸ​ꦩꦿꦶꦁ​​ꦱ꧀ꦭꦶꦫꦩꦸ​ꦱꦪꦁ​꧉
Tresnaku mring sliramu, Sayang
Cintaku kepadamu, Sayang

ꦕꦲꦾꦤꦶꦁ​​ꦧꦸꦭꦤ꧀ꦏꦁ​​ꦱꦸꦩꦸꦤꦂ​ꦲꦧꦾꦺꦴꦂ​ꦲꦶꦁ​​ꦠꦮꦁ​꧉
Cahyaning mbulan kang sumunar abyor ing tawang
Cahaya rembulan yang memancar gemerlap di langit

ꦪꦼꦏ꧀ꦠꦶ​ꦱ꧀ꦭꦶꦫꦩꦸ​ꦏꦁ​​ꦢꦢꦶ​ꦭꦩꦸꦤ꧀ꦤꦤ꧀꧉
Yekti sliramu kang dadi lamunan
Sungguhlah dirimu yang menjadi lamunan


ꦱꦸꦩꦿꦶꦧꦶꦢ꧀ꦲꦔꦶꦤ꧀ꦫꦠꦿꦶꦠꦤ꧀ꦱꦃꦲꦔꦤ꧀ꦛꦺꦤꦶ꧉​
Sumribid angin ratri tansah hanganthèni
Semilir angin malam senantiasa menemani

ꦱꦺꦠꦾ​ꦤꦿꦗꦁ​​ꦠꦼꦊꦁ​ꦔꦶꦁ​​ꦲꦠꦶ꧉
Setyå nrajang telenging ati
Setia menerjang kekasih hati

ꦲꦔꦼꦤ꧀ꦲꦔꦼꦤ꧀ꦠꦸꦩ꧀ꦭꦮꦸꦁ​​ꦱꦸꦮꦸꦁ​ꦲꦶꦁꦮꦼꦔꦶꦱꦼꦥꦶ꧉
Angen-angen tumlawung suwung ing wengi sepi
Angan-angan bergema sunyi di sepinya malam

ꦠꦤ꧀ꦱꦃ​ꦲꦔꦿꦤ꧀ꦠꦶ​ꦠꦼꦏꦩꦸ​ꦝꦸꦃ​ꦪꦪꦶ꧉
Tansah angranti tekamu, dhuh, Yayi
Selalu menantikan kedatanganmu, Kasih


ꦮꦺꦴꦁ​​ꦲꦪꦸ​ꦲꦒꦺ​ꦚꦼꦝꦏ꧀ꦏ​ꦲꦶꦁ​​ꦱꦤ꧀ꦝꦶꦁ​ꦏꦸ꧉
Wong Ayu, agé nyedhakå ing sandhingku
Gadis Cantik, mendekatlah ke sisiku

ꦚꦮꦁ​​ꦩꦤꦶꦱ꧀ꦱꦶꦁ​​ꦲꦺꦱꦼꦩ꧀ꦩꦸ꧉
Nyawang manising èsemu
Memandangi manisnya senyumanmu

ꦒꦮꦺ​ꦊꦉꦩ꧀ꦩꦺ​ꦫꦱꦏꦸ​ꦠꦼꦤ꧀ꦠꦽꦩ꧀ꦲꦶꦁꦲꦠꦶꦏꦸ꧉
Gawé leremé rasaku, tentrem ing atiku
Membuat tenang perasaanku, tenteram di hatiku

ꦲꦪ꧀ꦮ​ꦥꦼꦒꦠ꧀ꦠꦽꦱ꧀ꦤꦩꦸ​ꦱꦪꦁꦏꦸ꧉
Haywå pegat tresnamu, Sayangku
Janganlah terputus cintamu, Sayangku


ꦥꦶꦤ꧀ꦝ​ꦱꦩꦸꦢꦿ​ꦥꦱꦁ​​ꦏꦁ​​ꦠꦤ꧀ꦥ​ꦮꦔꦼꦤ꧀ꦤꦤ꧀꧉
Pindhå samudrå pasang kang tanpå wangenan
Bagaikan samudra pasang tiada akhir

ꦠꦽꦱ꧀ꦤꦏꦸ​ꦩꦿꦶꦁ​​ꦱ꧀ꦭꦶꦫꦩꦸ​ꦱꦪꦁ​꧉
Tresnaku mring sliramu, Sayang
Cintaku kepadamu, Sayang

ꦕꦲꦾꦤꦶꦁ​​ꦧꦸꦭꦤ꧀ꦏꦁ​​ꦱꦸꦩꦸꦤꦂ​ꦲꦧꦾꦺꦴꦂ​ꦲꦶꦁ​​ꦠꦮꦁ​꧉
Cahyaning mbulan kang sumunar abyor ing tawang
Cahaya rembulan yang memancar gemerlap di langit

ꦪꦼꦏ꧀ꦠꦶ​ꦱ꧀ꦭꦶꦫꦩꦸ​ꦏꦁ​​ꦢꦢꦶ​ꦭꦩꦸꦤ꧀ꦤꦤ꧀꧉
Yekti sliramu kang dadi lamunan
Sungguhlah dirimu yang menjadi lamunan


ꦮꦺꦴꦁꦲꦪꦸ꧈​ꦲꦒꦺ​ꦚꦼꦝꦏ꧀ꦏ​ꦔꦼꦏꦼꦥ꧀ꦫꦒꦏꦸ꧉
Wong Ayu, agé nyedhakå ngekep ragaku
Gadis Cantik, mendekatlah dekap badanku

ꦱꦶꦂꦤꦤ​ꦭꦫ​ꦧꦿꦤ꧀ꦠ​ꦲꦶꦁ​​ꦲꦠꦶꦏꦸ꧉
Sirnaknå lårå bråntå ing atiku
Hilangkanlah rindu yang menggebu-gebu di hatiku

ꦲꦩꦼꦂꦒ​ꦏꦧꦶꦝꦸꦁ​​ꦮꦼꦮꦪꦁ​ꦩꦸ​ꦲꦶꦁ​​ꦥꦶꦏꦶꦂꦏꦸ꧉
Amergå kabidhung wewayangmu ing pikirku
Karena dihantui bayang-bayangmu di pikiranku

ꦲꦪ꧀ꦮ​ꦥꦼꦒꦠ꧀ꦠꦽꦱ꧀ꦤꦩꦸ​ꦱꦪꦁꦏꦸ꧉
Haywå pegat tresnamu, Sayangku
Janganlah terputus cintamu, Sayangku


ꦥꦶꦤ꧀ꦝ​ꦱꦩꦸꦢꦿ​ꦥꦱꦁ​​ꦏꦁ​​ꦠꦤ꧀ꦥ​ꦮꦔꦼꦤ꧀ꦤꦤ꧀꧉
Pindhå samudrå pasang kang tanpå wangenan
Bagaikan samudra pasang tiada akhir

ꦠꦽꦱ꧀ꦤꦏꦸ​ꦩꦿꦶꦁ​​ꦱ꧀ꦭꦶꦫꦩꦸ​ꦱꦪꦁ​꧉
Tresnaku mring sliramu, Sayang
Cintaku kepadamu, Sayang

ꦕꦲꦾꦤꦶꦁ​​ꦧꦸꦭꦤ꧀ꦏꦁ​​ꦱꦸꦩꦸꦤꦂ​ꦲꦧꦾꦺꦴꦂ​ꦲꦶꦁ​​ꦠꦮꦁ​꧉
Cahyaning mbulan kang sumunar abyor ing tawang
Cahaya rembulan yang memancar gemerlap di langit

ꦪꦼꦏ꧀ꦠꦶ​ꦱ꧀ꦭꦶꦫꦩꦸ​ꦏꦁ​​ꦢꦢꦶ​ꦭꦩꦸꦤ꧀ꦤꦤ꧀꧉
Yekti sliramu kang dadi lamunan
Sungguhlah dirimu yang menjadi lamunan


ꦥꦶꦤ꧀ꦝ​ꦱꦩꦸꦢꦿ​ꦥꦱꦁ​​ꦏꦁ​​ꦠꦤ꧀ꦥ​ꦮꦔꦼꦤ꧀ꦤꦤ꧀꧉
Pindhå samudrå pasang kang tanpå wangenan
Bagaikan samudra pasang tiada akhir

ꦠꦽꦱ꧀ꦤꦏꦸ​ꦩꦿꦶꦁ​​ꦱ꧀ꦭꦶꦫꦩꦸ​ꦱꦪꦁ​꧉
Tresnaku mring sliramu, Sayang
Cintaku kepadamu, Sayang

ꦕꦲꦾꦤꦶꦁ​​ꦧꦸꦭꦤ꧀ꦏꦁ​​ꦱꦸꦩꦸꦤꦂ​ꦲꦧꦾꦺꦴꦂ​ꦲꦶꦁ​​ꦠꦮꦁ​꧉
Cahyaning mbulan kang sumunar abyor ing tawang
Cahaya rembulan yang memancar gemerlap di langit

ꦪꦼꦏ꧀ꦠꦶ​ꦱ꧀ꦭꦶꦫꦩꦸ​ꦏꦁ​​ꦢꦢꦶ​ꦭꦩꦸꦤ꧀ꦤꦤ꧀꧉
Yekti sliramu kang dadi lamunan
Sungguhlah dirimu yang menjadi lamunan

ꦪꦼꦏ꧀ꦠꦶ​ꦱ꧀ꦭꦶꦫꦩꦸ​ꦏꦁ​​ꦢꦢꦶ​ꦭꦩꦸꦤ꧀ꦤꦤ꧀꧉
Yekti sliramu kang dadi lamunan
Sungguhlah dirimu yang menjadi lamunan

Rabu, 18 Februari 2026

Kosakata Warna dalam Bahasa Gorontalo

Warna merupakan bagian yang dekat dengan kehidupan sehari-hari. Kita menggunakannya untuk menggambarkan benda, alam, pakaian, hingga berbagai hal di sekitar kita. Dalam bahasa Gorontalo (Hulontalo), warna juga memiliki beragam kosakata yang kaya dan menarik untuk dikenali. Yuk, kenalan dengan nama-nama warna dalam bahasa Gorontalo dan temukan beragam istilah yang dimiliki salah satu bahasa daerah dari pulau Sulawesi!

Daftar nama-nama warna dalam bahasa Gorontalo (bagian atas) dan bahasa Indonesia (bagian bawah):


meelamo
merah


molalahu
kuning


wahu'ente
biru


moyidu
hijau


sakulati
cokelat


layilowumu
ungu


lamuto
merah muda


wobulo
abu-abu


moputi'o
putih


moyitomo
hitam


Ditulis kembali dari konten Komunitas Wikimedia Gorontalo.

Jumat, 31 Oktober 2025

Lirik Lagu Kusuma Wijaya: Aksara Jawa dan Terjemahan Bahasa Indonesia

Kusuma Wijaya merupakan salah satu lagu Jawa yang paling banyak didengarkan baru-baru ini. Lagu ini diciptakan oleh Rendra Kemana. Lagu yang mengesankan kerinduan dan kehilangan terhadap sosok terkasih ini memiliki lirik yang puitis dan pilihan kata bahasa Jawa yang indah dan sastrawi. Berikut lirik Kusuma Wijaya berserta aksara Jawa dan terjemahan bahasa Indonesia versi yang dinyanyikan oleh Nugraha Pawestri.


ꦭꦸꦁ​ꦔꦶꦁ​​ꦩꦼꦏꦂꦭꦤ꧀ꦱꦼꦩꦶ꧉
Lunging mekar lan semi
Kuncup sulurnya mekar dan bersemi

ꦥꦸꦱ꧀ꦥꦶꦠ​ꦲꦶꦁ​​ꦠꦩꦤ꧀ꦱꦫꦶ꧉​
Puspitå ing taman sari
Puspa di kebun bunga

ꦩꦔ꧀ꦭꦸꦁ​ꦩꦤꦸꦁꦱꦸꦁ​ꦮꦼꦔꦶ꧉​
Manglung manungsung wengi
Menunduk menyambut malam

ꦏꦭꦮꦤ꧀​ꦮꦸꦭꦤ꧀ꦤꦺ​ꦢꦢꦫꦶ꧉​
Kalawan wulané ndadari
Ditemani bulan purnama


ꦔꦩ꧀ꦧꦂ​ꦫꦸꦩ꧀ꦱꦱ꧀ꦩꦶꦠ꧉
Ngambar rum sasmitå
Menyerbakkan wangi pertanda

ꦱꦁ​ꦏꦸꦩ꧀ꦧꦁ​ꦮꦼꦮꦪꦁ꧉
Sang kumbang wewayang
Sang kumbang datang

ꦔꦿꦁ​ꦱꦁ​​ꦥꦸꦕꦸꦏ꧀ꦱꦫꦶꦤꦶꦁ​​ꦏꦼꦩ꧀ꦧꦁ​꧈​ꦏꦼꦩ꧀ꦧꦁ​꧉
Ngrangsang pucuk sarining kembang, kembang
Menyentuh benang sari bunga, bunga


ꦏꦸꦱꦸꦩꦤꦶꦁ​​ꦫꦠꦿꦶ​ꦩꦸꦁ​​ꦱꦮꦶꦗꦶ꧉​
Kusumaning ratri mung sawiji
Hanya sekuntum bunga malam

ꦏꦶꦤꦤ꧀ꦛꦶ​ꦩꦩꦠꦿꦶ​ꦱꦗꦿꦺꦴꦤꦶꦁ​​ꦲꦠꦶ​ꦏꦁ​​ꦱꦸꦕꦶ꧉​
Kinanthi mematri sajroning ati kang suci
Bersama menyatu dalam hati yang suci

ꦭꦶꦤ꧀ꦠꦁ​​ꦭꦶꦤ꧀ꦠꦁ​​ꦥꦚ꧀ꦗꦼꦂ​ꦲꦤ​ꦲꦤ꧀ꦠꦫꦶꦏ꧀ꦱ꧉
Lintang-lintang panjer ånå antarikså
Gemintang berkilauan di angkasa

ꦲꦩꦶꦩ꧀ꦧꦸꦃꦲꦶ​ꦲꦪꦸ​ꦱꦁ​​ꦫꦶꦤ꧉​
Amimbuhi ayu sang rinå
Menambah indahnya hari

ꦏꦸꦱꦸꦩ​ꦮꦶꦗꦪ꧉​
Kusumå Wijåyå
Kusuma Wijaya

Senin, 14 Juli 2025

Deretan Fontasi Paling Norak Sepanjang Masa

Dalam dunia rancang-merancang, fontasi bukan hanya mengenai lekukan bentuk huruf, tetapi juga soal rasa yang mampu ditimbulkan. Sayangnya, tidak semua fontasi yang dirancang selalu ditafsirkan sebagai sesuatu yang indah atau fungsional. Ada fontasi-fontasi yang selain indah juga mampu berfungsi dengan baik dan "mengerti tugasnya", tetapi ada juga yang membuat mata pemirsanya membelalak karena saking noraknya. Persepsi tentang kenorakan ini sesungguhnya lahir dari banyak sumber perkara, dua di antaranya adalah penggunaan yang sudah berlebihan dan terlalu sering, serta bergesernya selera gaya desain umum alias menjadi ketinggalan zaman. Setidaknya dari kacamata hari ini, mari kita intip sederet fontasi paling norak sepanjang masa yang sewaktu-waktu masih bisa kita jumpai di jalanan!

Comic Sans
Apabila Anda menanyakan fontasi apa yang paling dibenci oleh perancang grafis, orang akan dengan mudahnya menjawab Comic Sans! Fontasi bikinan Vincent Connare yang dirilis oleh Microsoft pada tahun 1994 ini mulanya sangat populer dan dicintai oleh khalayak ramai sehingga dapat dengan mudah ditemui di mana-mana bahkan di materi desain yang tidak seharusnya sekalipun. Dari banyaknya "ketidaksesuaian" penempatan fontasi ini—yang dilakukan oleh masyarakat umum dan tukang cetak awam—membuat banyak desainer grafis naik darah. Pasalnya, desainnya yang kekanak-kanakkan dan santai ini bisa ditemui digunakan untuk menuliskan dokumen penting, papan peringatan, dan materi desain formal lainnya. Hal tersebut dianggap menyalahi tujuan dan tugas sejati dari Comic Sans. Oleh karena itu, banyak desainer grafis dari berbagai belahan dunia memerangi penggunaan Comic Sans di materi desain apapun, bahkan untuk keperluan yang santai. Walaupun belakangan, terdapat semacam penyadaran bersama bahwa Comic Sans sesungguhnya tidak salah apa-apa, dan malahan kenorakan Comic Sans sendiri bisa digunakan oleh desainer profesional untuk membangkitkan rasa dan kenangan yang konyol nan lucu dari dekade yang telah berlalu.


Sedikit tambahkan kecil, Google ikut merayakan fontasi yang dicaci namun dicinta masyarakat ini dengan mengganti fontasi situs pencariannya dengan Comic Sans ketika Anda mengetikkan "Comic Sans" di kolom pencarian. Boleh dicoba! Beberapa desainer juga mencoba "memperbaiki" Comic Sans dengan mengeluarkan ragam dan penafsiran mereka sendiri terhadap Comic Sans dan tugasnya, beberapa di antaranya seperti Comic Neue oleh Craig Rozynski bersama Hrant Papazian dan Chalkboard oleh Apple.

Jokerman
Fontasi "paling badut" yang satu ini, Jokerman, dirancang oleh Andrew Smith pada tahun 1995 dan dirilis oleh ITC (International Typeface Corporation) dan Microsoft. Font ini dikenal karena gayanya yang sangat dekoratif dan bahkan tampak sedikit konyol, sesuai dengan namanya yang mengacu pada tokoh "joker" alias pelawak. Pada mulanya, fontasi ini banyak yang menggunakan karena orang-orang terpikat dengan tampilannya yang nyentrik. Meskipun demikian, lambat laun fontasi badut ini sudah semakin jarang kita temui dalam materi desain sehari-hari seiring dengan bergantinya tren, banyaknya pilihan fontasi yang tersedia bebas, dan kemajuan literasi desain masyarakat.

Papyrus
Papyrus merupakan fontasi bergaya goresan tangan yang dirancang oleh Chris Costello pada tahun 1982. Maksud dari dirancangnya fontasi ini adalah untuk menggambarkan ciri khas tulisan tangan pada naskah kuno dari Timur Tengah yang umumnya bermediakan kertas papirus. Huruf-hurufnya didesain dengan tepian yang kasar, lengkungan yang tidak teratur, dan guratan tegak yang tinggi pada huruf besarnya. Sebagai salah satu fontasi populer yang memiliki desain yang begitu berbeda dengan yang lain, Papyrus banyak dipilih untuk digunakan oleh masyrakat awam, bahkan untuk keperluan yang tidak berkaitan dengan masa lalu, sejarah, atau Timur Tengah—membuatnya terkesan norak ketika keluar dari konteks aslinya. Meskipun demikian, penggunaan fontasi Papyrus yang tepat dapat menjadi keputusan desain yang bagus, seperti pada contoh yang paling terkenal, yaitu penggunaan Papyrus yang telah disesuaikan untuk tipografi judul filem Avatar (2009).
Algerian
Algerian adalah salah satu contoh model huruf norak yang masih ada yang menggunakan hingga saat ini. Nuansa tebal, tegas, dan dekoratif membuat masyarakat awam tertarik untuk menggunakannya dalam berbagai keperluan desain. Efek bayangan yang dimiliki fontasi ini juga membuat desainnya semakin ramai. Seluruh ciri-cirinya berpadu membuatnya terkesan jadul atau retro, tetapi juga terlihat mencolok. Walaupun demikian, penggunaan dan pengolahan yang tepat mungkin bisa membuat hasil akhir desain dengan fontasi ini tetap menjadi bagus, terlebih jika menggunakan ragam Algerian Plain tanpa tambahan efek bayangan di bawahnya.
Curlz MT
"Ular melingkar-lingkar di atas pagar." Kurang lebih seperti itulah fontasi Curlz MT. Didesain oleh Carl Crossgrove dan Steve Matteson pada tahun 1995 untuk Agfa Monotype, fontasi ini menampilkan gelung-gelung melingkar menyerupai pucuk pakis atau gulungan pita, memberikannya kesan kekanak-kanakan, kecewek-cewekan, dan penuh keceriaan. Curlz MT sering digunakan untuk keperluan acara ulang tahun anak kecil atau produk-produk yang ingin terlihat ceria dan lucu, seolah-olah ditulis oleh peri atau tokoh dari negeri dongeng. Meskipun demikian, takaran keceriaan dan kelucuan yang berlebihan membuat fontasi Curlz MT menjadi norak jika digunakan dan dianggap ketinggalan zaman. Fontasi lainnya dengan rancangan yang ceria tetapi lebih kalem mungkin saat ini sedang menjadi primadona dalam dunia desain.
Ravie
Ravie memancarkan aura keceriaan seperti Curlz MT melalui bentuk geliang-geliut hurufnya, tetapi memiliki ketebalan yang jauh lebih gendut. Lekukannya yang tebal boleh jadi membuat Ravie lebih mencolok dan enak dibaca dalam ukuran besar. Jenis huruf ini digambar oleh Ken O'Brien dari tahun 1993 hingga 1994, saat menjadi peserta didik di Art Center di Pasadena, California. Fontasi ini dirancang untuk keperluan pesta anak muda atau kegiatan santai lainnya, sangat cocok juga untuk desain makanan ringan anak-anak—khususnya pada tahun-tahun 90-an atau 2000-an awal. Akan tetapi, desain yang mencolok dan sudah sering dipakai menjadikan fontasi Ravie tampak norak, sehingga Anda mungkin perlu memilih alternatif fontasi lainnya jika ingin menggunakan rancangan huruf seperti Ravie.
Lobster
Lobster sesungguhnya merupakah sebuah fontasi yang apik karena berhasil menciptakan desain yang rapi, konsisten, tetapi tetap santai. Walaupun demikian, fontasi ini tak kalah dibenci karena terlalu sering dipakai dan gayanya yang cukup mencolok dan agak retro. Fontasi buatan Impallari Type yang dikeluarkan tahun 2010 ini dapat dengan mudah ditemui di berbagai brosur, web, dan poster, terutama di kalangan desainer amatiran, sehingga sering dikaitkan dengan pilihan desain yang sudah basi dan kurangnya eksplorasi desain.
Gigi
Jenis huruf pampangan yang dirancang oleh Jill Bell ini memiliki gaya yang sangat khas dan aneh, khususnya terlihat pada bentuk-bentuk hurufnya yang tidak beraturan, melengkung-lengkung, dan memiliki gerigi atau bopengan-bopengan pada goresannya. Ini adalah salah satu fontasi yang terlalu banyak digunakan dan gayanya yang terlalu mencolok sudah dianggap ketinggalan zaman.


Beberapa fontasi lainnya ...
Beberapa fontasi lainnya yang mungkin Anda harus pikirkan dua kali sebelum menggunakannya atau memerlukan perlakuan dan eksplorasi desain khusus karena kenorakannya, yaitu Blackadder, Chiller, Berlin Sans, Harrington, Juice ITC, Mistral, Pristina, Showcard Gothic, Snap ITC, dan Viner Hand.

Senin, 28 April 2025

Daftar Batu Mulia dan Semi-Mulia dalam Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris

Batu mulia dan batu semi-mulia merupakan istilah yang umum digunakan untuk menyebut mineral, batuan, atau bahan organik yang memiliki nilai keindahan untuk dimanfaatkan sebagai perhiasan atau pernak-pernik lainnya. Keindahannya dapat berasal baik dari warna, kejernihan, kemilau, pola, maupun karakter optik lainnya. Beberapa di antaranya telah dikenal dan diperdagangkan sejak ribuan tahun lalu dan memiliki tempat khusus dalam berbagai kebudayaan di dunia.

Istilah "batu mulia" dan "batu semi-mulia" tidak memiliki batas klasifikasi yang sepenuhnya baku. Dalam penggunaan tradisional, batu mulia sering dikaitkan dengan jenis yang dianggap paling berharga, seperti intan, rubi, safir, dan zamrud, sedangkan istilah batu semi-mulia digunakan untuk berbagai jenis batu permata lainnya yang lebih terjangkau. Namun, nilai sebuah batu tidak semata-mata ditentukan oleh kategorinya, melainkan juga oleh kelangkaan, kualitas, warna, ukuran, kejernihan, dan banyaknya permintaan. Artikel ini menyajikan daftar batu yang umum dikenal sebagai batu mulia dan semi-mulia, khususnya yang cukup akrab di telinga orang Indonesia, beserta padanannya dalam bahasa Inggris dan alih aksaranya dalam aksara Sunda sebagai tambahan.


BACAN
ᮘᮎᮔ᮪
Chrysocolla


KALIMAYA
ᮊᮜᮤᮙᮚ
Opal


MERAH DELIMA
ᮙᮦᮛᮂ ᮓᮨᮜᮤᮙ
Ruby


KECUBUNG
ᮊᮨᮎᮥᮘᮥᮀ
Amethyst


INTAN
ᮄᮔ᮪ᮒᮔ᮪
Diamond


BADAR BESI
ᮘᮓᮁ ᮘᮨᮞᮤ
Hematite


AKIK
ᮃᮊᮤᮊ᮪
Agate


ZAMRUD
ᮐᮙᮢᮥᮓ᮪
Emerald


HIJAU GARUT
ᮠᮤᮏᮅ ᮌᮛᮥᮒ᮪
Chrysoprase


ATI AYAM
ᮃᮒᮤ ᮃᮚᮙ᮪
Red Jasper


SAFIR
ᮞᮖᮤᮁ
Sapphire


BADAR EMAS
ᮘᮓᮁ ᮈᮙᮞ᮪
Pyrite


PIRUS
ᮕᮤᮛᮥᮞ᮪
Turquoise


BIDURI SURYA
ᮘᮤᮓᮥᮛᮤ ᮞᮥᮛᮡ
Sunstone


GIOK
ᮌᮤᮇᮊ᮪
Jade


KUARSA MAWAR
ᮊᮥᮃᮁᮞ ᮙᮝᮁ
Rose Quartz


LABRADOR
ᮜᮘᮢᮓᮧᮁ
Labradorite


AMBAR
ᮃᮙ᮪ᮘᮁ
Amber/Barnsten


NAGA SUI
ᮔᮌ ᮞᮥᮄ
Bloodstone


BIDURI BULAN
ᮘᮤᮓᮥᮛᮤ ᮘᮥᮜᮔ᮪
Moonstone


RATNA CEMPAKA
ᮛᮒ᮪ᮔ ᮎᮨᮙ᮪ᮕᮊ
Topaz


MATA KUCING
ᮙᮒ ᮊᮥᮎᮤᮀ
Cat's Eye


BIRU LAUT
ᮘᮤᮛᮥ ᮜᮅᮒ᮪
Aquamarine


LAZUARDI
ᮜᮐᮥᮃᮁᮓᮤ
Lapis lazuli


KINYANG AIR
ᮊᮤᮑᮀ ᮃᮄᮁ
Ice quartz


Minggu, 06 April 2025

Berbagai Jenis Umbi Pangan dalam Bahasa Jawa

Tidak hanya nasi, masyarakat Jawa mengenal banyak sumber karbohidrat yang ditanam atau disediakan alam di sekitar mereka. Salah satunya yang sedang naik daun dan diperbincangkan orang-orang adalah umbi-umbian. Karbohidrat yang tersimpan dalam bentuk umbi ini telah lama menjadi salah satu sumber pangan penting bagi masyarakat Jawa. Beragam jenis umbi dimanfaatkan dan diolah sebagai bahan makanan sehari-hari, mulai dari dikukus, direbus, digoreng, hingga menjadi aneka hidangan khas yang berselera.

Keanekaragaman pangan tersebut juga tercermin dalam bahasa Jawa melalui berbagai kosakata untuk menyebut jenis-jenis umbi. Yuk, kenali berbagai nama umbi pangan dalam bahasa Jawa dan aksara Jawa, serta nama Latin dari masing-masingnya; dibagi ke dalam dua kategori besar, yakni tanaman asli Indonesia dan tanaman yang diintroduksi dari luar Indonesia.

TANAMAN ASLI INDONESIA


Bentul
ꦧꦼꦤ꧀ꦠꦸꦭ꧀
Colocasia esculenta

Dalam bahasa Jawa juga dikenal sebagai tales dan dalam bahasa Indonesia dikenal dengan sebutan talas. Salah satu umbi yang paling umum dijumpai di pasaran.


Suweg
ꦱꦸꦮꦼꦒ꧀
Amorphophallus paeoniifolius


Porang
ꦥꦺꦴꦫꦁ
Amorphophallus muelleri


Gembili
ꦒꦼꦩ꧀ꦧꦶꦭꦶ
Dioscorea esculenta


Gembolo
ꦒꦼꦩ꧀ꦧꦺꦴꦭꦺꦴ
Dioscorea bulbifera


Uwi
ꦲꦸꦮꦶ
Dioscorea alata


Gadhung
ꦒꦝꦸꦁ
Dioscorea hispida


Kleci
ꦏ꧀ꦭꦼꦕꦶ
Coleus rotundifolius

Dalam bahasa Jawa juga dikenal sebagai kenthang ireng.


Sénthé
ꦱꦺꦟ꧀ꦛꦺ
Alocasia macrorrhizos

Tergolong susah untuk mengolahnya menjadi bahan pangan yang aman dikonsumsi.



TANAMAN INTRODUKSI


Kimpul
ꦏꦶꦩ꧀ꦥꦸꦭ꧀
Xanthosom sagittifolium


Kenthang
ꦏꦼꦟ꧀ꦛꦁ
Solanum tuberosum


Ganyong
ꦒꦚꦺꦴꦁ
Canna indica


Pohung
ꦥꦺꦴꦲꦸꦁ
Manihot esculenta

Dalam bahasa Jawa juga dikenal sebagai kaspé dan beberapa nama lain.


Garut
ꦒꦫꦸꦠ꧀
Maranta arundinacea


Besusu
ꦧꦼꦱꦸꦱꦸ
Pachyrhizus erosus

Dalam bahasa Jawa juga dikenal sebagai bengkowang.


téla rambat
ꦠꦺꦭ​ꦫꦩ꧀ꦧꦠ꧀
Ipomoea batatas


Ada beberapa nama lain yang berkenaan dengan umbi pangan di Jawa, namun berbagai sumber memiliki pendapat yang beraneka ragam tentang tumbuhan apa sebenarnya dari sebutan-sebutan berikut, atau mungkin lebih merupakan sinonim atau variasi dialek saja: iles-iles, walur, compleng, coklok, katak, dan masih banyak lagi.

Senin, 31 Maret 2025

Melihat Poster Muktamar Muhammadiyah dari Masa ke Masa

Muhammadiyah (secara harfiah bermakna "pengikut Muhammad") adalah sebuah lembaga Islam di Indonesia yang didirikan oleh K.H. Ahmad Dahlan pada 1912 di Yogyakarta, Hindia Belanda. Lembaga ini bergerak di bidang pendidikan, kesehatan, dan sosial dengan tujuan memajukan masyarakat melalui ajaran Islam yang bersifat lebih modern dan murni. Hingga kini, Muhammadiyah telah mendirikan ribuan sekolah, perguruan tinggi, rumah sakit, dan panti asuhan di seluruh Indonesia.

Setiap lima tahun sekali (sebelumnya setiap tahun dan tiga tahun sekali), Muhammadiyah mengadakan muktamar atau kongres tertinggi untuk membahas kebijakan strategis, arah gerakan, serta memilih ketua umum yang baru. Sejak 1912 hingga 2024, terhitung Muhammadiyah telah melaksanakan sebanyak 48 kali. Setiap kongresnya, Muhammadiyah mengeluarkan poster sebagai keperluan penyiaran dan publikasi kepada masyarakat. Yuk intip beberapa poster Muktamar Muhammadiyah dari masa ke masa!

14-21 Maart 1930, Boekittinggi
Congres Moehammadijah ke-19


Muktamar Muhammadiyah ke-19 yang diselenggarakan di Bukittinggi pada 14-21 Maret 1930 menggambarkan dua orang di tepi pantai melihat ke arah kapal dan surya bersinar bertuliskan Muhammadiyah dalam aksara Arab. Ada gambaran rumah gadang di sisi kanan poster. Uniknya, pada judul poster ditambahkan kata "Minangkabau" yang barangkali untuk menegaskan bahwa muktamar kali ini diselenggarakan di Tanah Minangkabau.

8-16 Mei 1931, Djogja
Congres Moehammadijah ke-20


Muktamar Muhammadiyah ke-20 yang diselenggarakan di Yogyakarta pada 8-16 Mei 1931 menggambarkan sosok Pangeran Diponegoro menunjuk ke arah Masjid Gedhé Kauman dengan latar belakang Gunung Merapi yang mengeluarkan asap. Penggambaran Diponegoro digunakan untuk memperingati seabad Perang Jawa yang berlangsung pada 1825 hingga 1830. Terdapat pula tulisan Arab berbunyi "Hayya 'alal falah" yang bermakna "Marilah kita menuju kemenangan".

Sebuah keunikan lainnya, jika diamati, rangkaian huruf i-j pada kata Moehammadijah terlihat istimewa, huruf i tampak sedikit menumpang pada badan huruf j. Hal ini bukanlah kesalahan, melainkan merupakan praktik tipografi khas Belanda yang disebut diagraf atau ligatur IJ. Adakalanya kedua huruf tersebut malah disambung menjadi satu sehingga tampak seperti huruf y pada penulisan huruf miring.

1-7 Mei 1932, Makasser
Congres Moehammadijah ke-21

Muktamar Muhammadiyah ke-21 yang diselenggarakan di Makassar pada 1-7 Mei 1932 memiliki sesuatu yang istimewa. Poster ini mungkin merupakan poster muktamar satu-satunya yang menampilkan salah satu aksara Nusantara, yakni aksara Lontara, pada posternya. Tulisan tersebut tercetak ᨀᨚᨃᨛᨑᨙᨔᨛ ᨆᨘᨖᨆᨉᨗᨐ ko-ngkê-ré-sê mu-ha-ma-di-ya. Hal ini kemungkinan menimbang tingkat melek aksara Bugis-Makassar yang cukup tinggi di masa tersebut di daerah Sulawesi Selatan.

21-28 Juli 1936, Betawi
Congres Moehammadijah ke-25 (Seperempat Abad)



Muktamar Muhammadiyah seperempat abad yang diselenggarakan di Betawi (Jakarta) pada 21-28 Juli 1936 menggambarkan kereta api dan masjid kecil di belakangnya. Tak terlupa juga ada surya Muhammadiyah di langit sedang memancarkan sinarnya. Penggambaran kereta api di sini bisa dimaknai bahwa perjalanan menuju Batavia oleh peserta kongres kebanyakan menggunakan kereta api. Kereta api di Pulau Jawa sangat bisa diandalkan sebagai moda angkutan darat dan menghubungkan banyak kota besar dan kecil di seluruh Jawa.


7-12 Januari 1941, Djogja
Congres Moehammadijah ke-29

Masih segaya dengan beberapa poster sebelumnya, poster Muktamar Muhammadiyah ke-29 yang diselenggarakan di Yogyakarta pada 7-12 Januari 1941 menggambarkan petani yang sedang membajak sawah dengan dua ekor kerbau. Di sisi lain ada penggambaran industrialisasi berupa roda gigi di belakang bapak petani dan gedung besar beserta masjid di latarnya.


24-29 Dec. 1941, Poerwokerto
Congres Moehammadijah ke-30
Mirip dengan poster keluaran sebelumnya, sosok petani masih menjadi "tokoh utama" yang disorot dalam poster Muktamar Muhammadiyah ke-30 yang diselenggarakan di Purwokerto, Banyumas, pada 24-29 Desember 1941 ini. Uniknya, caping yang dikenakan oleh petani pada poster tidak seperti topi caping pada umumnya di Jawa, melainkan lebih mirip seperti caping khas Kalimantan Selatan yang disebut tanggui.


8-11 Juli 2000, Jakarta
Muktamar Muhammadiyah ke-44

Muktamar Muhammadiyah Jakarta 2000 adalah kongres pertama yang dilaksanakan pada milenium kedua tahun Masehi. Posternya memiliki kesan yang jauh lebih modern dan minimalis daripada poster-poster awal muktamar Muhammadiyah yang kaya akan unsur ilustrasi. Terlihat angka 44 berpadu dengan ikon Monumen Nasional dalam warna merah, putih, dan emas, dengan latar surya Muhammadiyah di belakangnya.

Minggu, 30 Maret 2025

Nama-nama Bulan Hijriah dalam Bahasa Madura

Penanggalan Hijriah telah dikenal oleh masyarakat Muslim di Nusantara sejak ratusan tahun yang lalu. Seiring dengan berkembangnya Islam di berbagai wilayah, nama-nama bulan Hijriah turut digunakan dalam beragam bahasa daerah. Dalam prosesnya, istilah yang berasal dari bahasa Arab tersebut dapat mengalami penyesuaian bunyi dan bentuk agar lebih sesuai dengan kebiasaan pengucapan serta kaidah bahasa setempat.

Hal serupa juga dapat ditemukan dalam bahasa Madura. Nama-nama bulan Hijriah yang digunakan oleh masyarakat Madura menunjukkan adanya penyesuaian dengan karakteristik bahasa setempat. Bentuk-bentuk ini menjadi salah satu contoh bagaimana kosakata keagamaan dari bahasa Arab berbaur dengan bahasa dan kebudayaan lokal di Nusantara. Yuk, kenali nama-nama bulan Hijriah dalam bahasa Madura!

Berikut adalah daftar 12 nama bulan Hijriah dalam bahasa Indonesia, disandingkan dengan penyebutannya dalam bahasa Madura beserta tulisan aksara Maduranya:


Muharam
ꦱꦺꦴꦫ/ꦩꦸꦲꦂꦫꦺꦴꦩ꧀
Sora/Muharrom


Safar
ꦱꦥ꧀ꦥꦂ
Sappar


Rabiulawal
ꦩꦺꦴꦭꦺꦴꦢ꧀
Molod


Rabiulakhir
ꦫꦱꦺꦴꦭ꧀
Rasol


Jumadilawal
ꦩꦤ꧀ꦢꦶꦩꦮ꧀ꦮꦭ꧀
Mandimawwâl


Jumadilakhir
ꦩꦤ꧀ꦢꦶꦭ꧀ꦲꦲꦺꦂ
Mandilahèr


Rajab
ꦉꦗ꧀ꦗꦼꦥ꧀
Rejjhep


Syakban
ꦉꦧ꧀ꦧ/ꦱꦃꦧꦤ꧀
Rebbâ/Sa'bân


Ramadan
ꦥꦱ
Pasa


Syawal
ꦱꦧꦭ꧀/ꦠꦺꦴꦔꦫꦺ
Sabâl/Tongarè


Zulkaidah
ꦠꦏꦺꦥꦺꦃ/ꦗ꦳ꦸꦭ꧀ꦏꦲꦶꦢ
Takèpè'/Zulkaidâ


Zulhijah
ꦫꦺꦫꦗ/ꦗ꦳ꦸꦭ꧀ꦲꦶꦗ꧀ꦗ꧀ꦗ
Rèrajâ/Zulhijjâ


Ditulis kembali dari kiriman media sosial Komunitas Wikimedia Madura.

Kamis, 27 Februari 2025

Nama-nama Bulan Hijriah dalam Bahasa Makassar

Kalender Hijriah telah dikenal dan digunakan oleh masyarakat Muslim di Nusantara sejak ratusan tahun yang lalu. Dalam prosesnya, nama-nama bulan yang berasal dari bahasa Arab turut masuk ke dalam berbagai bahasa daerah dan mengalami penyesuaian dengan kebiasaan pengucapan masyarakat setempat. Perubahan tersebut menunjukkan bagaimana istilah dari luar dapat berbaur dan menjadi bagian dari kosakata bahasa lokal.

Hal ini juga dapat dijumpai dalam bahasa Makassar. Nama-nama bulan Hijriah dalam bahasa Makassar memiliki bentuk penyebutan yang telah disesuaikan dengan kebiasaan berbahasa masyarakatnya. Bentuk-bentuk tersebut menjadi salah satu jejak pertemuan antara bahasa Arab, tradisi Islam, dan bahasa lokal di Nusantara. Yuk, kenali bagaimana nama-nama bulan Hijriah dilokalkan dalam bahasa Makassar!

Berikut adalah daftar 12 nama bulan Hijriah dalam bahasa Indonesia, disandingkan dengan penyebutannya dalam bahasa Makassar beserta tulisan aksara Lontaranya:


Muharam
ᨆᨘᨖᨑ
Muharrang


Safar
ᨔᨄᨑ
Sapparak


Rabiulawal
ᨑᨅᨙᨒᨙ ᨕᨕᨘᨓᨒ
Rabbelek Auwalak


Rabiulakhir
ᨑᨅᨙᨒᨙ ᨕᨖᨙᨑᨙ
Rabbelek Aherek


Jumadilawal
ᨐᨘᨆᨉᨙᨒᨙ ᨕᨕᨘᨓᨒ
Jumadelek Auwalak


Jumadilakhir
ᨐᨘᨆᨉᨙᨒᨙ ᨕᨖᨙᨑᨙ
Jumadelek Aherek


Rajab
ᨑᨍ
Rakjak


Syakban
ᨔᨅ
Sabang


Ramadan
ᨑᨘᨆᨒ
Rumallang


Syawal
ᨔᨕᨘᨓᨒ
Sauwalak


Zulkaidah
ᨉᨚᨒᨚᨀᨕᨙᨉ
Dolokaeda


Zulhijah
ᨉᨚᨒᨚᨕᨐᨗ
Doloajji



Minggu, 09 Februari 2025

Nama-nama Bulan Hijriah dalam Bahasa Gorontalo

Kalender Hijriah telah dikenal oleh masyarakat Muslim di Nusantara sejak ratusan tahun yang lalu. Seiring penyebarannya, nama-nama bulan dalam kalender Hijriah turut beradaptasi dengan bahasa-bahasa yang digunakan oleh masyarakat setempat. Penyesuaian tersebut dapat terlihat dari perubahan bunyi maupun bentuk kata agar lebih sesuai dengan kebiasaan pengucapan dalam bahasa daerah.

Hal serupa juga dapat ditemukan dalam bahasa Gorontalo. Nama-nama bulan Hijriah yang berasal dari bahasa Arab mengalami pelokalan dalam penggunaannya di tengah masyarakat Gorontalo. Bentuk-bentuk tersebut menjadi salah satu contoh bagaimana pengaruh Islam berinteraksi dengan bahasa dan kebudayaan lokal. Yuk, kenali bagaimana nama-nama bulan Hijriah dilokalkan dalam bahasa Gorontalo!

Berikut adalah daftar 12 nama bulan Hijriah dalam bahasa Indonesia, disandingkan dengan penyebutannya dalam bahasa Gorontalo:


Muharam
Muhaaramu


Safar
Sapari


Rabiulawal
Rabi'ul Awuwali


Rabiulakhir
Rabi'ul Aahiri


Jumadilawal
Jumadil Awuwali


Jumadilakhir
Jumadil Aahiri


Rajab
Rijibu


Syakban
Sa'abani


Ramadan
Ramadani


Syawal
Sawuwali


Zulkaidah
Duluka'ida


Zulhijah
Haji



Kamis, 30 Januari 2025

Nama-nama Bulan Hijriah dalam Bahasa Aceh

Kalender Hijriah telah dikenal oleh masyarakat Muslim di Nusantara sejak ratusan tahun yang lalu. Seiring penyebarannya, nama-nama bulan dalam kalender Hijriah turut beradaptasi dengan bahasa-bahasa yang digunakan oleh masyarakat setempat. Penyesuaian tersebut dapat terlihat dari perubahan bunyi maupun bentuk kata agar lebih sesuai dengan kebiasaan pengucapan dalam bahasa daerah.

Hal serupa juga dapat ditemukan dalam bahasa Aceh. Nama-nama bulan Hijriah yang berasal dari bahasa Arab mengalami pelokalan dalam penggunaannya di tengah masyarakat Aceh. Bentuk-bentuk tersebut menjadi salah satu contoh bagaimana pengaruh Islam berinteraksi dengan bahasa dan kebudayaan lokal. Yuk, kenali bagaimana nama-nama bulan Hijriah dilokalkan dalam bahasa Aceh!

Berikut adalah daftar 12 nama bulan Hijriah dalam bahasa Indonesia, disandingkan dengan penyebutannya dalam bahasa Aceh:


Muharam
Asan Usén


Safar
Sapha


Rabiulawal
Molôd Phôn


Rabiulakhir
Molôd Teungoh


Jumadilawal
Molôd Akhé


Jumadilakhir
Khanduri Boh Kayèe


Rajab
Khanduri Apam


Syakban
Khanduri Bu


Ramadan
Puasa


Syawal
Uroe Raya


Zulkaidah
Meuapét


Zulhijah
Haji



Sabtu, 11 Januari 2025

Nama-nama Bulan Hijriah dalam Bahasa Bugis

Kalender Hijriah telah dikenal oleh masyarakat Muslim di Nusantara sejak ratusan tahun yang lalu. Dalam perjalanannya, nama-nama bulan dalam kalender ini tidak selalu digunakan persis seperti bentuk Arabnya. Di berbagai daerah, nama-nama tersebut mengalami pelokalan, baik melalui penyesuaian bunyi, ejaan, maupun bentuk kata agar sesuai dengan kebiasaan dan kaidah bahasa setempat.

Salah satu contohnya dapat ditemukan dalam bahasa Bugis. Masyarakat Bugis memiliki bentuk penyebutan tersendiri untuk nama-nama bulan Hijriah yang memperlihatkan bagaimana istilah keagamaan dari bahasa Arab beradaptasi dengan sistem kebahasaan lokal. Lalu, seperti apa bentuk nama-nama bulan Hijriah dalam bahasa Bugis, dan bagaimana bentuk tersebut berbeda dari nama Arabnya? Yuk, kenali lebih jauh jejak pelokalan kalender Hijriah dalam bahasa Bugis!

Berikut adalah daftar 12 nama bulan Hijriah dalam bahasa Indonesia, disandingkan dengan penyebutannya dalam bahasa Bugis beserta tulisan aksara Lontaranya:


Muharam
ᨆᨘᨖᨑ
Muharrang


Safar
ᨔᨄᨑᨛ
Sapareng


Rabiulawal
ᨑᨅᨗᨕᨘᨒᨛ ᨕᨓᨒᨗ
Rabiule Awali


Rabiulakhir
ᨑᨅᨗᨕᨘᨒᨛ ᨕᨖᨗᨑᨗ
Rabiule Ahiri


Jumadilawal
ᨍᨘᨆᨉᨗᨒᨛ ᨕᨓᨒᨗ
Jumadile Awali


Jumadilakhir
ᨍᨘᨆᨉᨗᨒᨛ ᨕᨖᨗᨑᨗ
Jumadile Ahiri


Rajab
ᨑᨍ
Rajjaq


Syakban
ᨔᨅ
Sabang


Ramadan
ᨑᨆᨒ
Ramalang


Syawal
ᨔᨓᨒᨛ
Sawwaleng


Zulkaidah
ᨔᨘᨒᨛᨀᨕᨙᨉ
Sulekaeda


Zulhijah
ᨔᨘᨒᨛᨖᨍᨗ
Sulehajji



Selasa, 31 Desember 2024

Nama-nama Bulan Hijriah dalam Bahasa Jawa

Kalender Hijriah telah dikenal oleh masyarakat Muslim di Nusantara sejak ratusan tahun yang lalu. Seiring dengan berkembangnya Islam di berbagai wilayah, nama-nama bulan dalam kalender Hijriah turut digunakan dalam bahasa-bahasa daerah. Dalam penggunaannya, istilah yang berasal dari bahasa Arab tersebut dapat mengalami penyesuaian bunyi, ejaan, maupun bentuk kata agar selaras dengan kebiasaan dan kaidah bahasa setempat.

Dalam bahasa Jawa, misalnya, nama-nama bulan Hijriah memiliki bentuk penyebutan yang telah beradaptasi dengan tradisi kebahasaan masyarakat Jawa. Selain menjadi bagian dari kosakata sehari-hari, nama-nama tersebut juga dapat ditemukan dalam berbagai tradisi dan penanggalan yang berkembang di Jawa. Lalu, seperti apa bentuk nama-nama bulan Hijriah dalam bahasa Jawa? Yuk, kenali bentuk-bentuk pelokalan nama bulan Hijriah dalam bahasa Jawa!

Berikut adalah daftar 12 nama bulan Hijriah dalam bahasa Indonesia, disandingkan dengan penyebutannya dalam bahasa Jawa beserta tulisan aksara Jawanya:


Muharam
ꦱꦸꦫ
Sura


Safar
ꦱꦥꦂ
Sapar


Rabiulawal
ꦩꦸꦭꦸꦢ꧀
Mulud


Rabiulakhir
ꦧꦏ꧀ꦢꦩꦸꦭꦸꦢ꧀
Bakdamulud


Jumadilawal
ꦗꦸꦩꦢꦶꦭ꧀ꦲꦮꦭ꧀
Jumadilawal


Jumadilakhir
ꦗꦸꦩꦢꦶꦭ꧀ꦲꦏꦶꦂ
Jumadilakir


Rajab
ꦉꦗꦼꦧ꧀
Rejeb


Syakban
ꦫꦸꦮꦃ
Ruwah


Ramadan
ꦥꦱ
Pasa


Syawal
ꦱꦮꦭ꧀
Sawal


Zulkaidah
ꦲꦥꦶꦠ꧀
Apit


Zulhijah
ꦧꦼꦱꦂ
Besar



Minggu, 29 Desember 2024

25 Pepatah Sunda dengan Arti dan Aksara Sunda II

Peribahasa atau pepatah bahasa Sunda merupakan bagian penting dari budaya dan tradisi masyarakat Sunda di Indonesia. Peribahasa Sunda memuat kekayaan ungkapan, kebijaksanaan, dan nilai-nilai budi pekerti yang diajarkan turun-temurun. Melalui peribahasa, orang Sunda mampu menjaga dan melestarikan gagasan dalam kebudayaan mereka, serta mendapatkan pengetahuan dari pengalaman masa lalu untuk diterapkan di kehidupan sehari-hari. Mari kenali 25 pepatah atau peribahasa Sunda berikut ini.


ᮃᮛᮤ ᮃᮌᮙ ᮒᮦᮂ ᮊᮥᮓᮥ ᮏᮩᮀ ᮓᮛᮤᮌᮙ.

Ari agama téh kudu jeung darigama.
Kalau agama itu harus dengan adat istiadat.
— Aturan agama harus berbarengan dengan aturan adat yang berlaku dalam masyarakat.


ᮃᮞ ᮊᮌᮥᮔ᮪ᮒᮥᮛᮔ᮪ ᮙᮓᮥ, ᮊᮅᮛᮥᮌᮔ᮪ ᮙᮨᮑᮔ᮪ ᮘᮧᮓᮞ᮪.

Asa kagunturan madu, kaurugan menyan bodas.
Terasa kebanjiran madu, tertimpa kemenyan putih.
— Mendapatkan kebahagiaan dan keberuntungan yang luar biasa.


ᮘᮒᮧᮊ᮪ ᮘᮥᮜᮥ ᮉᮞᮤ ᮙᮓᮥ.

Batok bulu eusi madu.
Tempurung kelapa berisikan madu.
— Seseorang yang berpenampilan tidak menarik, tetapi memiliki ilmu pengetahuan atau budi pekerti yang baik.


ᮘᮨᮓᮧᮌ᮪ ᮙᮤᮔ᮪ᮒᮥᮜ᮪ ᮙᮥᮔ᮪ ᮓᮤᮃᮞᮂ ᮜᮅᮔ᮪-ᮜᮅᮔ᮪ ᮏᮓᮤ ᮞᮩᮊᮩᮒ᮪.

Bedog mintul mun diasah laun-laun jadi seukeut.
Golok yang tumpul kalau diasah lama-lama menjadi tajam.
— Seseorang yang kurang terampil pun jika rajin berlatih akan jadi terampil juga.


ᮘᮧᮌ ᮕᮤᮊᮤᮁ ᮛᮀᮊᮨᮕᮔ᮪.

Boga pikir rangkepan.
Punya pikiran yang berlapis-lapis.
— Jangan mudah percaya begitu saja kepada orang lain, harus dipikirkan dan diperika beberapa kali terlebih dahulu.


ᮎᮄ ᮓᮤ ᮠᮤᮜᮤᮁ ᮙᮂ ᮊᮥᮙᮠ ᮒᮤ ᮌᮤᮛᮀᮔ.

Cai di hilir mah kumaha ti girangna.
Air di hilir sebagaimana air di hulunya.
— Rakyat/bawahan biasanya akan mencontoh perilaku pemimpin/atasannya.


ᮓᮤᮠᮤᮔ᮪ ᮕᮤᮔᮞ᮪ᮒᮤ ᮃᮑᮁ ᮕᮤᮔᮀᮌᮤᮂ.

Dihin pinasti anyar pinanggih.
Sudah dipastikan baru ditemukan.
— Segala yang akan terjadi sesungguhnya sudah ditetapkan oleh Tuhan YME.


ᮓᮧᮌᮧᮀ-ᮓᮧᮌᮧᮀ ᮒᮥᮜᮊ᮪ ᮎᮅ, ᮌᮩᮞ᮪ ᮌᮨᮓᮦ ᮓᮤᮒᮥᮃᮁ ᮊᮥ ᮘᮒᮥᮁ.

Dogong-dogong tulak cau, geus gedé dituar ku batur.
Menyangga pohon pisang, tetapi ketika pohonnya berbuah diambil orang lain.
— Berniat menikahi seseorang dari lama, tetapi kemudian seseorang itu malah menikah dengan orang lain.


ᮆᮜ᮪ᮙᮥ ᮒᮥᮀᮒᮥᮒ᮪ ᮓᮥᮑ ᮞᮤᮃᮁ, ᮞᮥᮊᮔ᮪-ᮞᮥᮊᮔ᮪ ᮞᮊᮓᮁᮔ.

Élmu tungtut dunya siar, sukan-sukan sakadarna.
Ilmu dituntut, dunia dicari, bersenang-senang sekadarnya.
— Seseorang hendaknya menuntut ilmu, mencari harta benda, dan bersuka ria sewajarnya.


ᮄᮔ᮪ᮓᮥᮀ ᮒᮥᮀᮌᮥᮜ᮪ ᮛᮠᮚᮥ, ᮘᮕ ᮒᮀᮊᮜ᮪ ᮓᮛᮏᮒ᮪.

Indung tunggul rahayu, bapa tangkal darajat.
Ibu pangkal keselamatan, ayah pohon derajat.
— Berbakti kepada orang tua membuat anak selamat dan meraih apa yang diinginkan.


ᮜᮩᮜᮩᮞ᮪ ᮏᮩᮏᮩᮁ ᮜᮤᮃᮒ᮪ ᮒᮜᮤ.

Leuleus jeujeur liat tali.
Tali pancing lentur, tali liat (tidak mudah putus).
— Menyikapi suatu persoalan dengan pertimbangan yang matang dan bijaksana.


ᮜᮧᮘ ᮜᮥᮃᮀ ᮏᮩᮀ ᮓᮜᮥᮃᮀ.

Loba luang jeung daluang.
Memiliki pengalaman dan kertas.
— Seseorang yang mendapatkan pengetahuan dari pengalaman (praktik) dan membaca (teori).


ᮜᮧᮓᮧᮀ ᮊᮧᮞᮧᮀ ᮍᮨᮜᮨᮔ᮪ᮒᮢᮥᮀ.

Lodong kosong ngelentrung.
Ruas bambu kosong nyaring bunyinya.
— Orang yang tidak memiliki ilmu tetapi banyak bicara.


ᮙᮔᮥᮊ᮪ ᮠᮤᮘᮨᮁ ᮊᮥ ᮏᮀᮏᮀᮔ, ᮏᮜ᮪ᮙ ᮠᮤᮛᮥᮕ᮪ ᮊᮥ ᮃᮊᮜ᮪ᮔ.

Manuk hiber ku jangjangna, jalma hirup ku akalna.
Burung terbang dengan sayapnya, orang hidup dengan akalnya
— Setiap makhluk telah dilengkapi dengan kemampuan untuk melangsungkan kehidupannya.


ᮙᮦᮘᮦᮁ-ᮙᮦᮘᮦᮁ ᮒᮧᮒᮧᮕᮧᮀ ᮠᮩᮛᮩᮒ᮪.

Mébér-mébér totopong heureut.
Membuka ikat kepala yang sempit.
— Mengatur pendapatan yang kecil agar bisa mencukupi kebutuhan.


ᮙᮤᮔ᮪ᮓᮤᮍᮔ᮪ ᮘᮩᮍᮩᮒ᮪ ᮊᮥ ᮞᮝᮩᮚ᮪.

Mindingan beungeut ku saweuy.
Menghalangi wajah dengan jaring.
— Berpura-pura tidak melihat kesalahan seseorang.


ᮍᮓᮦᮊ᮪ ᮞᮎᮦᮊ᮪ᮔ, ᮔᮤᮜᮞ᮪ ᮞᮕᮣᮞ᮪ᮔ.

Ngadék sacékna, nilas saplasna.
Menebas dalam sekali tebas, menetak dalam sekali tetak.
— Berbicara apa adanya tanpa dikurangi atau dilebih-lebihkan.


ᮍᮜᮥᮀᮊᮩᮔ᮪ ᮊᮥᮚ ᮊ ᮜᮩᮝᮤ.

Ngalungkeun kuya ka leuwi.
Melemparkan kura-kura ke sungai.
— Mengembalikan seseorang ke kampung halamannya.


ᮍᮨᮓᮥᮊ᮪ ᮎᮤᮊᮥᮁ ᮊᮥᮓᮥ ᮙᮤᮠᮒᮥᮁ, ᮑᮧᮊᮦᮜ᮪ ᮏᮠᮦ ᮊᮥᮓᮥ ᮙᮤᮎᮛᮦᮊ᮪, ᮍᮌᮦᮌᮦᮜ᮪ ᮊᮥᮓᮥ ᮘᮦᮝᮛ.

Ngeduk cikur kudu mihatur, nyokél jahé kudu micarék, ngagégél kudu béwara.
Mengeduk kencur harus meminta izin, mencongkel jahe harus bicara, menggoyangkan pohon berbuah harus memberi tahu.
— Semua urusan yang menyangkut orang lain harus berlandaskan pesetujuan bersama.


ᮍᮥᮊᮥᮁ ᮊ ᮊᮥᮏᮥᮁ, ᮔᮤᮙ᮪ᮘᮀ ᮊ ᮃᮝᮊ᮪.

Ngukur ka kujur, nimbang ka awak.
Mengukur ke badan, menimbang ke tubuh.
— Harus mengenali dan menyadari kemampuan diri sendiri.


ᮞᮤᮛᮥᮀ ᮍᮜᮤᮝᮒᮔ᮪ ᮒᮥᮀᮌᮥᮜ᮪.

Sirung ngaliwatan tunggul.
Tunas tumbuh lebih tinggi dari pangkal pohon.
— Anak yang memiliki harta atau kedudukan lebih tinggi dari orangtuanya.


ᮞᮥᮜᮥᮂ ᮘᮨᮞᮨᮙ᮪ ᮇᮌᮦ ᮃᮛᮤ ᮓᮤᮃᮞᮥᮁ-ᮃᮞᮥᮁ ᮙᮂ ᮠᮥᮛᮥᮀ.

Suluh besem ogé ari diasur-asur mah hurung.
Kayu bakar basah kalau dimasukkan ke dalam api juga akan menyala.
— Orang yang sabar kalau dihina berlebihan juga akan marah.


ᮒᮎᮔ᮪ ᮃᮚ ᮔᮥ ᮍᮔ᮪ᮏᮀ ᮊ ᮕᮌᮦᮒᮧ.

Tacan aya nu nganjang ka pagéto.
Belum ada yang berkunjung ke hari lusa.
— Tidak ada yang tahu tentang apa yang terjadi di masa depan.


ᮒᮩ ᮌᮨᮓᮌ᮪ ᮘᮥᮜᮥ ᮞᮜᮙ᮪ᮘᮁ.

Teu gedag bulu salambar.
Tidak goyah walau satu bulu pun.
— Tidak takut sedikit pun akan ancaman musuh.


ᮒᮩ ᮎᮥᮉᮒ᮪ ᮊ ᮔᮥ ᮠᮤᮓᮩᮀ, ᮒᮩ ᮕᮧᮔ᮪ᮒᮦᮀ ᮊ ᮔᮥ ᮊᮧᮔᮦᮀ.

Teu cueut ka nu hideung, teu ponténg ka nu konéng.
Tidak condong pada yang hitam, tidak miring pada yang kuning.
— Memperlakukan semua kalangan dengan adil dan tidak pilih kasih.


Catatan:

Aksara Sunda digital yang tertulis di sini mungkin memiliki masalah pengurutan aksara rarangkén panéléng (bunyi é) yang seharusnya berada di depan/kiri aksara ngalagena, bukan di belakang/kanannya.

Rabu, 28 Agustus 2024

Pilihan Peranti Lunak Gratis untuk Merancang Fontasi

Di era digital yang semakin berkembang, kebutuhan akan desain huruf atau fontasi menjadi semakin penting, baik untuk keperluan pengembangan merek, penerbitan, desain grafis, maupun pelestarian bahasa dan aksara lokal. Merancang fontasi secara mandiri kini semakin memungkinkan dengan adanya berbagai peranti lunak gratis yang menawarkan fitur lengkap serta antarmuka yang cukup ramah pengguna, khususnya bagi pemula yang sedang mencoba hal baru. Ada beberapa peranti lunak gratis yang mungkin dapat Anda manfaatkan untuk menciptakan fontasi pertama Anda, berikut di antaranya.

FontForge
FontForge adalah salah satu peranti lunak sumber terbuka alias open source yang paling banyak dikenal dalam dunia tipografi saat ini. Perangkat ini mendukung berbagai format font seperti TrueType (TTF), OpenType (OTF), dan PostScript. Meskipun tampilannya terkesan ketinggalan zaman dibandingkan dengan perangkat lunak yang lebih modern, FontForge tetap menjadi pilihan utama karena kestabilannya dan kelengkapan fiturnya, termasuk kemampuan pengeditan vektor dan fitur skrip untuk automasi. Pengguna yang sudah terbiasa dengan dunia desain grafis atau memiliki latar belakang teknis akan melihat FontForge dari segi fleksibilitasnya dalam merancang fontasi yang rumit maupun aksara-aksara tradisional yang unik.

Unduh FontForge lewat sini:
fontforge.org/en-US/downloads

Glyphr Studio
Sementara itu, bagi mereka yang mencari peranti yang lebih ringan dan mudah digunakan, Glyphr Studio dapat menjadi alternatif nan menarik. Berbeda dengan FontForge, Glyphr Studio merupakan peranti berbasis situs web yang tidak memerlukan pemasangan pada komputer, sehingga sangat praktis bagi pengguna non-profesional atau pemula yang ingin coba-coba dan belajar merancang huruf. Antarmukanya yang modern dan intuitif membuat proses desain terasa menyenangkan. Namun, karena fokusnya pada kemudahan akses, Glyphr Studio masih memiliki keterbatasan dalam hal fitur lanjutan seperti pengaturan penjarakan huruf, sehingga lebih cocok digunakan untuk proyek fontasi yang sederhana.

Kunjungi situs Glyphr Studio di:
www.glyphrstudio.com

BirfFont
Peranti lunak lainnya yang juga cukup populer adalah BirdFont. BirdFont menyediakan antarmuka yang rapi dan ramah pengguna, dengan fitur desain berbasis vektor yang mendukung pembuatan karakter dari awal maupun modifikasi karakter yang sudah ada. Aplikasi ini juga mendukung ekspor ke berbagai format font seperti TTF dan EOT, serta memungkinkan impor dari file SVG, yang sangat berguna bagi desainer yang bekerja dengan ilustrasi atau grafis berbasis vektor. BirdFont utamanya dapat diunduh dan digunakan secara gratis, tetapi ada beberapa fitur tambahan yang khusus diberikan kepada penggunaan komersial dengan harga yang miring. Perangkat ini sangat cocok bagi desainer perseorangan maupun komunitas yang ingin mengembangkan desain fontasi khusus.

Unduh BirdFont lewat sini:
birdfont.org/download

FontStruct
Salah satu peranti lunak yang cukup sering mendapat perhatian adalah FontStruct, sebuah layanan berbasis web yang memungkinkan pengguna untuk merancang fontasi menggunakan sistem modular berbasis grid, mirip sebuah permainan digital. FontStruct menggunakan pendekatan membangun huruf dari bentuk-bentuk geometris sederhana, yang menjadikannya sangat cocok untuk pemula, pendidik, atau bahkan anak-anak yang ingin memahami dasar-dasar bentuk huruf. Setelah desain selesai, pengguna bisa mengunduh hasil fontasi dalam format TrueType. Kelebihan lain dari FontStruct adalah adanya komunitas daring yang aktif berbagi dan mendiskusikan desain huruf, menjadikannya tempat belajar yang ramah dan membangun. Namun, kekurangannya adalah keterbatasan dalam hal fleksibilitas desain, terutama jika dibandingkan dengan peranti lunak vektor seperti FontForge atau BirdFont yang memungkinkan pengguna dengan bebas menggoreskan garis ke dalam bentuk-bentuk yang eksploratif.

Kunjungi situs FontStruct di:
fontstruct.com

Calligraphr
Tak kalah menarik ada Calligraphr, yang menawarkan pendekatan berbeda dari kebanyakan peranti lunak lainnya yang sudah disebutkan di atas. Calligraphr memungkinkan pengguna mengubah tulisan/gambaran tangan mereka sendiri menjadi fontasi digital. Cara kerjanya sangat mudah: (1) pengguna mengunduh dan mencetak kertas templat (sebenarnya bisa juga langsung diedit secara digital), (2) mengisi masing-masing kotak kosongnya sesuai dengan karakter, dan kemudian (3) memindai dan mengunggahnya kembali ke situs. Dari sini, sistem Calligraphr akan mengubah karakter-karakter tulisan tangan itu menjadi berkas fontasi yang bisa diunduh dan digunakan secara digital. Versi gratisnya sudah cukup mengesankan untuk kebutuhan dasar dan main-main, meskipun versi berbayarnya menawarkan lebih banyak kontrol seperti ligatur dan karakter alternatif. Calligraphr sangat cocok untuk desainer yang ingin menciptakan kreasi fontasi dengan nuansa identitas dan ekspresi pribadi, atau untuk proyek kreatif seperti undangan, komik, hingga penciptaan merek.

Kunjungi situs Calligraphr di:
www.calligraphr.com

BitFontMaker2
Terakhir, ada juga BitFontMaker2, sebuah alat daring yang dirancang khusus untuk membuat fontasi bergaya piksel. Sarana ini memungkinkan pengguna menggambar langsung pada kotak-kotak piksel untuk membentuk huruf, dan hasilnya bisa diunduh sebagai fontasi berformat TrueType. BitFontMaker2 ideal bagi mereka yang tertarik membuat fontasi retro bergaya 8-bit, misalnya untuk permainan digital, proyek seni dan desain, atau tampilan grafis bernuansa 1970-an. Walaupun sangat terbatas dalam hal keluwesan desain—karena hanya mendukung gaya piksel—perangkat ini menawarkan cara cepat dan menyenangkan untuk merancang bentuk huruf secara sederhana.

Kunjungi situs BitFontMaker2 di:
www.pentacom.jp/pentacom/bitfontmaker2

Sabtu, 11 Mei 2024

Perjalanan Lintas Waktu Tipografi Stasiun Tugu

Pada bulan April 2024, begitu saya turun dari Ranggajati di Stasiun Yogyakarta, mata saya langsung tertuju pada suatu papan tanda yang mungkin tidak banyak orang amati. Papan tanda itu adalah papan nama Stasiun Yogyakarta Pintu Timur (keberangkatan kereta api jarak jauh) yang bertuliskan “Jogjakarta”. Untuk pertama kalinya, saya menyadari bahwa fontasi yang digunakan pada papan nama itu sudah diganti dengan yang baru, menggunakan fontasi Arial khas dunia percetakan yang “asal cepat jadi”. Hanya beberapa hari sebelumnya, tulisan masihlah menggunakan desain yang lama. Saya langsung menyayangkan hal tersebut; bukan hanya karena penggunaan fontasi Arial yang terkesan tidak memiliki cita rasa, tetapi juga tergantikannya tipografi lama stasiun Yogyakarta yang ikonik dan memiliki nilai sejarah.

Sebelum digantikan, tipografi lama pada stasiun Yogyakarta menggunakan fontasi bergaya Seni Deko (Art Deco) dengan desain melonjong dan orientasi melebar ke samping; belum teridentifikasi nama fontasi yang digunakan atau malah merupakan sebuah karya kustom. Jika dipandang, corak tipografi ini seirama dengan keseluruhan tema arsitektur Stasiun Yogyakarta yang modern tetapi memiliki sentuhan dekorasi cantik di berbagai sudutnya. Kesemua huruf di papan nama lama disetel kapital dan diakhiri dengan satu tanda titik. Penambahan tanda titik pada papan nama stasiun adalah pengaturan yang tidak lumrah dan barangkali menjadi bernilai keunikan tersendiri. Tanda titik mungkin ditambahkan oleh pembuatnya agar tampak lebih seimbang antara sisi kanan dan sisi kiri dari keseluruhan bentang papan nama.

Dari penelusuran sumber-sumber fotografi lintas zaman, sejak didirikan pada 1887, Stasiun Yogyakarta atau yang juga dikenal sebagai Stasiun Tugu telah mengganti papan namanya berkali-kali. Catatan: tahun-tahun di bawah ini adalah tahun foto diambil atau dipublikasikan dan bukan merupakan tahun berubahnya papan nama stasiun Yogyakarta.

1886
Stasiun Yogyakarta atau Stasiun Tugu terlihat belum dipasangi papan nama. Bentuk gedungnya juga terlihat berbeda dengan yang kita kenali saat ini.

Foto Stasiun Yogyakarta atau Stasiun Tugu pada kurun waktu 1886, koleksi Rijksmuseum.

1935
Stasiun Yogyakarta atau Stasiun Tugu masih belum dipasangi papan nama. Akan tetapi, bentuk gedungnya sudah sama dengan yang kita kenali saat ini.

Stasiun Yogyakarta pada 1935. Foto dari Wikimedia Commons.

1972
Stasiun Yogyakarta telah memiliki papan nama yang tipografinya hampir sama dengan tipografi yang dikenal selama ini, tetapi dengan bentuk huruf yang lebih tegas dan bersudut. Media tipografi juga terlihat berbeda, menggunakan bidang logam yang dipasang ke dinding. Ejaan yang digunakan adalah “Jogjakarta” (terbaca Yogyakarta).

Foto tampak depan Stasiun Yogyakarta dan sebuah lokomotif. Foto oleh Frank Stamford.

1980
Tipografi papan nama Stasiun Yogyakarta berganti ke jenis huruf berkait (serif) dengan warna emas dan berlatar gelap. Ejaan yang digunakan tidak lagi “Jogjakarta” melainkan menggunakan huruf Y menjadi “Yogyakarta”. Penyesuaian ejaan ini mungkin dilakukan untuk berseleras dengan Ejaan yang Disempurnakan.

Stasiun Yogyakarta pada 1980. Foto oleh Agustin Wouters via akun Twitter ikirizky__.

2000-an Awal (?)
Papan nama Stasiun Yogyakarta berganti dengan tampilan fontasi berjenis nirkait (sans-serif). Kemungkinan papan ini adalah format pakem yang juga diterapkan di stasiun-stasiun lain, lengkap dengan logo KAI lama dan angka ketinggian stasiun di atas permukaan air laut. Ejaan yang digunakan adalah “Yogyakarta”.

Tidak ada informasi waktu pada foto di atas, tetapi kemungkinan pada permulaan tahun 2000-an.
Sumber foto dari Salimah Nur.

2008
Tipografi papan nama Stasiun Yogyakarta kembali berganti. Ejaan yang digunakan kembali ke “Jogjakarta”. Rancangan utamanya terlihat mengambil inspirasi dari papan nama yang pernah digunakan pada 1970-an. Huruf-hurufnya tidak terlalu timbul dan langsung menempel ke permukaan dinding tanpa adanya papan yang menjadi alas. Tipografi ini tampaknya merupakan desain yang bertahan hingga tahun 2024 dengan beberapa kali peremajaan.

Wajah Stasiun Yogyakarta pada 2008, terdapat dua papan nama.
Foto oleh Masgatotkaca.
Terdapat papan tambahan di bagian atas bertuliskan “Stasiun Yogyakarta”. Pada foto ini digunakan dua ejaan yang berbeda secara bersamaan.

Stasiun Yogyakarta 2013, foto oleh Crisco 1492.
2024
Fontasi papan nama Stasiun Yogyakarta yang telah digunakan beberapa tahun terakhir diganti ke fontasi Arial berwarna oranye. Hal ini merupakan salah satu dampak dari proyek “beautifikasi” alias pemugaran Stasiun Yogyakarta pada tahun 2024 yang berupaya memperindah berbagai aspek arsitektural dan tata letak stasiun ini.

Fasad Stasiun Yogyakarta pada 2024 setelah bagian papan namanya mendapatkan "beautifikasi".
Sumber foto dari akun Twitter Tirta Cipeng.
Penggantian gaya tipografi papan nama stasiun ini sempat ramai diperbincangkan di media sosial lantaran dianggap tidak selaras dengan kesatuan arsitektur bangunan. Jalur5, media dan komunitas seputar angkutan kereta api, juga memberitakan penggantian ini. Penggunaan fontasi Arial yang tampak wagu di antara unsur bangunan lawas menjadi pokok utama yang hangat dibicarakan. Jika menghendaki desain tipografi yang modern, pihak KAI sebenarnya bisa memanfaatkan fontasi korporat yang telah jamak digunakan untuk keperluan papan petunjuk jalan di area stasiun, yakni Circular Std.

2024 Terbaru
Setelah mendapatkan masukan dari warganet dan mungkin pihak-pihak lainnya, tidak selang berapa lama, papan nama Stasiun Yogyakarta kembali diubah. Namun kali ini rancangan papan nama tidak mengikuti desain tipografi sebelumnya yang digunakan pada contoh 1972 atau 2008 di atas, melainkan memanfaatkan desain yang sudah lama terpajang di bagian dalam Stasiun Yogyakarta.

Tampak depan Stasiun Yogyakarta terbaru yang bertahan hingga saat ini.
Sumber foto @hrpsatya. 
Desain sama persis mengacu pada tipografi papan nama bagian dalam Stasiun Yogyakarta yang bertuliskan “Yogyakarta”, tulisan berukuran besar yang akan terbaca begitu kereta memasuki area stasiun. Tulisan ini dipasang menempel ke dinding atas kawasan pertokoan dekat ruang tunggu penumpang. Rancangan fontasi terlihat tipis dan membulat dengan rupa huruf Y yang unik. Rancangan ini merupakan pilihan yang lebih bijaksana daripada menggunakan fontasi Arial yang sebelumnya dipakai.

Selingan

Keunikan bentuk huruf Y kapital yang agak terlihat seperti huruf y kecil pada tipografi papan nama Stasiun Yogyakarta kemungkinan besar diakibatkan oleh pergantian ejaan.

Huruf Y pada papan nama ini kemungkinan besar dulunya adalah huruf J yang kemudian diberi lengan tambahan,
menyesuaikan perubahan ejaan bahasa Indonesia dari huruf J → Y. Foto oleh akun Twitter @riloop.

Jika diamati lebih dekat, huruf Y pada papan nama di bagian dalam stasiun memiliki tambahan lengan yang tidak terlihat tertempel sempurna. Hal tersebut dapat dijadikan landasan bahwa tulisan mula-mulanya adalah “Jogjakarta” (menggunakan huruf J), tetapi kemudian mendapatkan lengan tambahan sehingga huruf J akan terbaca sebagai huruf Y. Penyesuaian tersebut dilakukan kemungkinan untuk menanggapi perubahan ejaan bahasa Indonesia dari Ejaan Republik yang masih kebelanda-belandaan ke Ejaan yang Disempurnakan (EYD).

Desain tipografi sering kali mampu menandai sebuah zaman. Kita bisa mengetahui kapan sebuah desain tipografi diciptakan atau era apa yang menginspirasinya. Penggunaan ulang desain tipografi warisan terdahulu untuk papan nama Stasiun Yogyakarta dapat dipahami sebagai upaya untuk mengingat dan menghadirkan kembali citra yang lebih sesuai dengan gaya arsitektur keseluruhan bangunan yang klasik. Dekorasi, kaca patri, tipografi, dan semua unsur menyatu bercerita kepada siapa yang mau melihat lebih dekat untuk melalui sebuah perjalanan waktu ketika memasuki Stasiun Tugu.

Selasa, 12 Maret 2024

Nama-nama Bunga dalam Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris

Bunga hadir dalam kehidupan sehari-hari dengan beragam bentuk, warna, dan aroma. Namun, tidak sedikit dari kita yang hanya mengenali ketampakan suatu bunga tanpa mengetahui namanya. Bahkan, dalam beberapa kasus, nama bunga dalam bahasa Inggris justru lebih akrab di telinga masyarakat Indonesia dibandingkan sebutan dalam bahasa Indonesianya.

Daftar ini mengajak Anda mengenal berbagai nama bunga dalam bahasa Indonesia dan bahasa Inggris. Selain menambah kekayaan kosakata, mengenal nama-nama bunga juga dapat membantu kita memahami warisan bahasa Indonesia serta menambah kemampuan kita untuk bisa menyebut nama-nama tumbuhan di sekitar kita dengan lebih tepat.


Melati
Jasmine


Anggrek
Orchid


Sedap Malam
Tuberose


Bunga Sepatu
Hibiscus


Bunga Bokor
Hydrangea


Kacapiring
Gardenia


Mawar
Rose


Bakung
Crinum lily


Anyelir
Carnation


Botan
Peony


Pakis Giwang
Christ thorn


Kenikir
Cosmos


Kuku Macan
Scarlet jade vine


Cempaka
Magnolia


Dahlia
Dahlia


Telang
Butterfly pea


Bungur
Crape myrtle


Kemboja
Frangipani


Kenanga
Cananga


Saliara
Lantana


Seroja
Lotus


Serunai
Chrysanth


Teratai
Water lily


Gemitir
Marigold


Bunga Tasbih
canna lilies


Sepit Udang
Heliconia


Bunga Merak/patrakomala
Poinciana